Mahmoud Ghurob, Menjaga Kemurnian Pemikiran Ibn al-Arobi


(Catatan ringan nadwah ilmiah ibn al-Arobi bersama Syeikh Ghurob, 5 Oktober 2010)

Ibn al-Arobi, sebuah nama yang tidak asing bagi umat Islam. Nama panjang beliau adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Arobi al-Hatimi, termasuk dari suku Thai. Dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 di Murcia, Spanyol. Beliau meninggal pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.

Ibn al-Arobi merupakan seorang tokoh ahli tasawwuf yang memiliki nama besar di dunia Islam. “Muhyiddin” itulah julukannya, yang berarti “sang penghidup agama” selain disebut sebagai “Syeikhul Akbar”, syeikh agung.

Nadwah Ilmiah Ibn al-Arobi

Tepat tanggal tanggal 5/11 hari selasa, digelar sebuah acara khusus memperbincangkan seluk beluk pemikiran Ibn Al-Arobi. Digelar atas kerjasama KBRI Cairo, DPP PPMI, Said Aqil Siradj (SAS) Center dan Ghazalian Center.

Nadwah ilmiah yang dikemas dengan acara dialog umum itu bertemakan “Manhaj Wihdatul Wujud ‘Inda Ibn al-Arobi”, konsep wihdatul wujud dalam pemikiran ibn al-Arobi. Syeikh Mahmoud Ghurob sebagai nara sumber tunggal pada acara yang dilaksanakan di Pasangrahan KPMJB itu.

Syeikh Mahmoud Ghurob, dikenal sebagai penerus pemikiran Muhyiddin Ibnu Al-Arobi masa kini. Beliau cendekiawan Muslim asal Kairo, Mesir. Dilahirkan di Tanta, pada tahun 1922.

Sebelum menjadi pakar tasawwuf ibn al-Arobi, semasa muda syeikh Ghurob bergelut di dunia militer, bahkantercatat selama 15 tahun beliau dinas militer. Bergabung dengan Akademi Militer Mesir, dan lulus sebagai perwira pada tahun 1939 dan kemudian lulus dari College Staf pada tahun 1953 hingga tahun 1954.

Diusia ke-88 saat ini tubuh yang sudah terlihat tua masih kelihatan bugar, efek dari aktifitas kemeliteran semasa mudanya. Bahkan berbeda dengan kebanyakan orang Mesir seusianya yang sholat menggunakan alat bantu kursi karena tidak mampu berdiri dari duduk tasyahud, dengan gagahnya beliau memimpin dan menjadi imam sholat maghrib saat jeda acara nadwah ilmiah itu.

Penjelajahan dunia tasawwufnya dimulai sejak 1953 beliau berguru Syeikh Mohammad Shadiq al-Adawi, Imam Masjid sayyid Dardir, dan khotib masjid ar-Rum di Kairo. Kemudian ke Madinah berguru kepada Syeikh Muhammad Ibnu Yusuf  Muhtawi Al-Syanqithi, pada tahun 1954.Pada tahun 1955 sampai tahun 1963,  berguru kepada Syeikh Ahmad Harun Al-Hajjar di Damaskus, Siria.

Syeikh Ahmad Harun al-Hajjarlah yang menyarankanSyeikh Guhrob membaca dan menela’ah Futuhat Al-Makkiyahnya Ibn al-Arobi.  Dari sinilah syeikh Ghurob menekuni pemikiran ibn al-Arobi hingga menjadi pakar, dan berhasil menuliskan ensiklopedi kontemporer membahas pemikiran ibn al-Arobi yang beliau tulis dalam lima belas kitab, dari diskursus fikih hingga yang terakhir syarhu haditsnya.

Pantas bila beliau sering diundang untuk berceramah dan mengisi nadwah/seminar ilmiah yang bertaraf lokal, nasional hingga internasional membahas secara khusus pemikiran ibn al-Arobi. Dan sebuah kebanggaan beliau telah hadir ditengah-tengah Masisir dalam acara nadwah ilmiah yang telah diselenggarakan atas kerjasama KBRI CAIRO, DPP PPMI, SAS CENTER PCINU Mesir dan Ghazalian Center.

Menjaga Kemurnian Pemikiran Ibn al-Arobi

Pada sesi pertama waktu yang diberikan kepada syeikh Ghurob dalam nadwah itu, berupa pemaparan awal secara umum mengenai ibn al-Arobi. Beliau langsung memaparkan sekelumit permasalahan tentang sosok yang menurut syeikh Ghurob telah banyak disalah pahami khalayak luas,banyak  yang memandangnya zindiq, sesat bahkan kekafirannya.

Pengkafiran ibn al-Arobi memang santer dilakukan ibn Taimiyah dan ibn al-Qoyyim, beliau sangat menentang terhadap pengkafiran yang dilakukan oleh kedua tokoh itu.

“Barang siapa yang mengkafirkan imam al-akbar (ibn al-Arobi) seperti ibn Taimiyah dan ibn al-Qoyyim, sebenarnya mengkafirkan atas pembacaan yang tidak dipahaminya  atau pebacaan atau perkataan yang tidak dikatakan arrojul (ibn al-Arobi)  secara mutlak dan tidak memiliki dasar untuk dibenarkan (pengkafirannya),” ujarnya.

Syeikh Ghurob mengajak untuk berpikir secara ilmiah dalam menilai sesuatu. Menganalisa sesuai standard akademik yang berkembang sesui zaman untuk membuktikan kebenaran kekafiran ibn al-Arobi, dari ketidak pahaman serta dari kesalahan menuduhkan perkataan yang tidak pernah dikatakan ibn al-Arobi.

Syeikh Ghurob mengkomparasikan setiap permasalahan sesuai dengan klaim kafir dalam fatawa ibn Taimiyah, sambil menunjukkan buku yang ia tulis berjudul ‘Syarhu Kalimat as-Sufiyah; ar-Roddu ala ibn Taimiyah min Kalam as-syeikh al-Akbar Muhyiddin ibn al-Arobi’. Beliau berkata;“Sesungguhnya semua apa yang dituduhkan ibn taimiyah kepada ibn al-Arobi kemudian diikuti oleh ibn al-Qayyim,tidak berdasarkan dari kebenaranyang mutlak”.

Lebih spesifik lagi dalam permasalahan wihdatul wujud, beliau langsung menunjukkan bab dalam buku itu terdapat 18 halaman yang berisi penjelasan ibn al-Arobi asli, dan tidak ada satu penjelasan dari siapapun. Dalam permasalahan wihdatul wujud, beliau yakin betul tidak ada perkataan yang dituduhkan oleh ibn Taimiyah kepada ibn al-Arobi.

Banyak pemikiran Ibnal-Arobi yang telah disalahtafsirkan dan diselewengkan. Sebagian dimanipulasikan atas teks-teks Ibnu Al-Arobi, sehingga menimbulkan persepsi salah kaprah dan tidak dibenarkan.  Oleh karenanya, Syeikh Ghurob tidak mengakui bahwa kitab Fushus al-Hikam sebagai buah karya ibn al-Arobi, sebab buku itu tidak pernah ditulis oleh tangannya sendiri. Bahkan dengan jelas beliau mengatakan “kita sudah membandingkan apa yang ada di fushus dengan apa yang sudah ditulis olehnya (ibn al-Arobi)  lebih dari seratus permasalahan, berseberangan dengan apa yang ditulisnya (ibn al-Arobi)”.

Berbagai pemaknaan wihdatul wujud ibn al-Arobi yang sudah Syekh Ghurob kumpulkan dalam bab khusus di18 halaman dalam bukunya Syarhu Kalimat as-Shufiyahnya, ibnal-Arobi tetap menempatkan mahluk sebagai mahluk dan kholik sebagai kholik. Penyatuan ‘ittihad’ mahluk dengan kholik tidak dibenarkan oleh Syeikh Ghurob, kecuali penyatuan dalam alfad (kata-kata) dan tidak pada dzat-nya.  Seperti manusia berilmu dan Allah berilmu, disini mahluk dan kholik menyatu dalam satu kata yaitu ‘ilmu’ tapi tentunya berbeda dzat ilmu yang dimiliki kholik dengan mahluk.

Syeikh Ghurob yakin betul tidak ada perkataan dan keterangan ibn al-Arobi yang keluar dari syar’iat. Tasawwufdalam ajaran ibn al-Arobi merupakan manhaj maqom ihsan, sesuai dengan ketentuan syari’at al-Qur’an serta sunnah, sebagaimana dalam hadits shoheh yang menjelaskan maqom islam, iman dan ihsan. Jadi tasawwuf manhaj ibn al-Arobi jika sampai pada maqom teratas, yaitu ihsan. Jika ingin mencapai maqom ihsan harus menerapkan syari’at secara lahir dan bathin.

###

Setelah acara nadwah ilmiah bersama syeikh Ghurob,ada seorang peserta yang langsung meluapkan kritikan terhadap syeikh Ghurob melalui jejaring sosial Facebook. Dia menulis didinding Facebooknya bahwa syeikh Ghurob tidak bisa mengkonstektualkan pemikiran ibn al-Arobi dengan masa sekarang.

Ketika anggota SASC berkunjung ke kediaman syeikh Ghurob, ada yang menanyakan suatu permasalahan dalam buku Nasr Hamid Abu Zayd ‘Hakadza Takallama ibn Arobi’, Syeikh Ghurob berani menyindir bahwa Nasr Hamid tidak pantas untuk menulis buku mengenai ibn al-Arobi, “La ya’rifu tasawwuf wala ya’rifu ibn al-Arobi”, ujarnya.

Hemat penulis hal tersebut merupakan sebuah sikap untuk memurnikan pemikiran ibn al-Arobi, melihat banyak pemikiran Ibn al-Arobi yang telah disalahtafsirkan dan diselewengkan.  Sehingga menimbulkan persepsi yang salah dan tidak dibenarkan.[]

NB : Tulisan ini dibuat atas permintaan untuk dimuat di buletin perdana Suara PPMI periode 2010-2011.



4 thoughts on “Mahmoud Ghurob, Menjaga Kemurnian Pemikiran Ibn al-Arobi”

    1. iya3…
      yah cuma momennya ajah, lagian tulisan diatas permintan liputan acara untuk diterbitkan di SP😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s