Arab dan Sejarah Khilafah


Arab merupakan daerah yang sakral bagi umat Islam di seluruh dunia. Di gurun gersang ini, terdapat rumah ibadah umat muslim sedunia yang dikunjungi tiap tahunnya, yaitu Ka’bah.

Bangunan berbentuk kotak ini merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia peninggalan dari masa nabi Ibrohim AS, yang hingga saat ini masih digunakan umat Islam untuk melaksanakan ibadah Haji rukun Islam yang ke lima.

Ka’bah juga menjadi acuan utama umat muslim untuk menegakkan ibadah sholat 5 waktu, walaupun sebelumnya umat Islam diperintahkan mengarah ke Baitul Maqdis di Yerussalem untuk melaksanakan rukun Islam ke-2 ini.

Muhammad rosul umat Islam yang merupakan penutup para nabi dilahirkan di daerah padang pasir ini. Beliau hidup berkembang dari kecil hingga dewasa, menyebarkan ajaran Islam dan mengayomi umat muslim perdana. Hingga akhir hayatnya beliau dimakamkan di daerah ini pula.

Pulau Arab merupakan daerah padang pasir yang sangat gersang. Sebagian ahli sejarah menamai tanah Arab itu “Shibhul jazirah” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Semenanjung”.

Daerah ini terletak di barat daya benua Asia. Di sebelah utara berbatasan dengan Syam (sekarang Iraq), di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Persi (sekarang Teluk Arab) dan laut Oman, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Merah.

Kesakralan daerah ini memberi pengaruh bagi umat muslim, sebagian kalangan umat Islam, daerah ini diyakini sebagai pusat ajaran Islam. Hukum beserta suasana masyarakat yang ada di sana bisa dijadikan sumber contoh masyarakat Islami yang madani, dan patut ditiru sebagaimana umat Islam perdana di masa Nabi.

Memang hingga saat ini Arab yang sudah berkembang menjadi sebuah negara loyalitasnya terhadap Islam tidak bisa dilenyapkan. Sebagai negara merdeka dan tidak pernah dijajah, Arab mengakui sebagai negara Kerajaan Islam.

Entah negara Arab benar-benar menjadikan Islam sebagai substansi dari instansi kelembagaan negara itu, atau sekedar sebagai formalisasi instansi kelembagaan?

Negara Islam Arab

Dalam perjalanannya daerah pusat jazirah Arab yaitu Hijaz, dikuasai oleh keluarga raja Abdul Azis as-Sa’ud. Kemudian raja Abdul Aziz dapat mmeluaskan kekuasaanya hingga daerah pesisir semenanjung Arab; Riyadh, Najd, Ha’a serta Asir.

Untuk mempertahankan legetimasi daerah kekuasaannya, pada tanggal 23 September 1932 Kerajaan Arab Saudi diproklamasikan oleh Abdul Aziz bin Abdurahman as-Sa’ud. Hingga sekarangpun Negara Islam Kerajaan Arab, masih di bawah kendali keluarga Sa’ud.

Adalah Muhammad bin Sa’ud yang beraliansi dengan Muhammad bin Abdul Wahab, yang menjadi cikal-bakal legetimasi penguasa tunggal berdirinya kerajaan Islam Arab Saudi.

Muhammad bin Sa’ud merupakan orang yang memiliki kekuasaan di daerah pusat jazirah Arab. Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab seorang tokoh agamawan yang berkeinginan untuk mengembalikan kemurnian ajaran Islam yang dianggapnya sudah melenceng dari sunnah yang diajarkan Nabi, melihat adanya penduduk sekitar di mana Islam dilahirkan melakukan berbagai ritual yang menurutnya tidak ada di zaman Nabi.

Menyatunya antara kekuasaan politik Sa’ud dengan otoritas keagamaan Wahab, menjadi kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh pesaingnya di jazirah Arab. Sa’ud dengan mudahnya menguasai kekuasaan-kekuasaan disekelilingnya dan Wahab dapat menumpas dan membasmi aliran-aliran yang dianggapnya melakukan khurafat dan bid’ah.

Tapi sayangnya ketika otoritas keagamaan (baca; Islam) dicampuradukkan dengan kekuasaan politik oleh Sa’ud dan Wahab, peran agama sebagai “Rahmah lil’alamin” menjadi kontraproduktif.

Saud dan Wahab telah semena-mena menggunakan kekuasaan dan kepemerintahannya dengan mengebiri kaum yang berbeda pandangan keyakinan dan pemahaman keagamaan dengannya, bahkan mereka menghalalkan tindakan ekstrem anarkis yang jauh dari nilai islami (baca; kedamaian) sekalipun.

Apa yang dicanangkan Rosulullah pada piagam Madinahnya dalam membangun kota yang patut dicontoh menggambarkan kehidupan yang penuh dengan ikatan kasih sayang dan saling bertoleransi dalam pluralitas , tidak lagi diindahkan.

Ketika Yusuf Qardhawi menyatakan politik bagian dari Islam dan Islam bagian dari politik untuk menggiring pengesahan adanya Islam politik. Said Asmawi dengan tegas menyangkal, bahwa terjadinya penyimpangan dalam kepemerintahan kaum mukmin dengan terjadinya pelbagai kekacauan dan pembunuhan, adalah ketika umat Islam mencampuradukkan perkara dunia dengan agama. Sebab agama merupakan perangkat suci ajaran Tuhan, berbeda dengan politik yang terkadang dalam persaingan tidak sehat menghalalkan segala cara guna memperebutkan kekuasaan.

Pantas bila Jamal al-Banna mengatakan tidak layak bila negara Arab disebut negara Islam. Beliau berkilah bahwa dalam ajaran Islam perbedaan adalah rahmat, sedangkan di Arab Saudi yang terjadi akibat doktrin Wahab, yang berbeda dituduh bid’ah.

Jamal al-Banna lebih setuju negara Arab bila disebut Negara Wahabi. Walaupun ada yang beranggapan bahwa Jamal al-Banna adalah neo-Wahabi karena corak pandangan dan gerakan pemikirannya serupa dengan pemikiran ala Wahabi. Dengan pemotongan epistelmologi khazanah ke-Islam-an yang telah terkonstruk rapi sejak masa nabi dan para sahabat hingga ulama’ ahli hadits dan ahli fiqih.

Sebagaimana teolog muslim Ibn Taimiyah yang diusung Wahab untuk melegalkan aksi radikal berlandaskan purifikasi ajaran agama dengan mengingkari ijma’ . Spirit purifikasi Jamal juga mengusung merujuk langsung kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan kemampuan akalnya, tanpa perantara siapapun.

Meskipun demikian Jamal al-Banna merupakan orang yang anti dengan simtem negara berlabelkan Islam, apalagi tanpa dibarengi dengan substansi dari Islam itu sendiri. Menurutnya tidak ada negara Islam dan negara yang tidak Islam, yang ada hanya negara yang menerapkan nilai-nilai Islam.

Pengulangan dan Pemutusan Sejarah Khilafah

Sebenarnya apa yang terjadi pada kasus Sa’ud dan Wahab untuk menguasai daerah semenanjung Arab dan mengebiri aliran-aliran Islam selain ideologi teologi Wahabi yang mereka usung hingga sekarang, merupakan pengulangan sejarah yang sudah terjadi semenjak masa awal Islam.

Diawali dengan perebutan kekuasaan kekhilafahan setelah wafatnya Nabi hingga terjadinya “Fitnah al-Kubro”, dan fitnah itu merupakan perpecahan besar dalam Islam . Pecahnya para sahabat menjadi berbagai kelompok dalam mencari penerus penguasa ke-khalifah-an.

Politik yang berkecamuk saat itu memaksakan intervensi otoritas telologi (baca; Politisasi Agama), ajaran agama dimanfaatkan untuk mendapatkan legetimasi kekuasaan tiap kelompok saat itu, walaupun harus berujung dengan pengebirian dan pertumpahan darah.

Bahkan tak jarang setiap kelompok itu memiliki satu ideologi teologi yang mereka usung untuk melegetimasi kekuasaannya. Seperti halnya ketika Khawarij membunuh Ali dengan mudahnya kaum itu berkilah atas dasar ideologi teologi yang mereka usung untuk mengkafirkan dan menghalalkan pembunuhannya.

Begitupula dalam kekuasaan Mu’awiyah yang berkoalisi dengan madhab teologi Jabariyah, kemudian digulingkan oleh Abbasiyyah, yang pada masanya al-Ma’mun selalu mengagungkan dan menjadikan Muktazilah sebagai ideologi teologi resmi kekhalifahannya saat itu.

Ideologi Muktazilahpun dikebiri oleh Mutawakkil ‘Alallah setelah memegang kekuasaan dengan memanfaatkan ideologi Hanabilah-nya, pandangan Muktazilah tidak lagi diindahkan di masanya. Bahkan pada tahun 237 H merupakan puncak Mutawakil melepaskan kemarahan dan kebenciannya terhadap Muktazilah. Muktazilah selalu dihina-dinakan dan pengikutnya di penjarakan.

Begitulah seterusnya pergolakan birokrasi yang bergulir dalam perebutan kekuasaan kekhifahan dalam Islam, yang selalu mencampuradukkan otoritas ideologi keagamaan dengan politik praktis. Akibatnya agama tidak memiliki taring dalam memegang otoritasnya, karena kebenaran dan kebijaksanaan yang dikandungnya selalu dikendalikan oleh sang penguasa.

Pembenaran berbagai pemahaman dan aliran bahkan ajaran Islam berada di tangan sang penguasa. Aliran pemahaman yang mendapatkan posisi dalam kepemerintahan akan ditimang dan disayang, sedangkan selainnya janganlah berharap demikian, bisa menghirup udara segar masih untung.

Demikian mudahnya sang penuasa membenturkan aliran dan ajaran suci agama demi memuaskan nafsu duniawinya untuk berkuasa.

Hingga akhirnya sejarah itu terputus ketika Kemal Pasha Attaturk menguasai kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan dengan tegas beliau memisahkan negara yang bertopeng ajaran agama dan Beliau menghapus sistem khilafah. Dengan tegas Attaturk menyatakan :

“Bukankah untuk kepentingan kekuasaan khilafah dan agama Islam serta tokoh agama orang-orang pedalaman memerangi Turki dan mereka mati hingga 5 abad? Maka tiba sekarang untuk melihat Turki dengan kemaslahatannya…dan kini membebaskan dirinya dari negara/kepemerintahan yang mengaku Islam.”

Maka tindakan yang telah Kemal Pasha Attaturk tetapkan untuk menyudahi gelimangan sejarah suram dalam politik Islam, merupakan sebuah langkah awal realitas untuk memisahkan perkara dunia dan agama.

Sehingga agama bisa mengembalikan kesuciannya yang sering direnggut oleh manusia-manusia yang memanfaatkannya untuk meraih kekuasaan duniawi.

Kesimpulan

Arab merupakan daerah tempat dilahirkannya Islam, dengan berbagai situs sejarah dan tempat suci bagi umat Islam.

walaupun daerah itu sangat disakralkan oleh umat muslim, untuk mencontoh sistem kepemerintahan dan hukum negara Kerajaan Arab yang katanya berlabel Islam, tentunya dibutuhkan tenaga lebih untuk memeras otak beribu kali.

Sebab sejarah telah menuntun kita untuk selalu menyucikan agama dari tangan-tangan tak bertanggung jawab dan dari orang yang selalu melihat simbol daripada substansi.[Rifai]
________
Rujukan :
Al-Qur’an, QS. Ali Imron, ayat : 96 – 97
Ibid., QS. Al-Baqarah, ayat : 142 – 143
Ahmad Amin, FajruAl-Islam, 1996, Kairo: Maktabah Usroh. Hal. 6
Ahmad Qaid as-Syu’aibi, Watsiqotu al-Madinah; al-Madhmun wa ad-Dalalah, 2005, Qatar : Wazarotul Auqof wa asy-Syu’un al- Islamiyah. Hal. 37
Muhammad Said al-Asmawi, al-Islam wa al-Siyasah, Cet. I, 2004. Beirut ; al-Intisyaru al-Islam. Hal. 23
Jurnal Averrose, Hindari Pelapukan Keadilan, itulah Syariat SIslam, 2007, Kairo; Averrose Community. Hal. 47
Muhammad Said al-Asmawi, Opcit., Hal. 41
Jurnal Averrose, Opcit., hal. 44
Muhammad Said al-Asmawi, Opcit., Hal. 19
Zuhdi Hasan Jarullah, al-Mu’tazilah, 2002. Kairo : al-Maktabah al-Azhariyah li at-Turots. Hal. 162
Ibid., Hal. 183-184
Hisyam Khadar, ATATURK, 2009. Kairo : Maktabah an-Nafidah. Hal. 250

NB :
Tulisan ini terinspirasi dari komentar yang saya lontarkan pada kajian regular SASC yang bertema “Background Ideologi-Politis, Wahabi dan Gerakan Salafisme Islam” Rabu 24 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s