<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Polos</title>
	<atom:link href="http://neosufizm.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://neosufizm.wordpress.com</link>
	<description>Miniti Jalan Eskatologi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 08:14:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='neosufizm.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0eb3ac5785cea0b7a621d551abc5e370?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Polos</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://neosufizm.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Polos" />
	<atom:link rel='hub' href='http://neosufizm.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Wujud Tuhan dalam Maqam Ihsan</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2012/01/27/wujud-tuhan-dalam-maqam-ihsan/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2012/01/27/wujud-tuhan-dalam-maqam-ihsan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASALAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>
		<category><![CDATA[al hallaj]]></category>
		<category><![CDATA[ibn arabi]]></category>
		<category><![CDATA[keagungan tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pantulan cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[rukun iman]]></category>
		<category><![CDATA[ulama islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ulama islam mentakwilkan peristiwa melihat Tuhan atau bermusyahadah dan menyaksikan keagungan Tuhan dengan segala sifatNya merupakan perkara irrasional dan &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2012/01/27/wujud-tuhan-dalam-maqam-ihsan/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=256&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Banyak ulama islam mentakwilkan peristiwa melihat Tuhan atau bermusyahadah dan menyaksikan keagungan Tuhan dengan segala sifatNya merupakan perkara irrasional dan nomenalogis. Perkara ini bukanlah hal yang mudah, sebab untuk melakukannya memang terkadang terlihat irrasional dan bertentangan dengan akal sehat.</p>
</div>
<p>Perkara bermusyahadah dengan keagungan Tuhan ini memiliki makna yang absurd dan memiliki polemik yang tak kunjung henti. bahkan banyak ulama yang dekat dengan umara&#8217; (pemerintah) kurang bisa memahami fenomena yang irrasional ini mengkafirkan dan menyesatkan kalangan sufi yang sedang asyik menikmati cinta dari Tuhan dalam hidupnya, semisal al-hallaj dan suhrawardi al-maqtul.</p>
<p>Bila kita melihat peristiwa pengkafiran para sufi sungguh sangat menyedihkan. Tapi tidak dengan Ibn Arabi yang hidupnya tetap nyaman, serta dapat mengembangkan ajarannya kepada para murid dan menulis beberapa buku. tentunnya hal itu tak lepas dari lingkungan yang terbuka dan stabilitas politik terkendali.</p>
<p>Polemik musyahadah ini sebenarnya harus merujuk dari perbincangan para mutakallimin diawal lahirnya islam. Dimana masa awal para mutakallimin memperbincangkan masalah pensifatan zat Tuhan, karena hal ini akan berimplikasi terhadap keimanan seseorang.</p>
<p>Iman orang awam akan melihat Allah seperti  bayangan pada dirinya yang terkena cahaya, ia akan melihat bahwa Tuhan itu seperti hampa sehingga dengan mudahnya melalaikan kewajibannya terutama rukun iman yang lima.</p>
<p>Sedangkan diatasnya lagi akan melihat Tuhan seperti melihat cahaya bulan didalam gelas yang diisikan air di malam hari. Yang terlihat hanyalah pantulan cahaya bulan dikegelapan malam.</p>
<p>Yang tertinggi adalah ketika seseorang bisa mengontrol hatinya ketika ia melihat peristiwa dan fenomena yang ada dalam hidupnya. Sehingga ia tau kapan bersyukur dan kapan harus meminta. Sehingga segala yang ia minta dan perbuat sesuai dengan apa yang telah ia niatkan untuk ibadah di jalan Allah. Disinilah maqam iman islam ihsan itu.</p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/asalan/'>ASALAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a> Tagged: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/al-hallaj/'>al hallaj</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/ibn-arabi/'>ibn arabi</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/keagungan-tuhan/'>keagungan tuhan</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/pantulan-cahaya/'>pantulan cahaya</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/rukun-iman/'>rukun iman</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/tag/ulama-islam/'>ulama islam</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=256&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2012/01/27/wujud-tuhan-dalam-maqam-ihsan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Humor Penciptaan Anak Analisa Plato dan Aristoteles</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/12/30/humor-penciptaan-anak-analisa-plato-dan-aristoteles/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/12/30/humor-penciptaan-anak-analisa-plato-dan-aristoteles/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 17:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASALAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Aku memiliki teman yang jenius, dia tinggal di apartemen pas tepat di depan apartemen flatku. Tapi bedanya flatku ada di &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/12/30/humor-penciptaan-anak-analisa-plato-dan-aristoteles/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=252&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/12/plato-and-aristotle.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-253" title="plato-and-aristotle" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/12/plato-and-aristotle.jpg?w=118&#038;h=150" alt="" width="118" height="150" /></a>Aku memiliki teman yang jenius, dia tinggal di apartemen pas tepat di depan apartemen flatku. Tapi bedanya flatku ada di puncak alias lantai paling atas, flat dia paling bawah. Terkadang  berpapasan Ketika aku keluar flat dan turun ke bawah.</p>
<p>Pada suatu saat temanku itu memanggilku, dan mengutarakan ingin menceritakan analisa Plato dan Aristoteles. Tepatnya mengenai penciptaan alam bisa dilihat dengan memandang bagaimana orang menciptakan anak.</p>
<p>Akupun datang padanya dan dia mempersilahkan duduk di kursi tamu flatnya, dia ke dapur menyediakan teh.</p>
<p>ketika selesai menyediakan teh dan kita sama-sama duduk, saya penasaran inngin mendengarnya. langsung saya ajukan pertanyaan, “kok bisa begitu mas bro?”</p>
<p>Dia pun menjawab dengan pelan tapi pasti, “ya! coba pikirkan analisa Plato menganggap penciptaan alam, melalui teori emanasi pancaran dari akal aktif. Akal aktif bisa kita sebut Tuhan, dan berkat Tuhan alam ini diciptakan. Dari sini juga kita mengetahui bahwa Tuhan zat yang Maha Segalanya termasuk mencipta alam semesta”.</p>
<p>Sambil menggerak-gerakan tanganya untuk isarat, diapun melanjutkan, “orang yang menggunakan analisa Plato akan mengira segala sesuatu tercipta karena adanya Ide yang dipancarkan dari Akal. Oleh karenanya sebelum orang ingin mempunyai dan menciptakan anak ia harus memiliki ide untuk itu”.</p>
<p>Dan saya pun penasaran untuk mengetahui analisa Aristoteles, sayapun nyeletuk, “kemudian kalo Aristoteles gimana mas bro?”</p>
<p>Dia pun menjawab dengan tenang, seperti gayanya para ilusionis yang bisa menghipnotis. Kemudian diapun berkata, “begini! sedangkan analisa Aristoteles itu menganggap Tuhan sebagai penggerak yang tidak bergerak, dan terciptanya alam adalah karena adanya gerak pertama yang kemudian menjadi penyebab utama. Disinilah letak nilai sebab-musabab atau nalar kausalitas Aristotelean, segala sesuatu tercipta karena ada penyebabnya”.</p>
<p>Sayapun penasaran terhadap pembahasan topik utama perbincangan kita masalah penciptaan anak, sayapun nyeletuk, “terus hubungannya dengan penciptaan anak seperti apa?”</p>
<p>“ayooo pikiranmu ngeresss”, balasnya sambil bercanda dan tersenyum.</p>
<p>Kemudian dia melanjutkan, “kalau analisa Aristotelean mengenai penciptaan anak itu begini, karena pada suatu malam bapakmu dan ibumu sama sama bergerak di atas ranjang.”</p>
<p>Kita pun tertawa terbahak-bahak, “hahahahahahaha….hahahaha…hahahahaa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ”.</p>
<p>Sekian, untuk temanku Abdul Mun’im Kholil yang sedang kedingininan di Madrasah, Nasr City.</p>
<p>[Rifai, Jum'at 30 Desember 2011]</p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/asalan/'>ASALAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=252&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/12/30/humor-penciptaan-anak-analisa-plato-dan-aristoteles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/12/plato-and-aristotle.jpg?w=118" medium="image">
			<media:title type="html">plato-and-aristotle</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perdamaian Agama dan Filsafat</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/09/06/kajian-ramadhan-sasc-perdamaian-agama-dan-filsafat-upaya-pembacaan-global-filsafat-islam/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/09/06/kajian-ramadhan-sasc-perdamaian-agama-dan-filsafat-upaya-pembacaan-global-filsafat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 23:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[BENERAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Ramadhan SASC; Perdamaian Agama dan Filsafat, Upaya Pembacaan Global Filsafat Islam Oleh : Rifai[1] Prolog Dualisme dalam konsep filsafat menurut Dr. &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/09/06/kajian-ramadhan-sasc-perdamaian-agama-dan-filsafat-upaya-pembacaan-global-filsafat-islam/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=243&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kajian Ramadhan SASC; Perdamaian Agama dan Filsafat, Upaya Pembacaan Global Filsafat Islam</p></blockquote>
<p>Oleh : Rifai<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Prolog</strong></p>
<p>Dualisme dalam konsep filsafat menurut Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq di dalam buku ‘Tamhid li al-Falsafah’-nya,  adalah pandangan tentang hubungan antara jiwa (<em>ruh</em>) dan raga (<em>madah</em>), dua substansi yang berbeda. Dan penganut dualisme adalah mereka yang mengatakan (meyakini) akan adanya substansi materi, serta adanya substansi ruh<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Dualisme<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn3">[3]</a>, merupakan  dua sisi dalam kehidupan yang niscaya. Terkadang dua sisi ini akan bertolak belakang dan kontradiktif seperti halnya dua kutub magnet; positif dan negatif, yang tidak bisa didekatkan bahkan dihubungkan, bag aliran listrik bila dihubungkan aliran positif dan negatifnya, akan terjadi <em>konsleting</em>. Terkadang pula dua sisi ini saling membutuhkan dan melengkapi, seperti kepingan mata uang logam dua sisi itu tidak bisa dipisahkan.</p>
<p>Begitupun dengan agama dan filsafat, dua terma yang selalu menjadi perbincangan hangat oleh para tokoh ilmuan dari masa ke masa. Hingga sekarang permasalahan menyangkut hubungan kedua terma ini masih menjadi sebuah wacana yang memiliki dua kutub, antara pro dan kontra. Antara yang menganggap filsafat seiring sejalan dengan syari’at, dan yang menganggap syari’at bertolak belakang dengan filsafat dan tidak bisa disandingkan antara keduanya.</p>
<p>Syahrastani dalam ‘Milal wa an-Nihal’-nya mengungkapkan perkataan filosof : ketika kebahagiaan itu adalah sesuatu yang dicari, saat manusia bekerja keras untuk mendapatkan dan memilikinya. Maka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan hikmah (kata lain dari filsafat),  sebab hikmah akan meminta untuk melakukannya. Dan ketahuilah sesungguhnya hikmah dibagi dua macam, ilmu dan amal. Bagian amal adalah perbuatan baik, dan bagian ilmu adalah ilmu yang hak (benar)<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Sebagaimana ibn Hazm (w. 456 H/1.63 H) dalam kitab ‘al-Fishal fi al-Milal wa an-Nihal’-nya menyatakan “Tidak ada pertentangan diantara ulama’ ahli filsafat dengan seorang ulama’ ahli syari’at”.  Musthafa Abdurraziq menjelaskan bahwa arti dari perkataan ibn Hazm adalah sesungguhnya tujuan filsafat dan syari’at adalah sebuah tindakan, bukan dalam sebuah bentuk madhab filsafat ataupun kelompok agama.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn5">[5]</a> Jadi tujuan agama menyerupai tujuan filsafat, keduanya memiliki tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan dari jalan keyakinan yang benar dan perbuatan tingkah laku yang mulya.</p>
<p>Dari ungkapan dua tokoh ini memiliki arti bahwa filsafat tidaklah menjadi sebuah momok bagi syari’at, akan tetapi selaras. Kedua nya bisa dilebur untuk melengkapi.</p>
<p>Bertolak dari anggapan diatas, adapula ulama yang tidak mengindahkan filsafat. Filsafat dianggap hina tidak selaras dengan ajaran Islam, serta orang yang mempelajari dan memdalaminya dianggap zindiq bahkan kafir.</p>
<p>Ahmad bin Mushthafa yang dikenal dengan Thosy Kubro Zadah (w. 962 H/1554 M) dalam kitab ‘Miftahu as-Sa’adah wa Mishbahu as-Siyadah menganggap filsafat bertentangan dengan syari’at serta para ahli hikmah dianggapnya sesat. Bahkan mereka dianggap musuh Allah dan para Nabi dan Rosul, lebih dari itu para ahli hikmah dianggap sebagai pemalsu ajaran syari’at<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Begitupula dengan Syaikh Jamaluddin Abi Bakar Muhammad ibn Abbas al-Khawarizmi (w. 383 H/ 993 M) dalam kitabnya ‘Mufidu al-Ulum wa mubidu al-Humum’ menelisik asal mula masuknya filsafat dalam Islam dari kecakapan dan kepandaian tokoh filosof Yunani, dan menganggap mereka penuh keraguan dan kegilaan dalam memahami ajaran ke-Tuhan-an. Serta menganggap asas mereka adalah atheis, tidak meyakini akan Tuhan, sehingga dianggap zindiq pondasi madhab mereka, dan kufur semua pengikutnya<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Itulah dualisme yang selama ini meramaikan sinergitas kazanah keilmuan dalam dunia Islam, ada yang melihat filsafat dengan kacamata positif dan ada pula yang melihatnya dengan kacamata negatif. Memang ini sebuah bentuk kecintaan tokoh ulama Islam untuk menjaga kemurnian Islam, dan adapula yang ingin mengembangkan Islam menjadi agama yang terbuka tentunya agar Islam menjadi rahmah lil’alamin. Dari sinilah kajian perdamaian Syari’at dan filsafat akan dimulai.</p>
<p><strong> </strong><strong>Potret Filsafat  dalam Dunia Islam</strong></p>
<p>Sebelum masuk kedalam peta filsafat dalam Islam, perlu kiranya memaparkan sedikit uraian mengenai geliat para tokoh kaum muslim yang ramai berbincang dan saling berbeda pendapat dalam mengejawantahkan ajaran Islam, terutama masalah ‘ushuliyah’ (akidah) dalam Islam.</p>
<p>Merekalah para Mutakallimin, yang tanpa disadari dengan perbincagan dan perdebatannya membentuk sebuah aliran atau madhab akidah (teologi), atau sebutan lainnya aliran Kalam, yang hingga saat ini masih banyak pengikut dan pengkajinya. Sepertihalnya; Khowarij, Mu’tazilah dan Asy’ariyah.</p>
<p>Percekcokan internal, mengenai akidah menghukumi kekafiran dalam tubuh Islam memberikan dampak bagi pemikiran dan keilmuan dunia Islam. Perbicangannya berkembang dan menembus batas terhadap hal yang kasat mata dan tidak bisa dicapai panca indera. Itulah metafisika, membincang mengenai penciptaan alam semesta dan jagad raya, serta zat Sang pencipta.</p>
<p>Disinilah letak kenapa para mutakallimin disebut sebagai pembela dan penjaga agama, melalui dalil-dalil yang mereka paparkan mengenai akidah Islamiyah. Sebagaimana Ibn Kholdun dalam ‘Mukaddimah’-nya yang menyatakan bahwa, ilmu kalam adalah ilmu yang berisi hujjah dari akidah dan keyakinan dengan menggunakan dalil akal (rasio), serta menolak pembid’ahan dan pemalsuan dalam akidah salaf dan ahlu sunnah.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq-pun menjelaskan dalam ‘Tamhid li al-Falsafah’-nya bahwa ilmu Kalam sesungguhnya bertujuan pengokohan rasio kepada akidah agama, serta menjaga akidah dari kecondongan yang atheistik<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Muhammad Ghilab dosen filsafat di Fakultas Ushuludin Universitas al-Azhar yakin, bila dalam sejarah Arab hadirnya ilmu kalam pada awal perkembangan Islam, yang mensinergikan kinerja akal dalam berlogika untuk mencari kebenaran, merupakan langkah awal lahirnya filsafat di Arab dengan adanya ilmu kalam ini<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p>Filsafat dalam Islam (filsafat Islam) mulai terkonstruk setelah para pemikir menterjemahkan karya filosof Yunani, yang terbilang marak pada masa kekhilafahan Abbâsiyah di Baghdad, terutama pada masa al-Ma’mun yang sangat suka kepada filsafat, kemudian diteruskan al-Mu’tasim Billah hingga anaknya Ahmad bin Mu’tashimpun diajari filsafat kepada al-Kindi.</p>
<p>Memang sejak Islam bersentuhan dengan buah kebudayaan Yunani, yakni karya-karya agung filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles, banyak diganderungi oleh para akademisi Arab Islam. Renan pun mencibir dunia Islam dan menganggap filsafat Islam seakan-akan kloningan dan pentaklidan dari filsafat Yunani, serta tidak memiliki hasil/nilai apapun (karakter) secara khusus.</p>
<p>Tapi anggapan itu ditepis oleh Dr. Mushthafa Abdurraziq dalam bukunya ‘Tamhid li Tarikh al-Falsafah Islamiyah’ dengan memaparkan pandangan Salamon Munk<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn11">[11]</a> kenapa filsafat Islam identik dengan filsafatnya Aristoteles, dipilihnya Aristoteles diantara filosof lainnya karena metode empirismennya (<em>tajribi</em>) lebih bisa diterima bagi kecondongan para akademisi Arab, daripada metode idealismenya (<em>mitsali</em>) Plato. Apalagi logika Aristoteles bisa dijadikan senjata yang bermanfaat dalam perselisihan yang berkelanjutan diantara para mutakallmin/ahli madhab teologi.</p>
<p>Dari pemaparan Munk bisa ditarik sedikit benang merah bahwa terdapat indikasi penolakan pendapat Renan, sebab besarnya pengaruh Aristoteles terhadap sarjana Arab, dalam artian tidak semua yang berasal Yunani diambil secara mentah-mentah, melainkan ada filter serta analisa yang mendalam agar filsafat yang masuk itu sejalan dengan pemikiran dunia Arab Islam.</p>
<p>Memang terkesan filsafat Islam cenderung Aristotelean, karena awalnya dijadikan senjata para ahli kalam dalam Islam. Tapi disinilah letak karakter filsafat dalam Islam, yakni digunakan untuk membentengi akidah. Bahkan Dr. Mushthafa Abdurraziq berkeyakinan bahwa analisa akal Arab pada hakekatnya akan membawa perbaikan pada al-Qur’an dan penyempurnaan agama Islam, dan peran Muktazilah yang telah memimpin gerakan filsafat dalam Islam.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Secara garis besar filsafat Islam terbagi menjadi corak pemikiran filsafat antara Masyriq (Baghdad dan Damaskus/Iraq) dan Maghrib (Cordoba, Andalusia/Spanyol). Tokoh filosof muslim yang terkemukapun bisa dipetakan kepada; al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Shina di Masyriq. Sedangkan di Maghrib ada; Ibn Bajah, Ibn Thufail dan Ibn Rushd.</p>
<p>Al-Kindi tercatat sebagai tokoh yang banyak memperkenalkan filsafat Yunani kedalam dunia Islam, bahkan mendedikasikan karyanya <em>Falsafah</em> <em>al</em>-<em>Ula</em> serta risalah-risalahnya kepada Ahmad bin Mu’tashim<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Husein Muruwah menyebut bahwa al-Kindi adalah pemikir Arab pertama yang meletakkan landasan pengetahuan kepada perkara yang lebih luas, dan membuka pemikiran umat Islam yang baru kepada wawasan pengetahuan filsafat sesuai maknanya yang luas dan tidak hanya yang berhubungan pembahasan Tuhan saja. Begitu juga dengan penahbisannya sebagai filosof Arab atau filosof Islam pertama. <a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn14">[14]</a></p>
<p>al-Farabi sang penerus khazanah filsafat Islam merupakan tokoh yang membumikan ajaran filsafat kedalam hubungan kemanusiaan dengan menggunakan pendekatan Aristotelean terhadap psikologi dan politik dalam karyanya <em>Madinah</em> <em>Fadilah </em>dan<em> Siyasah Madinah-</em>nya.</p>
<p>Sedangkan Ibn Shina banyak para sejarawan mencatatkan bahwa pandangannya banyak mengambil dari al-Farabi. Pernah suatu ketika ibn Shina merasa kesulitan memahami kitab ‘Ma Wara’ah Thabiah’-nya Aristoteles sampai ia membacanya empat puluh kali dan putus asa, hingga merasa perlu untuk menalaah kitabnya al-Farabi untuk memahami maksud dari kitab Aristoteles tersebut, darisanalah terbuka apa yang selama ini belum dipahami hingga ia merasa gembira dan banyak meyakini poin pentingnya.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibn Shina mengembangkan metode empirismennya dengan melakukan penelitian lebih mendalam kepada ilmu bedah dan pengobatan, serta geologi dsb.</p>
<p>Tokoh-tokoh diatas merupakan kekayaan yang dimiliki khazanah Islam dalam filsafat di Masyriq. Begitupula dengan sepakterjang filusuf Islam di Maghrib/Andalusia Ibn Bajah, Ibn Thufail dan Ibn Rushd yang merupakan sebuah mata rantai dari filosof Islam di Masryiq.</p>
<p>Bahkan Abid Jabiri berani menyatakan secara dhohir hubungan antara kedua aliran filsafat diatas, merupakan manifestasi atas terbentuknya khazanah yang dikenal dengan istilah “Filsafat Islam” atau “Filsafat dalam Islam”. Walaupun beliau juga mengakui bahwa pengejawantahan dua aliran filsafat ini, memiliki metode dan pemahaman dalam permasalahan epistemologi yang berbeda.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn16">[16]</a> Sebab memang banyak teori-teori hasil pemahaman filosof Islam Masyriq banyak yang dikritisi dan dibenahi oleh filosof Islam Maghrib.</p>
<p>Pembenahan filsafat Islam Masyriq diawali oleh ibn Bajah yang memapankan peranan filsafat dalam aspek kemanusiaan, dalam artian membahas seluk beluk sistem tatanan manusia dalam sebuah kelompok yang menjadi kesatuan bermasyarakat. ini penyempurnaan dari Filsafat Masyriq al-Farabi dalam <em>Madinah</em> <em>al</em>-<em>Fadilahnya</em>, kepada <em>Tadbir</em> <em>al</em>-<em>Mutawahidnya</em> ibn Bajah. Sebagaimana yang diungkapkan Atif Iroqi, sesungguhnya esensi kemanusiaan dalam ibn Bajah menunnjukkan lebih jelas dari esensi kemanusiaannya al-Farabi dalam <em>Madinah</em> <em>al</em>-<em>Fadilahnya</em>.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Sedangkan penyempurnaan pandangan filsafat kaitannya dengan pembahasan aspek ketuhanan, yang membahas masalah metafisika zat Tuhan dan kaitannya dengan syari’at/teologi. Dimulai dari ibn Thufail dalam karya monumentalnya ‘Hay bin Yaqdzan’ tapi kemapanan filsafat ini terdapat pada muridnya ibn Rushd yang berhasil menyandingkan filsafat dengan syari’at di <em>Fashl</em> <em>Maqal-</em>nya, dan meluruskan tuduhan kekafiran para filosof yang dikafirkan oleh imam Ghozali dalam <em>Tahafut</em>-<em>Tahafut-Nya</em>.</p>
<p><strong><em>Clash</em></strong><strong> Filsafat dalam Islam  </strong></p>
<p>Sejenak melihat pergolakan politik dalam khilafah Islamiyah dan pengaruh para tokoh telogi dan fuqaha’ yang sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan sains yang dikembangkan para filosof muslim. Pada masa awal Islam percekcokan para ahli kalam saja sudah banyak memperkeruh situasi umat muslim yang ketika itu mempengaruhi stabilitas perpolitikan perebutan kekuasaan, karena memang setiap kekhilafahan ditopang oleh tokoh yang mengusung sebuah ideologi, sebagai sumber legitimasi keagamaan.</p>
<p>Pelabelan sesat hingga pengkafiran terhadap sesama ahli kalam yang membahas masalah ke-Tuhan-an saja sudah menjadi wajar di dunia Islam, apalagi dengan masuknya ilmu serapan dari filsafat dari Yunani. Muktazilah saja sebagai madhab teologi pengusung rasionalitas tidak mendapatkan tempat setelah dikebiri oleh ahli hadits dan Asya’irah. Semacam tokoh Mu’tazilah Hudzail al-Allaf dan al-Baghdadi yang dikecam oleh Asy’ari karena mengambil doktrinan dari filsafat Aristoteles<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Setelah filsafat menunjukkan eksistensinya yang banyak dikenalkan al-Kindi dan ketika itu memang khilafah memberi ruang untuk itu. Tapi ternyata dikotomi penghukuman kebenaran tetap digulirkan oleh kalangan ortodok Islam, bahkan hubungan antara keimanan dan rasionalitas seakan-akan dibenturkan, bahkan Husein Muruwah tak segan untuk menggunakan istilah ‘<em>shira’ baina ad-din wa al-falsafah’<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn19"><strong>[19]</strong></a></em> untuk menggambarkan keadaan itu.</p>
<p>Bahkan mayoritas filosof tidak mendapatkan tempat untuk mengembangkan diri di dunia Islam, sebab tercatat dari al-Kindi hingga Ibn Rushdyang hidupnya merasakan kesengsaraan hal diatas, filosof Islam menjadi korban atas pengkebirian ilmu filsafat yang mereka kembangkan di dunia Islam.</p>
<p>Karya-karya berharga ilmu fisika/kealaman semacam aritmatika, geometri, kosmologi, kedokteran dan astronomi yang banyak al-Kindi torehkan dalam tinta emasnya jarang diadapat setelah pemerintahan Mutawakkil yang sangat benci terhadap penggunaan akal dalam menginterpretasi dogma agama, bahkan menyita perpustakaan al-Kindi.</p>
<p>Begitu juga al-Farabi dan Ibn Sina yang tak luput dari pengkafiran oleh imam al-Ghazali yang efeknya hingga terasa sekarang, umat muslim sangat mengganderungi ajaran keagamaan al-Ghazali. Filosof muslim Maghrib-pun mendapatkan getahnya ibn Bajah dituduhan zindiq oleh penguasa Murabithun, begitu pula Ibn Rushdyang dituduh kafir dengan ajaran filsafatnya sehingga diasingkan oleh pemerintahan khalifah abu Yusuf al-Mansur dan memabakar buku-bukunya.</p>
<p>Ada dua poin penting yang bisa diambil dari pemaparan <em>clash</em> filsafat dengan agama diatas, yang <em>pertama,</em> adanya ideologi tokoh agama yang tidak sejalan dengan filsafat dan menganggap ajaran filsafat sesat di luar Islam. Sedangkan yang <em>kedua,</em> adanya kekuatan politik yang ditopang dengan kekuatan militer.</p>
<p>Kedua elemen ini bila berkolaborasi akan menjadi kekuatan yang mematikan bagi lawan politik serta lawan ideologi.  Ketika kaum agamawan yang kontra terhadap filsafat dirangkul oleh penguasa, maka lenyaplah filsafat itu dikebiri habis-habisan.  Sebagaimana kekuatan kaum Fuqaha di masa kekuasaan Murabithun di andalusia, Abid Jabiri memaparkan bagaimana telah menjadikan daulah fuqaha’ di dalam kekuasaan murabithun di Andalusia.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong> </strong><strong>Pengkebirian Filsafat ala Al-Ghazali</strong></p>
<p>Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi&#8217;i, lahir di Thus; <a title="1058" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1058">1058</a> / 450 H – meninggal di Thus; <a title="1111" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1111">1111</a> / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun. Adalah seorang teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai <em>Al-Gazel</em> di dunia Barat abad Pertengahan.</p>
<p>Imam al-ghazali tercatat sebagai salah satu ulama Islam yang selamat dari amukan para penguasa, namanya pun harum semerbak bunga tersiar di dunia Islam. Ya, kedekatannya dengan para penguasa menjadikan ideologi cemerlangnya bisa tersebar dengan bebas di dunia Islam lewat karya-karyanya. Yah walaupun ideologinya terkadang tak menentu dari fiqih, tasawwuf dan mantiq semua pernah dijelajahi, yang nampak seperti pesanan penguasa.</p>
<p>Ideologi Imam al-Ghazali tercatat sangat dekat dengan kesultanan Saljuk bahkan digunakan untuk melawan ideologi pemerintahan Isma’liyah, Syi’ah. Abid jabiri dalam bukunya ‘at-Turats wa al-Hadatsah’ dengan gamblangnya menjelaskan betapa besar peran imam al-Ghazali  dalam menyokong kekuasaan kesultanan Saljuk, bahkan semenjak usianya 28 tahun.</p>
<p>Peran al-Ghazali<em> </em>dalam membendung ideologi ‘Syiah Islma’iliyah’ sangatlah besar. Syiah Isma’iliyah merupakan salah satu madhab dalam Islam yang memiliki penyokong kekuatan dan kekuasaan politik serta ketinggian ilmu pengetahuan (falsafi), sehingga untuk membendung ideologi itu membutuhkan kekuatan yang setara yakni filsafat. Disinilah peran al-Ghazali dalam kitab ‘Tahufut al-Falasifah’nya memiliki agenda politik untuk membendung kekuatan ideologi Syi’ah Isma’iliyah.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Dalam teori penolakan penalaran ‘burhani’-pun al-Ghalzali sebenarnya bermaksud untuk membendung terori ‘irfani’ ala Syi’ah Isma’iliyah, karena memang mereka condong mengagungkan pengetahuan dari pada ajaran agama. Disinilah peran mantiq As’ariyah yang dimanfaatkan al-Ghazali untuk membungkam penalaran ‘irfani/burhani’. Sehingga paham As’ariyah benar-benar terlahir kembali berkat peran al-Ghazali, serta mendapat tempat perlindungan peguasa kesultanan Saljuk pada masa Abbasiyah yang sedang bersaing dengan Syiah Isma’iliyah.</p>
<p>Dari sinilah pembendungan ideologi Syi’ah Isma’iliyah dibilang sukses, yang kemudian semakin memperkokohnya konstruk ideologi sunni di dunia Islam dengan menggunakan ideologi al-Ghazali, yang merangkul As’ariyah dan mengembangkan tasawwuf fiqhiyah-nya. Tapi, kesuksesan ini ternyata berdampak buruk bagi dunia Filsafat dalam Islam secara keseluruhan, sebab dengannya filsafat dipandang sesat semua.</p>
<p>Kekuatan propaganda ideologi al-Ghazali tidak seperti Ulama Islam lainnya karena memang al-Ghazali memiliki perlindungan dari penguasa kesultanan Saljuk. Bahkan Abid jabiri mengatakan penolakan idelogi ala imam al-Ghazali kepada lawan ideologinya tidak hanya menolak sekedar berbeda pendapat saja tapi juga melakukan penyerangan, istilahnya ‘tanaqidhan munadhilan failan’<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn22">[22]</a>.</p>
<p>Dalam pengkafiran filsafat ala Imam al-Ghazali Atif Iraqi memberikan gambaran yang mendetail, terutama menyoroti karyanya yang sangat frontal yakni ‘Tahafut al-Falasifah’.  Karena memang karya-karya sebelumnya tidak sebegitu frontal dalam mengkebiri filsafat, malahan seakan-akan bermesraan dengan filsafat. Sepertihalnya kitab ‘Maqashidu al-Falasifah’, ‘Mi’yaru al-Ulum’, dan ‘Ihya’ Ulum ad-Din’ yang condong kepada fiqih sufiyah-nya.</p>
<p>Al-Ghazali membuat karyanya ‘Tahafut al-Falasifah’ pada tahun 488 H sebelum beliau keluar dari kota Baghdad sebab memang al-Gazhali semasa hidupnya berpindah-pindah dan berpetualang kebeberapa negara Islam. Dalam pembuatan kitab ini al-Ghazali tercatat masih berusia 38 Tahun, tepatnya setelah membuat kitab ‘Maqasidhu al-Falasifah’.</p>
<p>Berbeda acuan dengan kitab sebelumnya dimana al-Ghazali fokus melalukan pembahasan madhab filsafat secara mendalam tidak seperti ‘Tahafut’nya yang cenderung frontal menolak filsafat. Dalam kitab itu terdapat 20 permasalahan memang tidak semua pembahasannya menghasilkan pengkafiran terhadap para filosof, karena memang menurut Atif Iraqi, Imam al-Ghazali tidak memungkiri adanya manfaat yang bisa diambil umat Islam dalam melatih akal (<em>ar</em>-<em>riyadhi</em>) serta tidak mengingkari hal alami (<em>Thabiat) </em> dalam Islam, kecuali yang dianggapnya menyimpang dalam pembahasan agama dan ke-Tuhan-an.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Dalam ‘Tahafut’-nya al-Ghazali menyatakan : “inilah yang saya inginkan menjelaskan penolakan terhadap beberapa ilmu mereka dalam hal ke-Tuhan-an (<em>al</em>-<em>ilahiyah</em>) dan ilmu alam (<em>tabi’ah). </em>Sedangkan olah akal (<em>ar</em>-<em>riyadiyah</em>) tidaklah bermakna dalam mengingkarinya dan juga menentangnya, sebab hal itu kembali kepada penghitungan (<em>al</em>-<em>hisab</em>) dan ilmu ukur (<em>al-handasah</em>).”<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Secara garis besar ada tiga permasalahan yang lantang dikampanyekan untuk mengkebiri filosof oleh al-Ghazali dalam ‘Tahafut’-nya yakni; pertama, masalah tidak bermulanya alam (<em>qidamu</em> <em>al</em>-<em>alam</em>). Yang kedua, masalah kebangkitan jasad (<em>khulud al-jasad</em>). Dan yang ketiga masalah Allah tidak mengetahui hal parsial (<em>juz’iyah</em>).</p>
<p><strong> </strong><strong>Mendamaikan Filsafat dengan Agama </strong></p>
<p>Untuk masuk kedalam pembahasan perdamaian filsafat dan syariat ini tentunya perlu penjelasan untuk meluruskan pandangan kekafiran filosof yang diutarakan al-Ghazali dalam kitab ‘Tahafut’-nya dalam tiga permasalahan pokok diatas.</p>
<p>Dalam masalah ‘qidamu al-alam’. Pada masalah ini harus diuraikan maksud imam al-Ghazali yang menolak hal itu. Apakah Allah menciptakan alam dengan satu materi pertama untuk membuktikan bahwasanya tidak bermula (<em>al-qidam</em>)? Atau sesungguhnya Allah menciptakannya dari ketiadaan sehingga bisa dikatakan hal yang baru (<em>al-huduts</em>)?</p>
<p>Sebenarnya dalam hal ini al-Ghazali mengambil pendapat dari perkatannya Yahya an-Nahawi, hal ini diungkapkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya ‘Tarikh Hukama’ al-Islam’, al-Baihaqi berpandangan bahwa dalam tahafutnya al-Ghazali banyak mengambil dari pernyataan Yahya an-Nahawi ketika menentang pendapat Proclus<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn25">[25]</a> yang mengatakan <em>qidamu</em> <em>al</em>-<em>Alam</em><a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn26">[26]</a>.</p>
<p>Disinilah al-Ghazali  sebenarnya mengikat permasalahan antara hal yang baru (<em>al-huduts</em>) dan terdahulu (<em>al-qidam</em>) yang menjadi tema dalil atas eksistensi Tuhan. Dalam ‘Tahafut’-nya al-Ghazali membagi tiga kelompok pembahasan dalam mengurai dua permasalahan ini;</p>
<p>kelompok <em>pertama, </em>yang disebut ‘ahlu al-haq’, yang menyatakan alam itu hal yang baru(<em>hudutsu al-alam</em>) dan ketika alam itu baru maka memiliki pembuat hal yang baru, yakni Allah.</p>
<p>Kelompok yang <em>kedua,</em> yakni ‘Dahriyah’. Yaitu yang mengatakan bahwa alam itu terdahulu (<em>qidamu al-alam</em>), oleh karenanya tidak mengetahui dengan wujud/eksistensi Tuhan. Sedangkan kelompok yang <em>ketiga, </em>adalah filosof , yang berpendapat sama dengan sebelumnya alam itu terdahulu (<em>qidamu al-alam</em>).<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn27">[27]</a></p>
<p>Dari sini bisa dilihat bahwa al-Ghazali membenarkan kelompok pertama yang menyatakan alam adalah hal yang baru tentunya membutuhkan adanya sang penyebab hal yang baru (<em>muhdits</em>) untuk membuat Alam. Dan kelompok yang kedua dianggap tidak benar bahkan pendapatnya perlu ditentang, dalam artian yang menyatakan <em>qidamu al-alam</em> menunjukkan pengingkaran terhadap wujud penyebab terciptanya alam ini. Sedangkan kelompok yang ketiga, al-Ghazali menganggap pendapat mereka perlu ditentang, bagaimana bisa alam tidak berawal dan ketika itu membuktikan adanya Tuhan.</p>
<p>Sedangkan ibn Rushd di dalam ‘Fashl al-Maqal’-nya membagi tiga karakter penciptaan, dimana penciptaan alam berada dalam karakter ditengah ‘wasithah baina tharfaini’;</p>
<p><em>Pertama</em>, ada diadakan dari sesuatu selainnya dan oleh sesuatu. Yakni disebabkan adanya pelaku dan materi. Yaitu keadaan bentuk yang diketahui penciptaannya dengan panca indra.</p>
<p><em>Kedua, </em>ada tidak diadakan dari sesuatu dan tidak oleh sesuatu, serta tidak didahului oleh zaman. Inilah Tuhan yang melakukan segala sesuatu.</p>
<p><em>Ketiga,</em> sedangkan yang berada diantara kedua karakter diatas adalah, ada tidak dari sesuatu dan tidak didahului oleh zaman tapi diadakan oleh sesuatu, yakni pelaku (Tuhan)<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn28">[28]</a>.</p>
<p>Dari pemetaan ketiga karakter diatas Ibn Rushd mencoba mendamaikan antara kelompok yang memperdebatkan bahkan saling mengkafirkan, akan tetapi seharusnyalah saling menerima sebab penamaan alam itu ‘qidam’ dan ‘huduts’ sama-sama diterima. ‘Haduts’ memang alam adalah sesuatu yang baru yang diciptakan oleh Tuhan, ‘qidam’ karena memang alam adalah diciptakan terdahulu dan tak bermula oleh Tuhan, tentunya ‘qadim’ alam berbeda dengan sifat ‘qadim’ Tuhan yang eksistensinya tidak diciptakan melainkan mencipta.</p>
<p>Sedangkan dalam permasalahan Allah tidak mengetahui sesuatu yang parsial, ibn Rushd meluruskan pendapat al-Ghazali yang mengatakan bahwa filosof tidak meyakini bahwa Tuhan mengetahui perkara parsial.</p>
<p>Untuk meluruskan tuduhan al-Ghazali itu dalam ‘Fashl al-Maqal’-nya ibn Rushd memberikan sebuah penjelasan mengenai ilmu Tuhan dan ilmu makhluknya. Menurut Ibn Rushdilmu kita _sebagai mahluk_ disebabkan oleh adanya obyek pengetahuan itu (<em>ma’lum bihi</em>), dan itu hal yang baru sesuai dengan kebaruannya dan berubah sesuai dengan perubahannya. Sedangkan ilmu Tuhan merupakan penyebab dari pengetahuan itu<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn29">[29]</a>.</p>
<p>Disinilah letak kesalahpahaman al-Ghazali menyamakan pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan mahluknya, bagaimana bisa Allah tidak mengetahui hal parsial padahal Tuhanlah yang membuat pengetahuan dan menuntun mahluknya untuk mengetahui itu.</p>
<p>Dalam<em> </em>masalah kebangkitan jasad di hari kiamat. Al-Ghazali meyakini akan kebangkitan jasad dan ruh, yang akan berikan pahala serta siksa. Sedangkan filosof meyakini hanya ruh saja yang akan bangkit dihari akhir kelak, sebab sepertihalnya di dunia yang merasakan kebahagiaan dan kesenangan merupakan jiwa itu, dan bukan tubuh.</p>
<p>Sebenarnya setelah adanya pengkebirian filsafat di dunia Masyriq Islam, filosof Maghrib Islam mencoba untuk meluruskan tuduhan itu dan berusaha mengharmoniskan kembali hubungan filsafat dan ajaran Islam. Sebagaimana ibn Bajah memandang tuduhan al-Ghazali sebagai langkah yang didasari dari tindakan mutakallimin bukan filosof. Sedangkan ibn Thufail dengan karya monumentalnya ‘Hay bin Yaqdzan’ dalam Mukaddimahnya menjelaskan ketidak-sepakatannya dengan al-Ghazali dengan kebangkitan jasad, begitupun dengan ‘qidamu al-alam’<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn30">[30]</a>.</p>
<p>Yang paling berpengaruh dalam membendung ideologi kekafiran filsafat ala al-Ghazali adalah Ibn Rushd murid dari ibn Thufail. Sebelum ibn Rushd menerbitkan karya-nya yang menentang setiap bab pembahasan dalam kitab ‘Tahafut al-Falasifah’ dalam ‘Tahafut-tahafut’-nya, ibn Rushd memberikan pendekatan awal dalam mendamaikan syari’at dengan filsafat dalam bukunya ‘Fashl al-Maqal; fi Taqrir baina as-Syari’ah wa al-Hikmah min Ittishal’.</p>
<p>Abid jabiri mengungkapkan bahwa buku ini merupakan upaya memperbaiki hubungan agama dan masyarakat, sebab terkadang agama dimanfaatkan oleh penguasa sebagai alat legetimasi, dimana terkadang dengan pentakwilan ajaran agama dijadikan alat untuk mengkebiri kelompok lain terutama ketika itu ramainya pengkafiran filosof. Disinilah ‘Fashl al-Maqal’ menjadi alat meluruskan pentakwilan dimanfaatkan untuk politik.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Secara umum kitab ‘Fashl Al-Maqal’ ingin mengembalikan keharmonisan agama dengan penalaran akal, keharmonisan syari’at dan filsafat. Ini terlihat jelas di awal pembahasan dalam kitab ini menyodorkan uraian kinerja filsafat, dimana agama juga mengajarkan untuk menganalisa sesuatu menggunakan penalaran akal dan mencari pengetahuan<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn32">[32]</a>.</p>
<p>Ibn Rushdpun meyakini bahwa kebenaran tidak akan bertolak belakang dengan kebenaran lain, akan tetapi akan bersepakat. Disinilah ibn Rushd mengkampanyekan bahwa kebenaran yang diajarkan filsafat melalui nalar akal, tidaklah bertentangan dengan kebenaran agama. Sebab syari’at itu benar jika menganjurkan kepada pengetahuan yang benar. Dan sesungguhnya umat Islam mengetahui untuk menolak pandangan bahwa agama tidak sejalan dengan penalaran akal (<em>burhani</em>).<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn33">[33]</a></p>
<p>Diakhir pembahasan ibn Rushd menyimpulkan bahwasanya hikmah/filsafat merupakan teman bagi syariat dan bahkan saudara kandung<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn34">[34]</a>. Sebagaimana Muhammad Abduh, seorang tokoh yang gencar mengembalikan semangat ‘Rushdian’ dalam dunia Islam di masa kejumudan mengatakan bahwa :</p>
<p align="right"><strong>العقل يجب أن يحكم كما يحكم الدين, فالدين عرِف بالعقل. ولابد من اجتهاد يعتمد على الدين والعقل معا.<a title="" href="/WRITTEN/karya%20gue/kajian%20ilmiah/proyek%20rasionalisme/Mendamaikan%20Syariat%20dan%20filsafat%20(edited).docx#_ftn35"><strong>[35]</strong></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Epiolog</strong></p>
<p>Poin penting yang bisa diambil sebagai benang merah dari pemaparan diatas, bahwa filosof Islam tidaklah sepenuhnya melakukan pentaklidan terhadap filosof Yunani sebagaimana anggapan Renan, tetapi filosof Islam memiliki acuan yang membatasi teori filsafat Yunani dalam keterpengaruhannya, sehingga filsafat Islam bisa berjalan seiring dengan syariat Islam, dan tentunya agar tidak dikafirkan. Walaupun terkadang ada yang pro dan kontra terhadap filsafat merupakan sebuah sinergitas dinamika kekayaan kazanah keilmuan Islam, dalam membentengi agama dan menjadikannya tetap inklusif dengan karakternya. Dan tentunya agama dan filsafat, tidaklah perlu dipertentangkan hubungannya, sebab agama menganjurkan berfikir sebagaimana halnya berfilsafat dan mengambil hikmah.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><strong>Daftar Pustaka :</strong></p>
<ol>
<li>Abid jabiri. <strong><em>Nahnu Wa at-Turats; Qira’at Mu’a</em></strong><strong><em>s</em></strong><strong><em>hiroh fi Turatsina al-Falsafi.</em></strong> <strong><em> </em></strong></li>
<li>_____________ <strong><em>At-Turats wa al-Hadatsah; Dirasat wa Munaqasat</em></strong>. Beirut : Markaz Dirasat al-Wihdah al-Arabiyah, 2006.<em> </em></li>
<li>Atif Iroqi, <strong><em>al- Falsafah al- Arabiyah wa at-Thariq ila al-Mustaqbal; Ru’yah Aqliyah Naqdiyah, </em></strong>Kairo : Daar ar-Rosyad, 1997.</li>
<li>___________, <strong><em>Ibn RushdF</em></strong><strong><em>i</em></strong><strong><em>lus</em></strong><strong><em>u</em></strong><strong><em>f</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>n ‘Arobian Bir</em></strong><strong><em>u</em></strong><strong><em>hi Gh</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>rbiyah</em></strong>. Kairo : Dâru Mishr al-Masruhah, 2008.</li>
<li>Felix Klein-Franke. <strong><em>Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam; Al-Kindî</em></strong>. Bandung: Mizan Media Utama, 2003.</li>
<li>Husein Muruwah, <strong><em>an-Naz’</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>t al-M</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>diah fi al-Falsafah al-‘Arabiyah &#8211; al-Isl</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>miyah.</em></strong><strong> </strong>Jilid<strong></strong>IV<strong>.</strong> Lebanon: Dar al-Farabi, 2002.</li>
<li>Ibn Rushd, <strong><em>Fashl Maqal; </em></strong><strong><em>fi Taqrir baina as-Syari’ah wa al-Hikmah min Ittishal’.</em></strong>Tahkik: Abid Jabiri, cet. ke-4, Beirut : Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah, 2007.</li>
<li>Mahmud Hamdi Zaqzuq, <strong><em>Tamhid li al-Falsafah</em>, </strong>cet ke-5, Kairo; Daar al-Ma’arif, 1994.</li>
<li>______________, <strong><em>ad-Din li al-Hayah.</em></strong><strong><em> </em></strong>Kairo: Maktabah al-Usrah, 2010. <strong> </strong></li>
<li><strong><em> </em></strong>Mushthafa Abdurraziq, <strong><em>Tamhid li at-Tarikh al-Falsafah al-Islamiyah</em>,</strong> Kairo; al-Hai’ah al-Mishriyah al-Amah li al-Kitab,2007.</li>
<li>Muhammad Ghilab, <strong><em>al-Kalam wa al-Mutakallimun</em></strong><em>, </em>Kairo: hadiah majalah al-Azhar, 2010.</li>
<li>T. J. De Bore, <strong><em>Tarikh al-Falsafah fi al-Islam, </em></strong>Kairo: Maktabah al-Usrah, 2010. Hal</li>
<li>Syahrastani dalam ‘<strong><em>Milal wa an-Nihal’</em></strong></li>
<li>Ibn Kholdun, al-Mukaddimah</li>
<li>Tahafut al-Falasifah</li>
</ol>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/beneran/'>BENERAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=243&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/09/06/kajian-ramadhan-sasc-perdamaian-agama-dan-filsafat-upaya-pembacaan-global-filsafat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama dan Filsafat dalam Makna</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/16/agama-dan-filsafat-dalam-makna/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/16/agama-dan-filsafat-dalam-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 13:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[BENERAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tinjauan semantik (lughowi) agama berarti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/16/agama-dan-filsafat-dalam-makna/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=240&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tinjauan semantik (lughowi) agama berarti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Jika John M. Echols dan Hassan Shadily menyebut agama sebagai <em>religion</em> dalam bukunya Kamus Inggris Indonesia<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, sedangkan dalam bahasa Arab berasal dari mashdar kata <em>dâna-yadînu</em> yakni <em>ad-dîn</em>. Dalam kamus Al-Munawwir kata <em>ad-dîn </em>memiliki beberapa makna; kepercayaan (<em>al-mu’taqad</em>), tauhid (<em>at-tauhîd</em>), ibadah (<em>al-ibâdah</em>), kesalehan dan ketaqwaan (<em>al-wara’ wa at-taqwâ</em>), ketaatan dan kemaksiatan (<em>at-thâ’ah wa al-ma’shiyah</em>)<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Jika diresapi dari pemaknaan kata agama diatas, ada sebuah hubungan yang bisa ditarik sebagai benang merah, antara dua posisi yang bersinggungan. Dimana ada posisi yang mengungguli dan posisi tunduk dan patuh terhadap yang posisi dijunjung keunggulannya. Tentunya Tuhan, adalah dzat yang diposisikan mengungguli, sedangkan hamba/manusia berada pada posisi tunduk dan patuh terhadap segala peraturan dan ajaran yang diyakini dari Tuhan.</p>
<p>Banyak ilmuan yang meyakini agama memiliki dua kategori, sepertihalnya Dosen Akidah Filsafat Doktor Ali Mu’bad Furgholi yang menyebutkan dua jenis agama, antara <em>Samawi</em> dan <em>Wadh’î</em>. Agama <em>Samawi</em>; yang diyakini datang melalui jalan wahyu dari Tuhan kepada para nabi, serperti Nashrani, Islam dan Yahudi. Agama <em>Wadh’î</em>; keyakinan yang telah diletakkan melalui capaian akal manusia dan sebaliknya tidak datang melalui wahyu dari Tuhan, seperti Hindu, Budha dsb<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Dari hasil benang merah diatas menganalogikan bahwa seorang hamba sebagai manusia yang meyakini eksistensi keberadaan Tuhan entah itu dalam keyakinan agama <em>Samawi</em> dan <em>Wadh’î</em>, serta melaksanakan ibadah sesuai dengan kaidah perintah Tuhan yang diyakininya. Sehingga dengan itu manusia bisa disebut sebagai orang yang soleh, bertaqwa dan taat serta tidak bermaksiat dengan tidak melakukan larangan Tuhan. Tentunya dengan meyakini adanya balasasan antara pahala untuk orang yang tunduk dan patuh, dan azab bagi hamba yang tidak patuh entah didunia dan akhirat.</p>
<p>Sedangkan filsafat dikenal dengan sebutan <em>philosophy </em>(Inggris) <em>philosophie </em>(Perncis dan Belanda), <em>filosofie, wijsbeegerte </em>(Belanda), <em>philosophia</em> (Latin) dan <em>falsafah </em>dalam bahasa Arab. secara etimologis berasal dari kata Yunani, yaitu <em>philos </em>atau <em>filo </em>yang artinya cinta (dalam artian seluas-luasnya), dan <em>shofia </em>atau <em>sofi</em> yang artinya kebijaksanaan. Jadi dari dua kata tersebut filsafat bisa diartikan cinta terhadap kebijaksanaan.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalam khazanah klasik Arab Islam, istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak pemaknaan termasuk <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>ikmah</em>, <em>kâlam, ma’rifah, </em>dan juga <em>awâ’il,</em> yang kemudian dikembangkan sesuai dengan diskursus cabang-cabang filsafat tertentu, seperti tata bahasa (<em>nahwu</em>) dan sejarah (<em>tarikh</em>)<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Falsafah dan <span style="text-decoration:underline;">h</span>ikmah selalu memiliki ruang perbincangan para teolog, filosof serta para sufi dalam Islam. Sebab pembahasan mereka sebenarnya satu interpretasi, yakni permasalahan pengetahuan, dan semua itu tentunya melalui proses pemikiran dan nalar akal untuk mendapatkan kebaikan. Maka tak salah bila Doktor Ahmad Fuâd al-Ahwânî  memberikan dua pandangan kriteria falsafah, dipandang secara makna luas/umum (<em>ma’na wâsi’</em>) dan dipandang secara sempit/khusus (<em>ma’na dhoyyiq</em>). Semua manusia bisa dikategorikan filosof jika melalui pemaknaan falsafah secara luas, sebab semua manusia sejak dari awalnya memang selalu berfikir untuk mengetahui sesuatu, sedangkan falsafah dalam pandangan khusus maka sedikit manusia yang masuk dalam kateria filosof<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Ada beberapa pemaknaan filsafat menurut Sayyed Hussein Nasr selaku editor sekaligus kontributor buku History of Islamic Philosophy yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi buku Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, filsafat yang lazim digunakan oleh kalangan umat Islam menurutnya adalah<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>; Filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang ada, sebagai pengetahuan tentang ilahiyah dan insaniah, seabagai mencari perlindungan dalam kematian dalam artian cinta pada kematian (sufi), sebagai upaya menjadi seperti Tuhan dalam kadar manusia (sufi), sebagai seni tentang seni-seni dan ilmu tentang ilmu-ilmu, dan pra-syarat bagi <span style="text-decoration:underline;">h</span>ikmah.</p>
<p>Dari penjelasan dua kata diatas antara agama dan filsafat, dapat disimpulkan dengan sedikit penjelasan bahwa agama merupakan sebuah ajaran suci manusia yang dengannya manusia menghambakan diri kepada Tuhan yang diyakininya. Sedangkan filsafat, merupakan jalan mencari pengetahuan dengan kinerja penalaran akal, untuk mencapai kebaikan dan kebijaksanaan. Jika kebenaran filsafat bernilai ilmiah, kebenaran agama bernilai dogmatic/pengkultusan/suci.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tim Penyusun, <strong><em>Kamus Bahasa Indonesia</em></strong>, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008. Hal: 8.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, <strong><em>Kamus Inggris-Indonesia</em></strong>, terj. An-Englis-Indinesian Dictonary. Jakata : Gramedia Pustaka Utama. Hal. 476</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Munawwir. AW, <strong><em>Kamus al-Munawwir; Arab dan Indonesia Terlengkap</em></strong>. Surabaya; Pustaka Progressif, 1997. Hal: 437</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ali Mu’bad Furgholi, <strong><em>Dirâsât fi al-Milal wa an-Nihal,</em></strong> diktat kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo 2009. Hal: 11.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Darji Darmodiharjo, <strong><em>Pokok-pokok Filsafat Hukum.</em></strong> Cet.VI, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995. Hal. 5-6.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Sayyed Hossein Nasr, <strong><em>Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam</em></strong>. Bandung: Mizan Media Utama, 2003. Hal: 29</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Ahmad Fuad al-Ahwani, <strong><em>Fi Âlimi al-Falsafah. </em></strong>Kairo : al-Hai’ah al-Mishriyah al-Âmah, 2009. Hal: 45.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Sayyed Hossein Nasr, <strong><em>Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam; Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam</em></strong>. Bandung: Mizan Media Utama, 2003. Hal: 30.</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/beneran/'>BENERAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=240&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/16/agama-dan-filsafat-dalam-makna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Akal</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/10/islam-dan-akal/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/10/islam-dan-akal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 01:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[BENERAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[“Laqod kholaqna al-insana fi ahsani taqwim” Manusia adalah mahluk Tuhan yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk, seluruh anggota tubuhnya sebagai satu &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/10/islam-dan-akal/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=236&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>“Laqod kholaqna al-insana fi ahsani taqwim”</em></p></blockquote>
<p><em></em>Manusia adalah mahluk Tuhan yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk, seluruh anggota tubuhnya sebagai satu kesatuan jasad dari kepala hingga ujung kaki, dengan fungsi-fungsinya yang saling bersinergi. Tapi, satu-satunya alasan terpenting dari kesempurnaan diciptakannya manusia adalah, karena manusia memiliki akal.</p>
<p>Fungsi akal manusia adalah berfikir, untuk menimbang menilai serta menganalisa. Dan yang sesuai dengan pertimbangan akal atau yang dipahami dengan akal bisa disebut rasional, sebaliknya yang tidak masuk akal disebut irasional.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dalam ajaran Islam, akal memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Eratnya hubungan agama dengan akal, bagaikan dua belah mata uang yang tak bisa dipisahkan, sebab ajaran Islam tidak akan diterima dan dipercaya kecuali sesuai nalar akal.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Al-Qur’an dalam sejarah turunnya, ayat pertama yang diturunkan dalam surat al-Alaq, sebuah perintah untuk membaca <em>Iqra’. </em>Bahkan banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan betapa pentingnya akal, seperti pada surat al-Baqarah ayat 164<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> dan 242<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> dan lain sebagainya.<em> </em></p>
<p>Perintah untuk berfikir selalu belajar mengambil hikmah yang pada prosesnya membutuhkan analisa melalui nalar akal dan pada akhirnya menambah keyakinan. Maka tak salah bila Muhammad ‘Imaroh ketika menjelaskan maqom akal dalam pemikiran Abduh, menjadikan akal sebagai asas utama dalam Islam, sebab akal merupakan perantara untuk meyakini Islam secara benar.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Bahkan Muhammad Abduh tokoh reformis Islam abad 19 dalam buku Risalah Tauhidnya, benar-benar ingin menjadikan akal motor penggerak tindakan manusia untuk memajukan kehidupannya. Beliau berpendapat untuk menyempurnakan dan memajukan agama ada dua perkara yang harus penuhi, yakni; kemerdekaan berkehendak (istiqlalu al-Irodatu) dan kemerdekaan akal dalam berpendapat dan berfikir (istiqlalu ar-ra’yu wa al-fikru)<a title="" href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Dua syarat pokok yang Abduh canangkan diatas merupakan upaya agar umat Islam bisa berubah untuk menentukan yang terbaik bagi mereka, sebab tidak akan berubah suatau kaum jika bukan karena kaum itu sendiri yang hendak berubah, disinilah bentuk dari <em>istilalu al-irodatu</em>. Serta agar umat muslim tidak terjerumus kedalam taqlid yang membuat umat Islam tidak berkembang dan stagnan dalam kejumudannya, disinilah diperlukannya <em>istiqlalu ar-ra’yu walfikr</em> (<em>al-aqlu</em>).</p>
<p>Setiap muslim dituntut benar-benar yakin bahwa dirinyalah yang menentukan nasib baik dan buruknya masa sekarang dan yang akan datang, memahami ajaran agama secara mendalam serta berfikir secara progresif  untuk menjawab tantangan zaman dan perkara-perkara baru, agar ajaran agama selaras dengan kondisi kemanusiaan dan bersanding dengan kemajuan zaman. Sehingga islam benar-benar terasa “<em>soleh likulli zamanin wamakanin”. </em><em></em></p>
<p>Lebih dari itu, Abduh yakin betul kemajuan yang telah dicapai oleh Eropa pada abad ke-16 Masehi, karena dua perkara diatas sudah dipenuhi, beliau menjelaskan “<em>Inna nasy’ata al-madinah fi uruba innama qomat ‘ala hadain ushulain” </em>(sesungguhnya berkembangya kota di Eropa ketika menegakkan dua perkara pokok ini).<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Disinilah bentuk kepedulian Abduh untuk menyandingkan kehidupan masyarakat Islam dengan masyarakat Eropa yang sudah melangkah jauh melampaui umat Islam.</p>
<p>Pentingnya kebebasan akal atau kemerdekaan dalam berfikir juga diperjuangkan oleh tokoh feminis Mesir Qasim Amin, dalam bukunya “Tahrir al-Mar’ah”, setelah menjelaskan keadaan perempuan (Mesir) yang sangat memprihatinkan dalam keterpurukanya yang selalu mendapatkan prilaku diskriminasi yang beliau tulis dalam bab introduksi-nya, dengan bijak Qasim langsung menyodorkan pembahasan tentang modal utama melakukan pencerahan nasib perempuan, yaitu bab Pendidikan Perempuan.</p>
<p>Qasim yakin betul pendidikan dan pembelajaran yang merupakan proses untuk membuka akal nalar rasional bagi perempuan adalah solusi utama bagi kemerosotan yang terjadi pada umat.<em> </em>Karena dengan terbukanya akal perempuan, peran ilmu akan terasa satu-satunya yang dapat mengangkat keadaan manusia dari kerendahan diri dan keterpurukan menuju kemajuan, kehormatan dan kemulyaan.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <strong>KBBI</strong>, Jakarta : Pusat Bahasa, 2008. Hal. 1268<strong></strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Muhammad ‘Imaroh, <strong><em>al-Manhaju al-Islahiyu lil imam Muhammad Abduh</em></strong>, 2009. Hal. 69</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong> .</strong><strong>إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنْ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ</strong><strong></strong></p>
<p align="right"><strong> وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ</strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <strong>كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</strong><strong>  </strong><strong> </strong></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Muhammad ‘Imaroh, <strong><em>al-Manhaju al-Islahiyu lil imam Muhammad Abduh</em></strong>, 2009. Hal. 69</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Muhammad Abduh, <strong><em>Risalatu at-Tauhid</em></strong>. 2005. Hal. 113</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Muhammad Abduh, <strong><em>Risalatu at-Tauhid</em></strong>,  2005. Hal. 113</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Qasim Amin<strong>, <em>Tahriru al-Mar’ah,</em></strong><em> </em>hal.<em> 7</em></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/beneran/'>BENERAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=236&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/08/10/islam-dan-akal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM INDONESIA</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/07/01/islam-indonesia/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/07/01/islam-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 20:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[BENERAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Polosku 14 Juni 2009. Indonesia merupakan Negara relegius yang toleran. Memang di Negri ini tercatat ada beberapa macam agama, &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/07/01/islam-indonesia/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=224&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Catatan Polosku 14 Juni 2009.</em></p></blockquote>
<p>Indonesia merupakan Negara relegius yang toleran. Memang di Negri ini tercatat ada beberapa macam agama, mulai dari; Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu.</p>
<p>Dalam perjalanannya, kehidupan antar umat beragama di Indonesia terbilang harmonis. Walaupun pernah terjadi konflik antara umat Kristen dan Islam di Maluku, tapi konflik itu masih dalam kategori konflik skala kecil dan tidak berpengaruh terhadap tatanan kehidupan antar umat di daerah-daerah lainnya.</p>
<p>Keharmonisan hidup antar umat diatas tak lain karena, Indonesia melestarikan pluralitas kemajemukan dalam budaya, agama, bahasa serta ras atau etnis. Apalagi didukung oleh luasnya bentangan alam negri yang berbentuk kepualauan ini, sehingga dalam bingkai Republik Indonesia kemajemukan tidak terelakan lagi, dan penduduknyapun termasuk kategori heterogen.</p>
<p>INDONESIA DAN ISLAM</p>
<p>Penduduk Indonesia mayoritas menganut agama Islam, bahkan dunia mengakui Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Walaupun letak geografisnya tidaklah dekat dengan daerah asal mula munculnya agama Islam itu sendiri, yang berada di kawasan timur tengah.</p>
<p>Tinjauan historis menyatakan ketika Islam masuk ke nusantara, menunjukan adanya perbedaan dengan daerah-daerah lain yang dimasuki Islam. Dimana Islam masuk ke nusantara secara damai dan tanpa menimbulkan benturan dengan penduduk pribumi, sedangkan daerah lain terkadang terjadi gesekan dan benturan dengan penduduk asli daerah itu.</p>
<p>Nancy K Florida, peneliti dari Universitas Michigan Amerika Serikat, meneliti naskah-naskah kuno Jawa. Beliau menyatakan, ulama&#8217; (yang membawa Islam masuk ke Nusantara) lebih mendahulukan tasawwuf dalam mendekatkan diri kepada Sang Kholik dan ahlaq (amalus sholeh), sehingga bisa melebur dan menyatu dengan adat dan budaya negara Indonesia yang ketika itu dihuni oleh orang-orang yang menganut agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Dan negri ini, walaupun umat Islam menjadi penduduk mayoritas, tidak lantas founding father negri ini menjadikan Indonesia bersistem Negara Islam. Akan tetapi mereka menjadikan Indonesia bersistem demokrasi yang diperkaya dengan nilai religius. Sebagaimana pengakuan Muhammad Hatta, salah satu founding father Indonesia. Beliau berkeyakinan pondasi demokrasi di Indonesia sudah cukup solid, karena didukung oleh kombinasi organik kekuatan sosial-relegius yang sudah mengakar di sebagian besar masyarakat kita.</p>
<p>Dan ternyata Islam itu sendiri tidaklah berseberangan dengan sistem demokrasi. Jika dikaji ulang pada masa Nabi Muhammad, kehidupan berdemokrasi dengan menjunjung asas musyawarah serta menjunjung perbedaan antar pemeluk agama dan kepercayaan saat itu, membuktikan Islam sejalan dengan kehidupan yang demokratis. Apalagi Allah SWT juga sudah menggambarkan permasalahan ini dalam surat Ali Imron ayat 159(1.</p>
<p>Bahkan ketika Syekh Yusuf Qardhawi berkunjung ke Indonesia pada tahun 2007 lalu. Menurutnya, Islam selaras dengan nilai-nilai demokrasi, Beliau menunjuk bukti Indonesia yang mayoritas Muslim terbesar di dunia, mampu membumikan secara bersamaan nilai-nilai Islam dan demokrasi.</p>
<p>KARISMA ISLAM INDONESIA</p>
<p>Islam Indonesia sebenarnya memiliki karisma tersendiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun terkadang ada anggapan karena letak geografisnya jauh dari daerah asal Islam itu sendiri, keabsahan nilai-nilai ajaran Islam Indonesia dianggap meragukan sehingga bisa dipandang sebelah mata.</p>
<p>Dalam pidato Presiden Amerika Barrack Husein Obama, ketika melakukan kunjungan ke Kairo Mesir 4 juni lalu. Kurang lebih Obama menyebut tiga kali nama Indonesia, hal itu sebagai penguat latar belakangnya serta bukti pengalamannya bahwa ia mengetahui Islam. Disampin itu, Islam Indonesia menjadi rujukan Obama sebagai Islam yang menjamin kemerdekaan beragama dan persamaan hak perempuan.</p>
<p>Pemerintah Rusia memilih dan mempercayai Indonesia untuk berdialog antar agama (interfaith dialog) yang berlangsung di Moskwa Rusia, 1-2 Juni lalu. Hal itu karena Setelah empat dekade dalam tindasan rezim komunis, kehidupan beragama di Rusia kembali mengalami perkemabangan. Dan sisi kompleksitas persoalan, Rusia dan Indonesia dihadapkan pada tantangan serupa dalam mengelola pluralisme masyarakatnya. Sama-sama pluralis dari sisi etnis, bahasa, budaya, dan agama, Rusia juga dihadapkan pada persoalan besar terkait relasi antaragama dan kebebasan beragama.</p>
<p>Lebih dari itu semua, Jamal al-Banna adik kandung Hasan al-Banna, seorang pemikir Islam pada masa kini. Ketika diwawancarai oleh mahasiswa Indonesia di Mesir, yang merupakan redaktur Jurnal Averrose (salah satu Jurnal yang diterbitkan Mahasiswa Indonesia di Mesir). Di dalamnya terdapat pertanyaannya, Apa pendapat Anda tentang negara Saudi Arabia yang mengklaim dirinya sebagai negara Islam? Apakah negara-negara seperti Indonesia atau Malaysia bukan termasuk negara Islam?</p>
<p>Beliau menjawab : Saya mohon, tolong jauhkan, sekali lagi jauhkan kata “Islam” dari Saudi Arabia. Sudah saya katakan, Saudi Arabia bukan negara Islam. Buang jauh-jauh negara Saudi Arabia dari wilayah Islam, buang saja ke “tong sampah”. Saudi Arabia baru bisa cocok kalau disebut sebagai negara Wahabi. Lihat saja bagaimana fanatiknya mereka terhadap Muhammad bin Abdul Wahab, sama sekali tidak toleran terhadap perbedaan. Bahkan, hemat saya, Indonesia dan Malaysia malah justru jauh lebih Islam daripada Saudi Arabia. Sebab di sana perbedaan masih dihormati. Kita lihat dalam ajaran Islam mengatakan, “perbedaan adalah rahmat.” Di Saudi Arabia tidak seperti itu, kalau orang berfikir agak sedikit berbeda, langsung dituduh berbuat bid`ah.</p>
<p>Kalau dilihat dengan seksama tanpa kasat mata beberapa pargraf di atas, membuktikan Islam Indonesia memiliki pengaruh yang besar di mata dunia serta tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan inilah nilai lebih Islam Indonesia yang tidak dimiliki oleh Negara-negara Islam lainnya.</p>
<p>Islam Indonesia sering menjadi rujukan untuk mencerminkan bahwa Islam rahmatan lil’alamien, bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan umat antar agama lainnya. Itulah jati diri dan karisma yang dimiliki oleh Islam Indonesia, dan ini harus tetap dijaga hingga kapanpun oleh umat muslim Indonesia dari berbagai latar belakang instansi dan organisasi keislaman yang ada di nusantara.</p>
<p>EPILOG</p>
<p>Indonesia sebagai negara yang luas berbentuk kepulauan dan berpenduduk heterogen, Keharmonisan dalam bingkai kehidupan masyarakat religius, merupakan bukti Indonesia adalah Negara relegius yang penuh toleransi.</p>
<p>Dunia membuktikan, bahwa demokrasi Indonesia tidaklah berseberangan dengan ajaran Islam yang memiliki kesamaan tujuan memberikan kedamaian dan menciptakan kehidupan yang harmonis. Tak salah bila Islam Indonesia sering dijadikan rujukan oleh Negara lain, bahkan tokoh berpengaruh di dunia sekalipun, untuk menyampaikan pesan perdamaian dan menciptakan masyarakat yang bermartabat dan harmonis.</p>
<p>Ini kiranya yang harus oleh seluruh tetap dijaga kelestariannya lapisan umat muslim Indonesia, sebagai ciri khas tersendiri Islam Indonesia di mata dunia.</p>
<p>RIFAI, Kairo 14 Juni 2009.</p>
<p><em>1) Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/beneran/'>BENERAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=224&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/07/01/islam-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Qasim Amin</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/30/biografi-qasim-amin/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/30/biografi-qasim-amin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 15:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[BENERAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Background yang melatar bekangi Qasim menjadi salah satu tokoh terkemuka di Mesir dalam memajukan peran perempuan sekaligus masyarakat Mesir di &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/30/biografi-qasim-amin/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=205&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Background yang melatar bekangi Qasim menjadi salah satu tokoh terkemuka di Mesir dalam memajukan peran perempuan sekaligus masyarakat Mesir di masa awal kebangkitannya.</p></blockquote>
<p>Adalah <a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/11842_204837230954_154058685954_4119272_8339025_a.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-206" title="11842_204837230954_154058685954_4119272_8339025_a" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/11842_204837230954_154058685954_4119272_8339025_a.jpg?w=529" alt=""   /></a> dengan gagasan-gagasan pembaharuannya terhadap nasib peremepuan, cendekiawan Islam ini memberikan tanda bukti jasanya dalam membela dan memperjuangkan hak-hak perempuan di dunia Islam, dari tradisi yang telah membuat perempuan terkungkung dalam kehidupan sosial yang diskriminatif.</p>
<p>Qasim Amin dalam bukunya “Tahrir al-Mar’ah”, setelah menjelaskan keadaan perempuan (Mesir) yang sangat memprihatinkan dalam kehidupan bermasyakarakat serta prilakunya dalam kehidupan umat yang tertuang dalam bab introduksi-nya, dengan bijak Qasim langsung menyodorkan kepada pembaca pembahasan tentang modal utama melakukan pencerahan nasib perempuan, yaitu bab Pendidikan Perempuan.</p>
<p>Qasim yakin betul pendidikan dan pembelajaran adalah solusi utama bagi kemerosotan yang terjadi pada umat, dalam penjelasannya :</p>
<p><em>“Sesungguhnya pembelajaran/pendidikan pada hakekatnya merupakan sebuah kebutuhan dari seluruh kebutuhan hidup manusia. Dan sekarang dengan pendidikan setiap manusia berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan materi dan rohani. Itu karena ilmu merupakan perantara satu-satunya yang dapat mengangkat keadaan manusia dari kerendahan diri dan keterpurukan menuju kemajuan, kehormatan dan kemulyaan”.</em><em></em></p>
<p>Dari keterangan itu Qasim ingin membawa dan mengajak seluruh elemen umat muslim pada umumnya dan masyarakat Mesir khususnya, untuk selalu memperhatikan betapa pentingnya peran pendidikan guna mencapai kemajuan, sehingga kebahagiaanpun didapat dari kebahagian materi dan non materi.</p>
<p>Kaitannya dalam memperjuangkan hak perempuan yang selalu mendapat prilaku diskriminatif, Qasim berharap dengan pendidikan perempuan dituntut bisa mandiri menjalani kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Sebab jika tidak maka perempuan akan mudah ditipu dan ditindas oleh lelaki, terutama dalam keluarga.</p>
<p>Dari segala kekhawatiran Qasim terhadap diskriminasi dan perihal yang membuat perempuan menjalani hidupnya secara memprihatinkan akibat tidak adanya bekal pendidikan yang mumpuni. Qasim berujar : <em>“Apakah hal itu akan terjadi jika perempuan itu berpendidikan?”.</em></p>
<p>Dalam pandangannya, Qasim cenderung melihat keadaan perempuan pada masanya jarang yang memanfaatkan kekuatan akalnya untuk melakukan perkara yang dapat meninggikan harga diri dan martabatnya. Sehingga konstribusi perempuan tidak pernah nampak dalam permukaan kehidupan sosial selain berkutat pada perkara dalam rumah saja.</p>
<p>Pada dasarnya Qasim ingin menghilangkan tradisi yang beranggapan perempuan hanya diam dirumah menjadi ibu rumah tangga dan urusannya cukup pada ambang pintu rumah saja. Sebab dengan tradisi yang mengakar itu wanita hanya tampak dijadikan tempat pemuas nafsu belaka, bahkan Qasim dengan mengistilahkan kehinaan perempuan sebagai hewan lembut yang memenuhi temannya dalam memuaskan dari kebiasaanya mempersilahkan untuk bersenang-senang cuma itu saja dan tidak lebih.</p>
<p>Tokoh feminis Mesir ini merupakan sarjana awal Islam yang berhasil menjadi salah satu transformer kemajuan Barat kedalam dunia Islam. Sehingga dunia Islam tidak lagi buta dengan kemjuan yang telah Barat capai, lebih dari itu agar Islam bisa mengomparasikan kemajuan yang telah Barat capai dengan ajarannya. Sebagaimana kaidah <em>“Al-Muhafadatu ala Qodimi as-Soleh wa al-Akhdu bi al-Jadidi al-Aslah”</em>.</p>
<p>Qasim Amin lahir dari seorang Ayah yang berdarah Turki dan ibu berdarah Mesir. Qasim keluar dari rahim sang ibu pada awal bulan Desember tahun 1864 di Alexandria kediaman sang Ibu, ada yang mengatakan pula di Tharah (daerah dekat Kairo) tempat sang ayah bertugas.</p>
<p>Qasim menamatkan pendidikan dasarnya di Alexandria. Semenjak keluarganya pindah dan menetap di Kairo Qasimpun meneruskan studinya di sana, dan berkat ketekunannya tepat pada umurnya yang ke-20 tahun 1881 M mendapat gelar Lc pertama kali di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan Manajemen sebelum adanya Universitas dan itupun lulusan perdana. Qasim juga termasuk murid dari madrasah yang dikelola tokoh intelektual reformis Islam Jamaluddin Al-Afghani ketika berada di Mesir saat itu.</p>
<p>Pada tahun ini pula sarjana muda Islam ini bisa melanjutkan studinya ke-Perancis. Negara yang pernah ditempati 55 tahun lebih dulu oleh senior yang menjadi inspiratornya, Rifaah Tahthawi. Seorang sarjana muda Al-Azhar yang pertama kali diutus ke Prancis pada tahun 1826 untuk mendampingi para utusan pemimpin Mesir guna mempelajari cabang ilmu manajemen, seni kebudayaan, dan ilmu pengetahuan disana. Tapi berkat kecerdasannya Thahtawi menguasai ilmu yang tidak dikuasai oleh para utusan itu. Hingga beliau menjadi tokoh terkemuka yang membawa pencerahan bagi kehidupan masyarakat Mesir.</p>
<p>Pada tahun 1883 Prancis menjadi sejarah saksi bisu pertemuan dan berkumpulnya tokoh reformis Islam antara Jamaluddin Al-Afghani yang ingin melepaskan India dari Penjajah dan Muhammad Abduh setelah tragedi pengusirannya, tentu juga sang tokoh pembela kaum hawa Qasim Amin.</p>
<p>Dengan bertemunya sang junior Qasim dengan dua tokoh besar itu, Qasim dapat meneruskan penyelamannya mendalami pemikiran Al-Afghani dengan ide-ide nasionalismenya yang pernah diikuti madrasahnya semasih di Kairo, ditambah dengan pemikiran sang ulama Azhar yang tekemuka hingga Qasimpun bisa menadalami kajian turots ke-Islam-annya.</p>
<p>Semakin lengkap intelektuakitas yang dimiliki oleh Qasim dengan situasi masyarakat Paris yang kondusif membentuk seseorang menjadi Ilmuan, serta faktor akademisnya yang beliau selesaikan secara sempurna 4 tahun pendidikannya di Universitas Montpellier Prancis Fakultas Hukum.</p>
<p>Itulah background yang melatar bekangi Qasim menjadi salah satu tokoh terkemuka di Mesir dalam memajukan peran perempuan sekaligus masyarakat Mesir di masa awal kebangkitan Mesir.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><strong>Rujukan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Qasim Amin<strong>, <em>Tahriru al-Mar’ah.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dr. Muhammad Imaroh, <strong><em>Qasim Amin; A’mal al-Kamilah</em></strong></p>
</div>
</div>
<p>Dr. Husein Fauzi Nizar, <em><strong>Rifaah Thahthawi; Ro’idu Fikr wa Imam Nahdzhoh</strong></em></div>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/beneran/'>BENERAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=205&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/30/biografi-qasim-amin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/11842_204837230954_154058685954_4119272_8339025_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">11842_204837230954_154058685954_4119272_8339025_a</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DEBAT GUSDUR VS SUUD</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/29/debat-gusdur-vs-suud/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/29/debat-gusdur-vs-suud/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 09:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASALAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Suatu perdebatan kadang muncul diantara kita apapun permasalahannya dan dimanapun tempatnya. Seperti di bawah ini, perdebatan antara dua mahasiswa al-Azhar &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/29/debat-gusdur-vs-suud/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=199&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/n1276515800_30259801_3312072.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-200" title="n1276515800_30259801_3312072" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/n1276515800_30259801_3312072.jpg?w=300&#038;h=187" alt="" width="300" height="187" /></a>Suatu perdebatan kadang muncul diantara kita apapun permasalahannya dan dimanapun tempatnya. Seperti di bawah ini, perdebatan antara dua mahasiswa al-Azhar Cairo Fakultas Syari’ah, Gusdur asal bondowoso dan Muhammad Su’ud asal Pamekasan Madura. Perdebatan ini berawal ketika penulis, menulis sebuah statemen yang berkaitan dengan fikih di dinding Facebook penulis. Memang mereka berdua sudah di add menjadi temen dalam facebook penulis, sehingga bisa melihat kegiatan apa saja yang sudah penulis lakukan dalam facebook . Berikut ini perdebatan mereka :</p>
<p>Dalam hukum fikih, fakta sosial jelas bisa menjadi dasar penetapan hukum. Karena itulah ada kaidah terkenal, “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” hukum berubah sesuai dengan waktu dan tempat. (Mas. Ulil)</p>
<p>(Suud) Selain itu hukum Fiqih juga akan berubah tergantung motif ['illat] yang melatar belakanginya. Al-Hukmu ya duru ma&#8217;a al-&#8217;illati wujudan wa &#8216;adaman, begitulah kaidah fiqihnya. Minuman yang mengandung kadar alkohol 6% haram dikonsumsi di negara tropis semisal Indonesia karena &#8216;illatnya memabukkan[sumiya al-khamru khamran li mukharatihi li al-aql: dinamakan khamr karena meracuni akal]. Namun ketika minuman yang kadar alkoholnya 6% tersebut dikonsumsi di daerah kutub yang sangat dingin, maka hukumnya akan bisa berubah;dari haram menjadi halal, karena tidak memabukkan. Ketika &#8216;illatnya pudar [sifat memabukkannya hilang], maka hukum keharamannya hilang. Di sinilah sebenarnya terkandung pesan bahwa Islam itu shalih likulli zaman wal-makan.]</p>
<p>(gusdur) Betul tuh&#8230; shalih likulli zaman tapi jangan cuma berbach (omong doank) harus dipertanggung jawabkan. tau-tau berubah sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang. &#8220;assyari&#8217;ah tsabitatun lakinnal ahwat tataghayyar&#8221;</p>
<p>(Suud) Assyari&#8217;ah tsabitun lakinnal fahmu &#8216;anhu yataghayyar hasba al-zaman wa al-makan. pemahaman Fiqih Klasik tak semua relevan masa sekarang, semisal pemetaan wilayah : daru al-harab dan daru al-Islam, karena masa sekarang wilayah dunia sudah terbagi berdasarkan batas teritorial negara kebangsaan.</p>
<p>(Gusdur) Mantap, kalau darul al-harb dan darul al-islam, kita sudah belajar ketika kita tingkat 2 tentang ini di madah qodhoya mu&#8217;ashirah. Kalau saya tidak setuju dengan pendapat ulama membagi daerah menjadi dua, darul al-harab dan al-islam, karena bukan perang fisik saja yang kita hadapi akan tetapi perang pemikiran dan ideologi yang kian menggempur, orang yang menyerang islam dengan pemikirannya pastilah dia muharib. Jadi saya tidak setuju dengan pembagian ini.</p>
<p>“taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” akan tetapi jangan salah memahami maknanya, karena jika salah seseorang akan dengan mudah mempermainkan hukum. Berhati-hatilah&#8230;</p>
<p>(Suud) Musuh Islam yang paling berbahaya adalah musuh dalam selimut; musuh umat Islam yang muncul dari tubuh umat Islam sendiri semisal eklusivisme keberagamaan, radikalisme, pembacaan terhadap pesan agama secara tektualis-normatif-ahistoris, sakralisasi pemikiran ulama yang seakan-akan pemikiran tersebut sudah final kebenarannya sehingga tak menyisakan ruang untuk menggugat, tradisi tak toleransi dengan perbedaan. Sebenarnya umat Islam tak perlu terlalu minder dengan realitas di luarnya. Umat Islam seharusnya mampu berdamai dengan kelompok lain. Tak baik apabila umat Islam selalu mengkambing hitamkan kelompok di luarnya sebagai musuh yang seolah-olah selalu mengancam eksistensinya. Kerusakan moral pemuda sering kali dikait-kaitkan dengan adopsi tradisi barat. Ketika barat menampilkan hedonisme di media-media dianggapnya sebagai upaya untuk menyerang moralitas umat Islam, padahal tak selamanya begitu.</p>
<p>Umat Islam akan lebih mudah waspada dengan budaya negatif yang muncul di luarnya. Mereka hanya akan sulit waspada dan mudah terkecoh ketika tradisi negatif tersebut muncul dari tubuh umat Islam sendiri dikarenakan tradisi tersebut berlabel Islam atau dikemas dengan kemasan Islam. Misalnya, FPI mencampur adukkan antara premanisme dengan dakwah Islamiyah. MMI [majlis Mujahidin Indonesia] sering kali mengkaitkan krisis di Indonesia dengan sistem pemerintahan;menganggap sistem kenegaraan Indonesia dengan thoghut yang perlu diganti. Bagaimana umat Islam di Indonesia akan merasa damai apabila umat Islam menanamkan benih kebencian dengan sesama muslim?</p>
<p>Pemalsuan pemahaman dan mempermainkan hukum Fiqh perlu kita waspadai, namun kebiasaan mensakralkan pendapat ulama [ulama:juga manusia yang tak lepas dari salah dan kepentingan] perlu kita buang jauh-jauh apabila kita mau menjadi manusia yang merdeka. Pendapat ulama bagi kita sebenarnya hanya sebatas standar pembacaan dia yang ditawarkan kepada kita yang posisinya boleh kita ikuti ataupun tidak. Kita boleh berbeda pendapat dengan pendapat ulama tersebut.&#8221; Man ijtahada fa ashaba lahu ajrani wa illam yusyib lahu ajrun wahid&#8221; adalah kemurahan Tuhan untuk semua bukan untuk golongan tertentu. wallahu a&#8217;lam bisshowab.</p>
<p>(Kesimpulan penulis) sebenarnya islam tidaklah rumit, islam itu fleksibel dan elastis. sebab Allah tidak pernah dholim bagi hamba-Nya yang ingin menjalankan ajara-Nya, sehingga bias islam tetap relevan kapanpun dan dimanapun. hal itu tercapai bila pembacaan teks suci Tuhan tidak mengenyampingkankonteks yang berlaku.</p>
<p>tapi sayangnya, terbelenggunya pemikiran rasional umat islam serta kecenderungannyamendewakan ulama&#8217; terdahulu menjadikan islam berwajah rumit bin sulit. kontekstual tak lagi menjadi pegangan umat, sebab hanya terpaku pada ulama&#8217; yang mereka dewakan. padahal kontekstual ulama&#8217; yang mereka dewakan itu tidaksemuanya bersinergi dengan kontekstual pada masa kekinian. wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><em><strong>NB : Tulisan ini diposting di catatan FB saya pada 05 Juni 2009.</strong></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/asalan/'>ASALAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=199&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2011/04/29/debat-gusdur-vs-suud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2011/04/n1276515800_30259801_3312072.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">n1276515800_30259801_3312072</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi al-Ma&#8217;mun</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2010/12/15/mimpi-al-mamun/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2010/12/15/mimpi-al-mamun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 01:16:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASALAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[ibnu nadim mencatat salah satu penyebab gencarnya penerjemahan karya filsafat yunani di dunia islam. pernah khalifah al-ma&#8217;mun di dalam tidurnya &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2010/12/15/mimpi-al-mamun/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=193&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/12/448px-aristotle_altemps_inv8575.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-194" title="448px-Aristotle_Altemps_Inv8575" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/12/448px-aristotle_altemps_inv8575.jpg?w=224&#038;h=300" alt="" width="224" height="300" /></a>ibnu nadim mencatat salah satu penyebab gencarnya penerjemahan  karya filsafat yunani di dunia islam. pernah khalifah al-ma&#8217;mun di dalam tidurnya memimpikan  seorang Aristoteles yang sedang duduk di atas ranjangnya, seraya al-ma&#8217;mun menceritakan mimpinya :</p>
<p>saya bagaikan berada di antara kedua belah tangannya, dan dengan rasa hormat saya bertanya kepadanya, siapa anda? dia berkata : Aristoteles, saya merasa bahagia dengannya kemudian saya berkata, wahai filosof mungkinkah saya bertanya padamu? dia menjawab : bertanyalah! maka saya bertanya, apa itu kebaikan? dia berkata : apa yang baik menurut akal, saya melanjutkan, kemudian apa? dia menjawab : apa yang baik menurut jumhur (mayoritas) kemudian apa? dia menjawab kemudian tidak ada kemudian.</p>
<p>(dr. amiroh hilmi mathor/ al-fikru al-islami wa turots al-yunani)</p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/asalan/'>ASALAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=193&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2010/12/15/mimpi-al-mamun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/12/448px-aristotle_altemps_inv8575.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">448px-Aristotle_Altemps_Inv8575</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JANGAN TAMBAH DUKA KORBAN BENCANA</title>
		<link>http://neosufizm.wordpress.com/2010/11/06/jangan-tambah-duka-korban-bencana/</link>
		<comments>http://neosufizm.wordpress.com/2010/11/06/jangan-tambah-duka-korban-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 12:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifai</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASALAN]]></category>
		<category><![CDATA[Semua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://neosufizm.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[INDONESIA BERDUKA&#8230; indonesia merupakan negara kepulauan. dengan berjajarnya pulau-pulau yang terbentang sepanjang nusantara, keindahan panorama alam benar-benar terlukis dari indahnya &#8230;<p><a href="http://neosufizm.wordpress.com/2010/11/06/jangan-tambah-duka-korban-bencana/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=182&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INDONESIA BERDUKA&#8230;</p>
<p>indonesia merupakan negara kepulauan. dengan berjajarnya pulau-pulau yang terbentang sepanjang nusantara, keindahan panorama alam benar-benar terlukis dari indahnya bentangan laut, lembah, bukit, dan pegunungan di setiap pulau itu.</p>
<p>dan kini secara bersamaan penduduk diantara pulau-pulau itu, mengalami ujian yang sangat berat dari alam. gempa di pulau mentawai yang kemudian disusul tsunami, lebih dahsyat lagi meletusnya gunung merapi di sleman yogyakarta.</p>
<p>selain bencana itu memakan korban jiwa, keadaan alam telah memporak-poranda kehidupan mereka. rumah mereka hancur, masa depan mereka terkatung-katung, bahkan untuk kehidupan saat ini mereka hanya mengharap bantuan bagi orang-orang yang memiliki hati nurani.</p>
<p>bagi keberlangsungan kehidupan manusia, hidup saling membantu dan tolong menolong serta gotong royong adalah sebuah keniscayaan. sebab manusia hidup di muka bumi tidak dengan seorang saja atau hanya satu komunitas saja, melainkan ada orang-orang lain dan komunitas-komunitas lain yang saling membutuhkan. nelayan, petani, pedagang dan lain sebagainya saling membutuhkan, bahkan orang mati sekalipun masih membutuhkan orang lain.</p>
<p>dan tentunya membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan adalah sebuah wujud untuk mempertahankan eksistensi dari manusia itu sendiri, agar manusia tetap ada dengan berbagai macam keberadaannya. dan tidak individualis yang maunya merasakan kesenangan dan kegembiraan dengan sendirinya tanpa memikirkan orang lain yang sedang menderita.</p>
<p>terdengar kabar dengan santernya di media massa, ada kelompok dari sebagian instansi yang mengatas namakan agama, mengaharamkan bantuan yang menurut mereka dihasilkan dari pekerjaan yang melanggar norma agama. hal ini tentunya sangat berpengaruh bagi ketersediaan bantuan bagi penduduk yang membutuhkan karena musibah itu.</p>
<p>mudah-mudahan saja kelompok ini bisa menyediakan bantuan yang memadai dari keadaan masyarakat yang membutuhkan itu. dan hal ini hemat penulis tidak mungkin, sebab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi korban musibah saat ini, sangat membutuh sumber bahan kehidupan dari makanan, obat-obatan bahkan pakaian, dengan jumlah yang sangat besar. belum lagi bagaimana membangun kehidupan mereka pasca bencana, terutama perumahan dan infrastruktur dan lain sebagainya.</p>
<p>mari sejenak kita nikmati sedikit gambar korban bencana yang penulis ambil dari media massa kompas dibawah ini :</p>
<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/4057889p.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-183" title="4057889p" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/4057889p.jpg?w=529" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/4057889p.jpg"></a><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1753197620x310.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-185" title="1753197620X310" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1753197620x310.jpg?w=529" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1753197620x310.jpg"></a><a href="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1858597620x310.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-186" title="1858597620X310" src="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1858597620x310.jpg?w=529" alt=""   /></a></p>
<p>resapi betul keadaan mereka, bayangkan bila mereka adalah anda, orang tua anda, nenek dan kakek anda, dan orang terdekat anda, apa yang anda harapkan untuk mereka? ya, bantuan.</p>
<p>mereka sudah cukup menderita dan berduka dengan keadaan ini, jangan tambah duka mereka dengan memperlambat laju ketersediaan bantuan kepada mereka. entah dengan alasan kesucian yang diagung-agungkan, terutama permasalahan bagaimana cara memperoleh seseorang untuk membantu, sebab itu adalah masalah pribadi manusia itu sendiri dengan Tuhan. sedangkan membantu, hubungannya atas dasar sesama dan demi keberlangsungan hidup manusia.</p>
<p>kita tidak bisa mengintervensi bagaimana Tuhan mengeksekusi penghukuman itu, walaupun sudah mengetahui analogi hukum itu bagi yang mempelajarinya dari berbagai interpretasi keilmuan. sebab itu diakhirat kelak dan hidup berjalan dengan segala hikmah Tuhan.</p>
<p>inilah yang bisa penulis bisa torehkan sebagai bentuk simpati, selain do&#8217;a agar mereka diberikan keteguhan dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p>DUKA KITA BERSAMA&#8230;</p>
<br />Filed under: <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/asalan/'>ASALAN</a>, <a href='http://neosufizm.wordpress.com/category/semua/'>Semua</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/neosufizm.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/neosufizm.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=neosufizm.wordpress.com&amp;blog=7083827&amp;post=182&amp;subd=neosufizm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://neosufizm.wordpress.com/2010/11/06/jangan-tambah-duka-korban-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a9c823b103a4b91d952c6408e898c557?s=96&#38;d=&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">neosufizm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/4057889p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4057889p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1753197620x310.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1753197620X310</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://neosufizm.files.wordpress.com/2010/11/1858597620x310.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1858597620X310</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
