Humanisme dan Etika Religius


Oleh; Rifai

Analisa kedua terma diatas kurang banyak terekspos oleh para sarjana Islam. Seakan tenggelam dalam pembahasan yang melangit dan tak menyentuh realitas kehidupan dan nilai-nilai etik kemanusiaan, sedangkan yang ramai diperbincangkan teori metafisis teologi. Walaupun demikian, tidak sedikit para mutakallimin dan filosof Islam, yang sebenarnya jika ditelisik ulang dari nalarnya juga terkandung nilai-nilai humanis dan etis, tapi jarang disentuh saja. Sebagaimana jika mengulas nalar Imam Asy’ari, menyangkut perkara yang sangat mendasar dalam perbuatan dan nilai etik kemanusiaan.

Perkara yang sangat mendasar untuk dianalisis sebagai titik pijak nilai humanis dalam Islam, adalah mengenai perbuatan manusia itu sendiri. Apakah perbuatan manusia sudah ditentukan untuknya (majbur) atau kehendak mutlak melalui pilihan yang dipilihnya sendiri (ikhtiyar)? sebagian pemikir ada yang menilai Imam Asy’ari sebagai jabariyan, adapula yang menilai ikhtiyariyan, ada juga yang memandangnya moderat di tengah antara kedua pemahaman ini dengan pemahaman kasab-nya.

Untuk menjelaskan hal ini, harus merunut pada pemahaman pelaku hakiki, yang menjadikan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada (mukhrij min al-adam ila al-wujud). Tentu kriteria ini mengantarkan pada muhdits, Tuhan yang menjadikan sesuatu yang baru menjadi ada. Maka semua perbuatan dan kejadian, terdapat pada kekuasaan Tuhan, sebagai pelaku utama. Tentu bukan manusia, yang masih membutuhkan sesuatu untuk menjadikan dan melakukan sesuatu. Lalu dimana posisi kekuasaan manusia terhadap kekuasaan Tuhan itu? Kekuasaan manusia selalu bergandengan (isytirak) dengan kekuasaan Tuhan, sesuai dengan sejauh mana manusia berkuasa/mampu untuk merubah sesuatu. Hal ini membuktikan bahwa, manusia masih memiliki hak prerogatif, untuk merubah dan menggapai sesuatu sesuai kemampuan dan kuasanya. Walaupun kemampuan manusia terbatas, terkadang ia mampu dan tidak. Maka dengan demikian kemampuan manusia tidak bersumber dirinya sendiri, melainkan hanya pelengkap sebagai aksiden pada dirinya. Pada hakekatnya penjabaran dua kuasa ini tidaklah berseberangan, jika Tuhan kuasanya untuk menjadikan (yakhluq), sedangkan manusia kuasanya kemampuan melalui usaha (yaksub). Disinilah letak nalar humanisme religius yang secara fundamen terkandung dalam nalar imam Asy’ari. Dengan tetap menjadikan manusia sebagai manusia, yang memiliki kuasa dan kemampuan dengan batasannya. Tanpa menggadaikan kayakinan, akan kuasa mutlak Tuhan yang maha kuasa.

Sedangkan untuk menelusuri nilai etika dalam nalar imam Asy’ari, eksplorasinya berpusat pada pemahaman baik dan buruk, yang dijadikan standar umum untuk menentukan nilai sesuatu. Jika perbincangan para filosof etik, berkutat pada teori urgensi konstruk pemahaman baik dan buruk, kebebasan berkehendak beserta tanggung jawabnya. Dalam pandangan pemikir penganut mazhab imam Asy’ari, membincang posisi baik buruk bukan melalui pengetahuan teori baik dan buruk itu. Tapi disana ada kebaikan dan keburukan yang independen di luar akal. Bukan berarti pembahasan ini kontradiktif dengan rasio, bahkan bisa menjadi fokus akal termasuk di dalamnya.

Disinilah nalar etika Imam Asy’ari, pembahasan baik dan buruk yang sebenarnya terkonstruk dengan adanya pahala dan dosa. Pembahasan baik dan buruk ini bermuara pada apa yang membuat baik, dan apa yang membuat buruk, bukan pada pemahaman akal tentang baik dan buruk itu. Dan hal ini akan mengantarkan kepada adanya perintah dan larangan Tuhan. Tentu hal ini harus dipertegas dengan posisi nilai etika yang bermuara pada akal manusia, yang kemudian disadari menjadi kebaikan dan kebiasaan yang diikuti (al-‘adah wa taqlid) secara komunal tentunya. Dengan posisi nilai etika dari Tuhan yang memiliki nilai universal, sebagai pemegang utama tonggak dalam mengatur kehidupan manusia, dan yang menjadi kesadaran bagi manusia itu sendiri. Nilai etika ini yang dirancang untuk manusia dengan perintah dan larangan, yang disampaikan melalui para Rosul.

Kalau nilai etik sudah ditentukan melalui baik buruk, pahala dan dosa. Maka dimana letak kebebasan berkehendak dan tanggung jawab manusia? Sebenarnya tidak ada pengaruh antara ‘apa yang diperbuat’ dan ‘apa yang harus diperbuat manusia’, dalam kacamata imam Asy’ari. Sebab apa yang harus diperbuat manusia, tidak berpegang pada keadaan dan perangkat yang melingkupinya secara independen. Akan tetapi butuh perkara lain yang di luarnya, disinilah letak peran kehendak Tuhan dan ketetapanNya, melalui perintah dan laranganNya. Yang sebenarnya kembali pada diri manusia, bukan pengaruh sebagai perangkat terjadinyasesuatu. Disinilah manusia tak akan terlepas dengannya, untuk menentukan perbuatannya sesuai dengan tujuan kehendaknya. Oleh karena itu yang terjadi pada manusia adalah hanya mengikuti perbuatan (tabi’an) yang telah dikehendakinya sendiri, bukan dipaksa untuk diikuti (matbu’an). Dan tentu hati, yang akan menjadi pertimbangan primordial bagi imam Asy’ari ini.

*Disarikan dari kitab; Taammulat fi al-Fikri al-Falsafi inda al-Imam al-Asy’ari, karya Dr. Said Foudah.

Imam ibn Hanbal Pingsan bertanya kepada Ahli Sufi


Suatu ketika Imam Syafii dan muridnya Imam Ahmad bin Hanbal berjalan bersama, melihat Syaiban seorang pengembala yang ahli zuhud dan dikenal sebagai seorang sufi. Berkatalah Imam ibn Hanbal kepada imam Syafii; Mari, kita uji orang ini yang dipanggil sebagai seorang zuhud. Imam Sayfii berkata kepadanya; jangan, tinggalkanlah dia dengan urusannya.

Tapi imam ibn Hanbal memaksa untuk mengujinya, kemudian berkatalah kepada Syaiban; Wahai pengembala, berapa (zakat yang dikeluarkan) milik Allah jika memiliki empat puluh domba betina? Syaibanpun berkata; apakah itu menurut pandangan kami atau pandangan anda? Imam Ahmad berkata; apakah itu berarti terdapat dua ajaran agama? atau apakah ada dua syariat?. Berkatalah Syaiban untuk memastikan; apakah itu menurut pandangan kami atau menurut pandangan anda?, imam Ahmadpun berkata; menurut pandanganku. Maka Syaibanpun Menjawab; setiap empat puluh domba betina, maka zakat milik Allah satu domba betina. Kemudian imam Ahmad bertanya; jika menurut kalian? dijawablah oleh Syaiban; semuanya milik Allah, semua ini milikNya dan kami hanya dipinjamkan.

Imam ibn Hanbal tertegun memahami hal itu, kemudian bertanya kedua kalinya; apa yang kau lakukan jika kamu lupa rakaat dalam sholat, tiga atau empat? Syaibanpun bertanya; apakah itu menurut pandangan kami atau pandangan anda?, Imam Ahmad berkata; menurut pandanganku. Maka Syaiban menjawab; wahai anakku, setidaknya bersujud dua sujud untuk sujud sahwi sebelum salam. Imam Ahmadpun berkata; jika menurut kalian? Syaiban menjawab; bagi kami, jika hati ini lalai (lupa) terhadap Tuhannya, maka kami memiliki dosa pantas untuk diazab. Mendengar itu, Imam Ahmad jatuh pingsan beberapa saat dan Syaibanpun meninggalkannya. Setelah sadar kembali, Imam Asy Syafii berkata kepadanya; sudah kukatakan tinggalkan dia dengan urusannya.

______

بينما كان الشافعي و تلميذه أحمد بن حنبل يسيران معا رأيا شيبان الراعي و هو أحد أهل الزهد ممن يسمون بالصوفية . فقال ابن حنبل للشافعي : هلم نختبر هذا الذي يدعي الزهد . فقال له الشافعي : دعه و شأنه . فأصر ابن حنبل على اختباره و قال له :أيها الراعي ، كم لله في أربعين شاة ؟ فقال شيبان : أعندنا أم عندكم ؟ فقال أحمد : أدينان هما ؟ أشرعان هما ؟
فقال شيبان بثبات : أعندنا أم عندكم ؟ فقال أحمد : عندنا . فرد شيبان و قال : في كل أربعين شاة ، شاة واحدة .
فسأل أحمد : و عندكم ؟ فرد شيبان : كلها لله ، فهو الذي يملك و هي لنا عارية . فتعجب بن حنبل من فهمه إلا أنه سأل ثانية وقال : ما تقول فيمن نسي أصلى ثلاثة ركعات أم أربع ؟ فسأله شيبان : أعندنا أم عندكم ؟ فقال أحمد : عندنا . فرد شيبان : يبني على الأقل و يسجد سجدتين للسهو قبل أن يسلم . فقال أحمد : و عندكم ؟ فقال شيبان : عندنا ، هذا قلب غافل عن مولاه يستحق أن يؤدب . فأغشي على ابن حنبل حتى فاتته صلوات و .أنصرف شيبان . فلما أفاق ابن حنبل قال له الشافعي : ألم أقل لك دعه و شأنه

من كتاب “الطريق إلى الله المنجي في زمن الدجال والمهدي” حسن الوكيل

Allah di atas?


Setelah menutup doa dengan amin dan mengusap telapak tangan ke muka, seorang santri bertanya kepada kiai seusai mengimami sholat. Dengan sopan ia menyalami tangan kiai itu, kemudian melontarkan pertanyaan;

“Pak kiai, dalam akidah Islam Allah tidak berarah tapi kenapa kalo berdoa menadahkan tangan ke atas?”

Dengan senyum mengembang sang kiai berkata;

“Berdoa dengan menadahkan tangan, bukan tanda Allah di atas dan berarah. Tapi dengan menadahkan tangan, bukti kita sebagai hamba yang meminta dan membutuhkanNya”.

Santri itupun menganggukkan kepalanya.

#renungan_malam

Fields of Gold

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 166 pengikut lainnya.