Abu Bakar ibn Thufail, pada suatu hari, memanggilku dan bercerita kepadaku bahwa ia mendengar Amirul Mukminin mengeluh tentang keterpenggalan cara pengungkapan Aristoteles -atau penerjemahannya- dan, akibatnya, maksudnya kabur. Ia mengatakan bahwa jika ada seseorang yang membaca buku-buku ini kemudian dapat meringkasnya dan menjernihkan tujuan-tujuannya, setelah pertama-tama memahaminya sendiri secara seksama, orang lain akan mempunyai waktu yang longgar untuk memahaminya.

“kalau kamu mempunyai kesempatan,” Ibn Thufail menasehatiku, “lakukanlah itu. Aku percaya kamu bisa, karena aku tahu engkau mempunyai otak yang cemerlang dan watak yang baik, dan betapa besar rasa pengabdianmu pada ilmu itu. Kamu tahu bahwa usia tuaku, jabatanku -dan komitmenku pada tugas lain yang aku kira jauh lebih vital- yang menyebabkan aku tidak dapat melakukan sendiri hal itu.

(R. Dozy, Abdul Wahid Al-Marrakusyi, The History of the Almohades, amsterdam 1968)