JIHAD, MELAWAN AJARAN TUHAN


Catatan ini saya tulis setelah mengadakan kajian Qalam Circle IKBAL kord Kairo yang membahas Jihad, pada bulan Agustus 2009.

Saatu dasawarsa belakangan ini, bumi pertiwi diramaikan oleh aksi anarkis terosrisme. Mulai dari Bom Bali I dan II, hingga aksi terorisme yang terakhir terjadi dalam peledakan bom paralel mega kuningan.

Ironisnya, setelah terungkap seluruh pelaku aksi terorisme itu termasuk dari kalangan kaum muslimin. Dari hal itu maka timbullah pertanyaan dalam benak, kok bisa seorang muslim berani melakukan aksi gila ini?

Bayangkan saja, ‘berani meledakkan diri sendiri’ alias ‘bunuh diri’ dengan bom pula, dan tentunya bom itu sudah dipersiapkan sebelumnya, jadi ini memang sengaja dilakukan dan terencana.

Banyak hal yang bisa menjadikan seseorang berprilaku menyimpang seperti diatas, tapi yang jelas latar belakang sang pelaku teror itu adalah kata JIHAD. Kata yang cukup ampuh untuk menjadikan seseorang lupa akan segalanya dengan iming-iming surga.

KAJIAN QALAM CIRCLE

Mendengar berita tragedi pengeboman hotel JW Marriot dan Rizt Carlton pada 17 Juli lalu yang santer di media massa, membuat kuping panas. Apalagi ketika itu seluruh masyarakat Indonesia di dalam maupun di luar negri sudah bersiap menyaksikan pertandingan Tim Indonesian All-Star dengan Tim Sepakbola papan atas dunia, Manchester united yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli.

Dari hal di atas berangkatlah rencana Departemen Kajian IKBAL Korda Kairo yang menangani kajian Qalam Circle, untuk mengadakan kajian khusus membahas jihad.

Selasa Tanggal 5 Agustus kajian khusus membahas jihad Qalam Circle terlaksana, bertempat di gedung secretariat IKBAL Korda Kairo. Kajian ini lumayan ramai dengan dihadiri seluruh anggota baru IKBAL, pengurus dan beberapa orang dari senior IKBAL.

Presentator kajian khusus jihad ini adalah ust. Imam Wahyuddin, Lc. Peneliti keislaman yang sudah menamatkan study-nya tahun ini di Fakultas Aqidah Filsafat Ushuludin. Dia merupakan alumni TMI Pondok Pesantrren Al-Amien Preduan tahun 2003 yang sudah bergelut di LAKPESDAM PCINU Mesir, sejak tahun pertama menginjakkan kakinya di negri kinanah. Dia juga sering diundang untuk mengisi kajian di berbagai organisasi kekeluargaan dan almamater Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir).

Deddi Efendi mahasiswa Fakultas Ushuluddin tingkat tiga yang memoderatori kajian ini, dengan cekatan dia membawa suasana kajian menjadi hidup dan ramai. Setiap peserta kajian diberi waktu untuk mengutarakan pertanyaan dan pendapatnya pada masalah yang sedang dibahas.

Penyelewengan Makna Jihad, itulah judul makalah yang dipresentasikan oleh ust. Imam Wahyuddin. Makalah sebanyak 15 halaman itu secara garis besar membahas sejarah fikih jihad beserta pergeseran maknanya. di awali dari keterangan pemahaman jihad yang telah membuat orang Eropa memandang umat Islam buas akibat ulah kelompok fundamentalis Islam.

Ranah sejarah fikih Jihad, dipaparkan sejak awal mula mencuatnya perbincangan jihad pada abad 8-9 masehi tepatnya pada akhir masa dinasti umayyah dan awal dinasti Abbasiyah. Mulai dari Imam Abdurrahman Al-Auza`ie (707-774 M) yang hidup pada masa dinasti Bani Umayyah dan sudah sangat eksplorasif membahas jihad, Imam Malik bin Anas (w. 795 M/179 H), Muhammad Hasan Al-Syaibani (w. 804 M), Imam Syafie (767-820 M) hingga pembahasan jihad ala Ibn Taymiyah (1263-1328 M).

Sejarah fikih jihad itu dikomparasikan dengan Jihad ala reformis Islam pada masa di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang di pelopori oleh Gamaluddin Al-Afghani (1839-1897) dan muridnya Imam Muhammad Abduh (1849- 1905). Serta pengaruh Pandangan Rasyid Ridha (1865-1935) yang membelot berbalik arah dengan pandangan gurunya, Abduh.

Dengan lugas dan mendalam ust. Imam mempresentasikan makalahnya, selama kurang lebih 45 menit. Gaya penyampaiannya tidak berbelit-belit, padat dan tepat, walalupun terkadang sesekali memberikan guyonan pada peserta wanita (maklum dia masih single).

Dari pemaparannya tertancap dalam dada adanya beberapa pergeseran makna jihad. Awalnya pembahasan jihad yang melibatkan hukum orang kafir dalam perang, terdapat dua pembahasan antara mereka yang wajib diperangi (ahl al-harb) dan yang dianjurkan untuk dilindungi (ahl al-`ahd), ini menurut Muhammad Hasan Al-Syaibani.

Al-Auza`ie memandang hukum jihad di masa nabi fardlu ain, namun selepas nabi wafat berubah menjadi fardl kifayah. Kebanyakan ulama’ ketika itu melarang jihad secara offensive, diwajibkannya jihad jika umat Islam terancam invansi musuh. Jika musuh tidak menyerang, kewajiban jihad pun bisa dianggap gugur.

Setelah sampai pada masa imam syafie sedikit ada pergeseran, dengan alasan akidah mewajibkan menabuh genderang jihad dengan segenap kemampuan kepada orang yang dianggap kafir sampai mereka masuk Islam.

diperparah lagi dengan jihad ala Ibn Taymiyah, menurutnya ketika berjihad di jalan Allah, mujahid hanya memiliki dua kebaikan: antara menang bertempur dan berjaya atau mati dan masuk surga. Dan jihad berkeharusan membunuh siapa saja yang menghalang-halangi dakwah Islam. Memang pada masa ini umat muslim terancam oleh pasukan perang Salib dan pasukan Bar-bar Mongol.

Kemudian makna Jihad kembali pada makna awal pada masa reformis Islam Gamaluddin Al-Afghani dan Abduh, tapi dibelotkan kembali oleh Rasyid Ridha kepada makna jihad yang buas tadi.

Dari situlah makna jihad kemudian sering diselewengkan, karena ulama’ yang hadir masa ini tidak lagi melihat konteks permasalahan dalam mengaplikasikan ajaran yang sudah diwariskan ulama’ terdahulu itu. hingga saat ini banyak orang berjihad dengan aksi anarkis terorisme, tanpa pandang bulu.

SAVE OUR NATION

Sabtu Tanggal 8 Agustus pelaku teror bom Mega Kuningan berhasil dibekuk oleh densus 88 di salah satu rumah Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tembakan dan ledakan bom mewarnai penangkapan yang menewaskan teroris itu.

Pemberitaan pasca terbekuknya pelaku pengeboman hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton, sangat gencar dilakukan oleh media massa cetak, elektronik maupun online.

Penulis selaku mahasiswa di luar negri tepatnya di Mesir, tentunya tidak mungkin mendapatkan info dalam negri dari media massa cetak dan elektronik yang dikirim dari dalam negri. Cuma satu media yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan info perkembangan dari berbagai belahan dunia termasuk info dari dalam negri yaitu media online internet.

Memang sudah tidak tabu lagi bila mayoritas mahasiswa Indonesia di Mesir mengunakan jasa pelayanan internet. Terbukti berdasarkan dari hasil penelitian penyebaran angket bulletin Qalam IKBAL, dari 100 responden 97 masisir mengaku memanfaatkan jasa pelayanan online internet, apalagi media yang satu ini terbilang mudah diakses.

Termasuk penulis yang sering memanfaatkan layanan internet, dan dari media online itulah sehingga penulis bisa mengikuti perkembangan yang terjadi di berbagai belahan dunia umumnya, dalam negri khususnya. Terutama dari situs sumber berita dan informasi yaitu situs Koran online dan juga tv online yang bisa menikmati berita secara langsung atau live.

Metro tv adalah chanel tv favorit penulis, sebelum penulis berangkat ke negri kinanah jika tidak ada kegiatan pasti Metro tv-lah yang sering menemani penulis. Chanel yang satu ini memang berbeda dengan chanel-chanel tv swasta lainnya yang kebanyakan selalu menyiarkan acara entertainment, tanpa diimbangi dengan kualitas isi penyiaran informasi untuk memperluas wawasan penikmatnya.

Setelah penulis mengetahui cara mengakses tv online terutama chanel tv dalam negri, kecanduan penulis untuk menikmati penyiaran di metro tv timbul kembali. Oleh karenanya ketika penulis memiliki waktu luang tak jarang digunakan untuk menikmati penyiaran Metro tv.

Save Our Nation adalah salah satu acara favorit penulis yang tersedia dalam Metro tv selain acara Democrazy, Today’s Dialog dan Kick Andy. Acara ini berupa acara dialog esklusif yang disiarkan secara mingguan, biasanya orang yang dijadikan narasumber merupakan seorang tokoh yang pakar problematika keindonesiaan mulai dari ahli politik, pakar ekonomi, budayawan dan cendekiawan.

Moderator khusus acara ini adalah Saur Hutabarat, seorang moderator yang berparas tua mencerminkan acara ini memang benar khusus membincangkan Negara secara serius, dewasa dan bijaksana.

Save Our Nation edisi minggu ini yang disiarkan pada hari rabu 12 agustus pukul 22.00 WIB (sekitar pukul 6 sore waktu Mesir) seiring dengan santernya pemberitaan terbekuknya teroris di dalam negri, kali ini Save Our Nation mengangkat tema ‘Perang Melawan Teroris’.

Acara yang berdurasi 30 menit ini mengundang seorang cendekiawan terkemuka di Indonesia, Rektor Unieversitas Islam Negri Jakarta (UIN Syarif Hidayatullah) yaitu Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Dalam dialog itu ada tiga pembahasan umum ; akar terorisme, Psikologis terorisme dan Konstruksi teologis yang melatar belakangi seorang berani melakukan aksi terorisme.

Dalam memaparkan tiga permasalahan diatas, ada satu pernyataan Prof. Komaruddin yang langsung meresap kedalam hati penulis, pesan Islam yang beliau terima semasa di pesantren dulu akunya. Berikut pernyataan itu yang diakui kata kiyainya:

“Tuhan itu tidak perlu dibela, Tuhan maha Perkasa. Kita menyembah atau tidak, tidak akan menambah atau mengurangi kebesaran Tuhan. Justru Tuhan itu begini (seraya berfirman) ; Kalo hendak membela Aku maka belalah hambaKu yang tertindas, kalo hendak menyayangiKu sayangilah hamba-hambaKu yang butuh, yang papah”.

Beliau menambahkan : “Jadi kalo kita ingin membela Tuhan belalah manusia, kalo ingin baik di depan Tuhan maka jadilah orang baik di depan manusia. Dan ini dibuktikan pada sejarah, semua agama pada awalnya ketika lahir, pasti mereka membela kehidupan kemanusiaan. Dan justru sekarang dengan dasar agama mereka hancurkan kemanusiaan. Jadi mereka mengahancurkan ajaran Tuhan mengingkari dan melawan ajaran Tuhan”.

Sungguh sangat mengiris hati penulis kata-kata diatas. Menganalogikakan jihad yang dilakukan oleh pelaku aksi teroris terutama teroris dalam negri, bukan malah jihad yang sejalan dengan ajaran Tuhan melainkan melawan ajaran Tuhan.

KESIMPULAN

Dari dua episode cerita di atas, dapat ditarik benang merah bahwa, banyak terjadinya pergeseran makna jihad dalam tubuh Islam sesuai situasi dan keadaan waktu itu, yang diinterpretasikan oleh ulama’ terdahulu.

Tapi akibat kecerobohan ulama’ yang hadir masa ini tidak lagi melihat konteks permasalahan dalam mengaplikasikan ajaran yang sudah diwariskan ulama’ terdahulu itu. Maka Jihad yang awalnya sejalan dengan ajaran Tuhan kini malah berbalik arah melawan ajaran Tuhan.

Cairo, Sabtu 15 Agustus 2009.
Oleh Rifai, Pengurus IKBAL Korda Kairo Departemen Kajian dan Penerbitan periode 2009-2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s