ibnu nadim mencatat salah satu penyebab gencarnya penerjemahan karya filsafat yunani di dunia islam. pernah khalifah al-ma’mun di dalam tidurnya memimpikan seorang Aristoteles yang sedang duduk di atas ranjangnya, seraya al-ma’mun menceritakan mimpinya :

saya bagaikan berada di antara kedua belah tangannya, dan dengan rasa hormat saya bertanya kepadanya, siapa anda? dia berkata : Aristoteles, saya merasa bahagia dengannya kemudian saya berkata, wahai filosof mungkinkah saya bertanya padamu? dia menjawab : bertanyalah! maka saya bertanya, apa itu kebaikan? dia berkata : apa yang baik menurut akal, saya melanjutkan, kemudian apa? dia menjawab : apa yang baik menurut jumhur (mayoritas) kemudian apa? dia menjawab kemudian tidak ada kemudian.

(dr. amiroh hilmi mathor/ al-fikru al-islami wa turots al-yunani)