Al-Azhar dan Keilmuan Islam


Oleh; Rifai

Al-Azhar sebagai institusi keilmuan tertua Islam Sunni, mengajarkan para sarjananya untuk menggunakan metodologi ilmiah dalam menjaga dan memperkuat kazanah keilmuan Islam, sehingga bisa disebut sebagai alim/ulama. Tapi tidak hanya di situ, al-Azhar mengajarkan untuk menjadikan ilmu agama sebagai sebuah kesadaran yg ditransformasikan menjadi laku. Menjadikan ilmu agama tidak hanya sebagai obyek tapi juga subyek. Di sini akan menuntut sarjana Islam selain menjadi ulama juga sebagai amil.

Oleh karenanya, para masayikh tak bosan menganjurkan para muridnya untuk menggunakan mazhab  akidah Asy’ari dan Maturidi, fikih 4 mazhab, serta mazhab tasawuf moderat yg mengintegrasikan ilmu dan amal, syariat dan hakikat sebagaimana tasawwuf Imam Ghazali. Dengan mazhab itu seorang sarjana Islam dituntut bisa membuktikan secara ilmiah epistemologi keilmuan Islam yg tekonstruk secara kokoh. Selain menjadikan sebagai kesadaran laku keislaman pada dirinya.

Hal ini yg menjadikan al-Azhar bisa mempertahankan jati dirinya sebagai menara ilmu dan institusi keilmuan tertua Islam Sunni. Di tengah pengaruh keilmuan Barat yg hanya memuaskan diri dengan metodologi. Dan sebagian kelompok Islam yg berusaha meruntuhkan bangunan budaya keilmuan Islam, dengan semangat pembaharuan liberalis dan ada juga semangat mengembalikan kejayaan Islam awal para fundamentalis.

Kairo, Rabu 24 Juli 2015.

Syeikh al-Azhar Ahmad Thayyib dengan Perumpamaannya


Grand Syeikh al-Azhar Ahmad Thayyib
Grand Syeikh al-Azhar Ahmad Thayyib

Oleh; Rifai

Salah satu kecerdikan Grand Syeikh al-Azhar Ahmad Thayyib, untuk memberi pemahaman yang mudah dalam tulisannya, beliau selalu membumbui dengan perumpamaan. Dengan perumpamaan beliau mengemas pembahasan teori filsafat yang berat, rigit dan rumit, menjadi ringan serta mudah dicerna akal. Bahkan dengan perumpamaan, argumentasi yang beliau utarakan bisa diterima oleh siapapun pembacanya.

Semisal, untuk membantah filosof aliran empiris seperti Hume yang menafikan penyebab utama dari segala materi yang ada, dan melihat semua materi yang ada mengikuti dan melanjutkan materi lainnya dengan sendirinya. Dengan cerdas, Syeikh Ahmad Thayyib menggunakan perumpamaan bola billiard, untuk menbantah pandangan materialisme Hume itu. Bahwa, antara sesama bola billiard yang satu dengan yang lainnya tidak akan bersentuhan, tanpa adanya sesuatu yang menjadi pendorong satu bola ke arah bola-bola yang lain.

Dari perumpamaan ini, bukti adanya penyebab utama adalah sebuah keniscayaan tak terbantahkan, dan sulit untuk menolak argumentasi dari perumpamaan ini. Bahwa penyebab adanya materi bukanlah materi itu sendiri, melainkan penyebab utama yang tak bermateri.

kemudian, ketika beliau membantah terori gerak Marxis yang bertolak dari nalar dialektika, sehingga adanya gerakan seakan disebabkan gesekan energi negatif dan positif, anti tesa dan tesa, antara kaum borjuis dan proletar. Syeikh Ahmad Thayyib, mengumpamakan gerakan ini seperti baterei yang berisi energi listrik positif dan negatif, kemudian menggerakan suatu mainan. Untuk membantah hal itu, beliau menghadirkan perumpamaan teori gerak yang didasari oleh satu sumber. Beliau memperlihatkan perumpamaan air mendidih dan bergerak, bahkan menyusut karena mendapatkan satu energi, yaitu energi panas api.

Dari perumpamaan ini, Syeikh Azhar ingin mengemukakan bahwa gerakan yang ada di alam semesta tidaklah berasal dari gesekan materi, melainkan berasal dari satu sumber energi Yang Maha Kuasa.

Kairo, Selasa 7 April 2015.

Humanisme dan Etika Religius


Oleh; Rifai

Analisa kedua terma diatas kurang banyak terekspos oleh para sarjana Islam. Seakan tenggelam dalam pembahasan yang melangit dan tak menyentuh realitas kehidupan dan nilai-nilai etik kemanusiaan, sedangkan yang ramai diperbincangkan teori metafisis teologi. Walaupun demikian, tidak sedikit para mutakallimin dan filosof Islam, yang sebenarnya jika ditelisik ulang dari nalarnya juga terkandung nilai-nilai humanis dan etis, tapi jarang disentuh saja. Sebagaimana jika mengulas nalar Imam Asy’ari, menyangkut perkara yang sangat mendasar dalam perbuatan dan nilai etik kemanusiaan.

Perkara yang sangat mendasar untuk dianalisis sebagai titik pijak nilai humanis dalam Islam, adalah mengenai perbuatan manusia itu sendiri. Apakah perbuatan manusia sudah ditentukan untuknya (majbur) atau kehendak mutlak melalui pilihan yang dipilihnya sendiri (ikhtiyar)? sebagian pemikir ada yang menilai Imam Asy’ari sebagai jabariyan, adapula yang menilai ikhtiyariyan, ada juga yang memandangnya moderat di tengah antara kedua pemahaman ini dengan pemahaman kasab-nya.

Untuk menjelaskan hal ini, harus merunut pada pemahaman pelaku hakiki, yang menjadikan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada (mukhrij min al-adam ila al-wujud). Tentu kriteria ini mengantarkan pada muhdits, Tuhan yang menjadikan sesuatu yang baru menjadi ada. Maka semua perbuatan dan kejadian, terdapat pada kekuasaan Tuhan, sebagai pelaku utama. Tentu bukan manusia, yang masih membutuhkan sesuatu untuk menjadikan dan melakukan sesuatu. Lalu dimana posisi kekuasaan manusia terhadap kekuasaan Tuhan itu? Kekuasaan manusia selalu bergandengan (isytirak) dengan kekuasaan Tuhan, sesuai dengan sejauh mana manusia berkuasa/mampu untuk merubah sesuatu. Hal ini membuktikan bahwa, manusia masih memiliki hak prerogatif, untuk merubah dan menggapai sesuatu sesuai kemampuan dan kuasanya. Walaupun kemampuan manusia terbatas, terkadang ia mampu dan tidak. Maka dengan demikian kemampuan manusia tidak bersumber dirinya sendiri, melainkan hanya pelengkap sebagai aksiden pada dirinya. Pada hakekatnya penjabaran dua kuasa ini tidaklah berseberangan, jika Tuhan kuasanya untuk menjadikan (yakhluq), sedangkan manusia kuasanya kemampuan melalui usaha (yaksub). Disinilah letak nalar humanisme religius yang secara fundamen terkandung dalam nalar imam Asy’ari. Dengan tetap menjadikan manusia sebagai manusia, yang memiliki kuasa dan kemampuan dengan batasannya. Tanpa menggadaikan kayakinan, akan kuasa mutlak Tuhan yang maha kuasa.

Sedangkan untuk menelusuri nilai etika dalam nalar imam Asy’ari, eksplorasinya berpusat pada pemahaman baik dan buruk, yang dijadikan standar umum untuk menentukan nilai sesuatu. Jika perbincangan para filosof etik, berkutat pada teori urgensi konstruk pemahaman baik dan buruk, kebebasan berkehendak beserta tanggung jawabnya. Dalam pandangan pemikir penganut mazhab imam Asy’ari, membincang posisi baik buruk bukan melalui pengetahuan teori baik dan buruk itu. Tapi disana ada kebaikan dan keburukan yang independen di luar akal. Bukan berarti pembahasan ini kontradiktif dengan rasio, bahkan bisa menjadi fokus akal termasuk di dalamnya.

Disinilah nalar etika Imam Asy’ari, pembahasan baik dan buruk yang sebenarnya terkonstruk dengan adanya pahala dan dosa. Pembahasan baik dan buruk ini bermuara pada apa yang membuat baik, dan apa yang membuat buruk, bukan pada pemahaman akal tentang baik dan buruk itu. Dan hal ini akan mengantarkan kepada adanya perintah dan larangan Tuhan. Tentu hal ini harus dipertegas dengan posisi nilai etika yang bermuara pada akal manusia, yang kemudian disadari menjadi kebaikan dan kebiasaan yang diikuti (al-‘adah wa taqlid) secara komunal tentunya. Dengan posisi nilai etika dari Tuhan yang memiliki nilai universal, sebagai pemegang utama tonggak dalam mengatur kehidupan manusia, dan yang menjadi kesadaran bagi manusia itu sendiri. Nilai etika ini yang dirancang untuk manusia dengan perintah dan larangan, yang disampaikan melalui para Rosul.

Kalau nilai etik sudah ditentukan melalui baik buruk, pahala dan dosa. Maka dimana letak kebebasan berkehendak dan tanggung jawab manusia? Sebenarnya tidak ada pengaruh antara ‘apa yang diperbuat’ dan ‘apa yang harus diperbuat manusia’, dalam kacamata imam Asy’ari. Sebab apa yang harus diperbuat manusia, tidak berpegang pada keadaan dan perangkat yang melingkupinya secara independen. Akan tetapi butuh perkara lain yang di luarnya, disinilah letak peran kehendak Tuhan dan ketetapanNya, melalui perintah dan laranganNya. Yang sebenarnya kembali pada diri manusia, bukan pengaruh sebagai perangkat terjadinyasesuatu. Disinilah manusia tak akan terlepas dengannya, untuk menentukan perbuatannya sesuai dengan tujuan kehendaknya. Oleh karena itu yang terjadi pada manusia adalah hanya mengikuti perbuatan (tabi’an) yang telah dikehendakinya sendiri, bukan dipaksa untuk diikuti (matbu’an). Dan tentu hati, yang akan menjadi pertimbangan primordial bagi imam Asy’ari ini.

*Disarikan dari kitab; Taammulat fi al-Fikri al-Falsafi inda al-Imam al-Asy’ari, karya Dr. Said Foudah.

Fields of Gold

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 233 pengikut lainnya.