Qasim Amin dan Egaliterisme Hak Perempuan (Part I)


Perempuan Dalam Sejarah + Lintas Agama

Sejarah perjalanan peran perempuan dalam kehidupan sosial kemanusiaan sangatlah suram. Dengan belenggu budaya patriarki, perempuan dalam kehidupannya selalu mendapatkan prilaku diskriminatif.

Anggapan bahwa nasib perempuan selalu ditentukan dan laki-laki yang menentukan, menjadikan perempuan selalu mendapatkan peran kedua dalam realitas sosial, realitas yang melegetimasi standarisasi status sosial perempuan itu sendiri dalam menjalani kehidupannya.

Dalam sejarah pula, Agama ajaran suci Tuhan menjadi alat paling ampuh yang digunakan untuk melegetimasi budaya yang sudah mengakar semenjak beberapa abad silam, terutama Agama samawi; Yahudi, Kristen dan Islam.

Adalah peciptaan Adam dan Hawa, sebagai manusia pertama laki-laki dan perempuan dalam keyakinan ketiga Agama di atas. Tapi setelah penciptaan manusia pertama itu, terjadi malapetaka yang mengakibatkan manusia, anak cucu Adam dan Hawa harus menempuh hidupnya dengan segala rintangan cobaan di dunia. Akibat kedua manusia pertama itu memakan makanan yang dilarang Tuhan.

Gambaran Hawa dalam Injil, bahwasanya dialah yang telah menggoda Adam memakan makanan terlarang, mempunyai dampak yang negatif terhadap keberlangsungan hidup para perempuan. harga mati bagi anggapan orang-orang Yahudi dan kristen, bahwa perempuan mewarisi dosa dari ibunya (Hawa).

Semua perempuan yang merupakan anak cucu Hawa dianggap berdosa. Oleh karenanya, kehidupan perempuan merupakan upaya untuk menebus dosa warisan sang bunda Hawa. Bahkan fitrah perempuan untuk hamil, melahirkan dan haid dianggap dari bagian upaya penebusan dosa itu.

Tentunya selain sudah fitrahnya yang malang, perempuan kaum Yahudi dan Kristen harus rela selalu diperlakukan secara diskriminatif dalam tradisi patriarki yang selalu memandangnya hina. Seperti halnya dalam memberikan saksi, perempuan Yahudi dan Kristen tidak diberikan jatah untuk itu.

Tak terelakkan, ketika pencerahan Eropa pada abad ke-17 masehi meledak yang berawal dari Revolusi Prancis pada tahun 1789-1799 M. Persamaan hak-hak perempuan dan laki-laki tidak dapat dibendung lagi di dunia Barat. Memang selain kebebasan yang menjadi jargon utama revolusi itu, adalah persamaan.

Lain halnya dengan pandangan kedua penganut Agama diatas, dalam ajaran Islam tepancar nilai-nilai yang menawarkan pemahaman status kehidupan sosial yang lebih layak, sebuah dasar sistem gender yang egaliter. Islam hadir bag matahari yang menyinari bumi, yang menghilangkan pandangan hina derajat perempuan.

Memang dalam sejarah Arab Pra-Islam, tradisi adat lokal Arab pada umumnya memandang rendah kulalitas moral seorang perempuan.

Qasim Amin mengamini akan hal itu dan mengakui jika Arab sebelum munculnya Islam pembunuhan bayi perempuan dibolehkan, serta laki-laki dengan seenaknya menikmati perempuan tanpa adanya tali hubungan syar’I dan tanpa adanya aturan dan batasan-batasan.

Qasim Amin dan Misoginis

Indahnya ajaran Islam itu tidak selamanya secara kontinu terpancar dalam kehidupan umatnya. Semakin jauh dari sumbernya dan seiring berjalannya waktu serta semakin luasnya penyebaran Islam, misoginis terus menyusup kedalam kehidupan umat muslim. Bahwa perempuan tetap berbeda kedudukannya dalam ranah biologis, ekonomi dan politik, seakan-akan perempuan harus dikendalikan oleh laki-laki.

Qasim Amin mangakui misoginis diatas akibat adanya peran hukum adat yang sudah mengakar kuat dalam masyarakat, beliau menyatakan :

“Sungguh saya sedih! Agama Islam yang agung telah didominasi akhlaq/etika buruk warisan dari umat tempat tersebarnya Islam … dan tidak tercapainya kebaikan kepada umat itu tentang kedudukan perempuan dimana Islam telah memberikan syari’ah solusi, dan yang berperan besar dalam melanjutkan etika ini kesinambungan hukum sakral/otoriter/semena-mena.

…dan hukum semena-mena yang membekas bahwa dengan kekuatannya lelaki menghinakan perempuan yang lemah…”

Sebagai cendekiawan muslim nasioalis yang berpendidikan, Qasim Amin sangat miris melihat keyataan diatas. Beliau memandang dengan keadaan perempuan yang lemah membuat laki-laki bisa sesenaknya merampas hak-hak perempuan dan memperlakukannya secara hina.

Qasim yakin betul akan adegium kemerosotan perempuan merupakan kemerosotan umat dan kemajuan perempuan merupakan kemajuan umat. Untuk itu harkat dan martabat seorang perempuan harus dijunjung tinggi dalam memberikan haknya secara proporsional, sebab jika tidak peran perempuan akan kontraproduktif.

Barat yang diagungkan Qasim adalah sebuah contoh singkronisasi peran laki-laki dan perempuan yang sama-sama bersinergi, hingga dapat mengembangkan peradabannya dengan pesat.

Qasim menggambarkan Barat mendorong manusia kepada tercapainya semua konsepsi keilmuan dan moral etika hingga dengan perkembangannya intelektualitas menjadi kesadaran dalam hidup,  dan itu jelas membantu untuk memajukan kehidupan dari berbagai aspek. [13]

Tak salah bila Qasim melihat ketimpangan peran perempuan dan laki-laki dalam memajukan kualitas kehidupan di negaranya Mesir, sehingga beliau berujar “Sangat butuh perbaikan didalamnya”.

Adalah umat muslim yang sudah tidak lagi mengindahkan akalnya dalam bertindak untuk memahami dan menggapai tegaknya ajaran Islam, dari tradisi buruk yang sudah dianggap harga mati berkat hegemoni hukum adat yang telah mengakar di daerah itu.

Bahkan Qasim mengakui kekuatan hukum adat melebihi hukum-hukum kekuasaan lainnya dan sulit untuk dirubah.

Umat muslim seharusnya memahami dalam substansi ajaran Islam secara murni, sehingga betul-betul dapat menjalani hidup secara islami. Sebab tradisi tempat tersiarnya Islam terkadang masih utamakan daripada hukum Islam itu sendiri.

Dalam memperjuangkan kemurnian egaliterisme Islam dari orang-orang pemalas dan tidak memanfaatkan akalnya Qasim kerap mendapat perkataan bathil untuk melakukan perlawanan kerpadanya. Mereka mengatakan : “Itu bid’ah dalam Islam”.

Qasim tahu betul  dan bisa membedakan mana tradisi dan mana substansi dari ajaran Islam murni, dengan keyakinannya Qasim menjawab : “Ya, saya datang dengan perkara bid’ah, akan tetapi bukan dalam Islam. Tapi dalam asas kemanfaatan dan cara berinteraksi yang masih membutuhkan penyempurnaan didalamnya”.

Bersambung…


Rujukan :

 

Dr. Syarif Muhammad Abdul Adhim, Al-Mar’atu fil Islam wal Mar’atu fil Aqidari al-Yahudiah wal Masihiyah baina al-Ustgurah wal haqiqah

Lihat: Baha’ Thahir, Abna’u Rifa’ah; ats-Tasqofah wa al-Hurriyah

Etin Anwar, Gender and Self in Islam

Muhammad ‘Imaroh, Qasim Amin; al-A’mal al-Kamilah, hal. 22.

Qasim Amin, Tahriru al-mar’ah

2 thoughts on “Qasim Amin dan Egaliterisme Hak Perempuan (Part I)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s