DEBAT GUSDUR VS SUUD


Suatu perdebatan kadang muncul diantara kita apapun permasalahannya dan dimanapun tempatnya. Seperti di bawah ini, perdebatan antara dua mahasiswa al-Azhar Cairo Fakultas Syari’ah, Gusdur asal bondowoso dan Muhammad Su’ud asal Pamekasan Madura. Perdebatan ini berawal ketika penulis, menulis sebuah statemen yang berkaitan dengan fikih di dinding Facebook penulis. Memang mereka berdua sudah di add menjadi temen dalam facebook penulis, sehingga bisa melihat kegiatan apa saja yang sudah penulis lakukan dalam facebook . Berikut ini perdebatan mereka :

Dalam hukum fikih, fakta sosial jelas bisa menjadi dasar penetapan hukum. Karena itulah ada kaidah terkenal, “taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” hukum berubah sesuai dengan waktu dan tempat. (Mas. Ulil)

(Suud) Selain itu hukum Fiqih juga akan berubah tergantung motif [‘illat] yang melatar belakanginya. Al-Hukmu ya duru ma’a al-‘illati wujudan wa ‘adaman, begitulah kaidah fiqihnya. Minuman yang mengandung kadar alkohol 6% haram dikonsumsi di negara tropis semisal Indonesia karena ‘illatnya memabukkan[sumiya al-khamru khamran li mukharatihi li al-aql: dinamakan khamr karena meracuni akal]. Namun ketika minuman yang kadar alkoholnya 6% tersebut dikonsumsi di daerah kutub yang sangat dingin, maka hukumnya akan bisa berubah;dari haram menjadi halal, karena tidak memabukkan. Ketika ‘illatnya pudar [sifat memabukkannya hilang], maka hukum keharamannya hilang. Di sinilah sebenarnya terkandung pesan bahwa Islam itu shalih likulli zaman wal-makan.]

(gusdur) Betul tuh… shalih likulli zaman tapi jangan cuma berbach (omong doank) harus dipertanggung jawabkan. tau-tau berubah sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang. “assyari’ah tsabitatun lakinnal ahwat tataghayyar”

(Suud) Assyari’ah tsabitun lakinnal fahmu ‘anhu yataghayyar hasba al-zaman wa al-makan. pemahaman Fiqih Klasik tak semua relevan masa sekarang, semisal pemetaan wilayah : daru al-harab dan daru al-Islam, karena masa sekarang wilayah dunia sudah terbagi berdasarkan batas teritorial negara kebangsaan.

(Gusdur) Mantap, kalau darul al-harb dan darul al-islam, kita sudah belajar ketika kita tingkat 2 tentang ini di madah qodhoya mu’ashirah. Kalau saya tidak setuju dengan pendapat ulama membagi daerah menjadi dua, darul al-harab dan al-islam, karena bukan perang fisik saja yang kita hadapi akan tetapi perang pemikiran dan ideologi yang kian menggempur, orang yang menyerang islam dengan pemikirannya pastilah dia muharib. Jadi saya tidak setuju dengan pembagian ini.

“taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan,” akan tetapi jangan salah memahami maknanya, karena jika salah seseorang akan dengan mudah mempermainkan hukum. Berhati-hatilah…

(Suud) Musuh Islam yang paling berbahaya adalah musuh dalam selimut; musuh umat Islam yang muncul dari tubuh umat Islam sendiri semisal eklusivisme keberagamaan, radikalisme, pembacaan terhadap pesan agama secara tektualis-normatif-ahistoris, sakralisasi pemikiran ulama yang seakan-akan pemikiran tersebut sudah final kebenarannya sehingga tak menyisakan ruang untuk menggugat, tradisi tak toleransi dengan perbedaan. Sebenarnya umat Islam tak perlu terlalu minder dengan realitas di luarnya. Umat Islam seharusnya mampu berdamai dengan kelompok lain. Tak baik apabila umat Islam selalu mengkambing hitamkan kelompok di luarnya sebagai musuh yang seolah-olah selalu mengancam eksistensinya. Kerusakan moral pemuda sering kali dikait-kaitkan dengan adopsi tradisi barat. Ketika barat menampilkan hedonisme di media-media dianggapnya sebagai upaya untuk menyerang moralitas umat Islam, padahal tak selamanya begitu.

Umat Islam akan lebih mudah waspada dengan budaya negatif yang muncul di luarnya. Mereka hanya akan sulit waspada dan mudah terkecoh ketika tradisi negatif tersebut muncul dari tubuh umat Islam sendiri dikarenakan tradisi tersebut berlabel Islam atau dikemas dengan kemasan Islam. Misalnya, FPI mencampur adukkan antara premanisme dengan dakwah Islamiyah. MMI [majlis Mujahidin Indonesia] sering kali mengkaitkan krisis di Indonesia dengan sistem pemerintahan;menganggap sistem kenegaraan Indonesia dengan thoghut yang perlu diganti. Bagaimana umat Islam di Indonesia akan merasa damai apabila umat Islam menanamkan benih kebencian dengan sesama muslim?

Pemalsuan pemahaman dan mempermainkan hukum Fiqh perlu kita waspadai, namun kebiasaan mensakralkan pendapat ulama [ulama:juga manusia yang tak lepas dari salah dan kepentingan] perlu kita buang jauh-jauh apabila kita mau menjadi manusia yang merdeka. Pendapat ulama bagi kita sebenarnya hanya sebatas standar pembacaan dia yang ditawarkan kepada kita yang posisinya boleh kita ikuti ataupun tidak. Kita boleh berbeda pendapat dengan pendapat ulama tersebut.” Man ijtahada fa ashaba lahu ajrani wa illam yusyib lahu ajrun wahid” adalah kemurahan Tuhan untuk semua bukan untuk golongan tertentu. wallahu a’lam bisshowab.

(Kesimpulan penulis) sebenarnya islam tidaklah rumit, islam itu fleksibel dan elastis. sebab Allah tidak pernah dholim bagi hamba-Nya yang ingin menjalankan ajara-Nya, sehingga bias islam tetap relevan kapanpun dan dimanapun. hal itu tercapai bila pembacaan teks suci Tuhan tidak mengenyampingkankonteks yang berlaku.

tapi sayangnya, terbelenggunya pemikiran rasional umat islam serta kecenderungannyamendewakan ulama’ terdahulu menjadikan islam berwajah rumit bin sulit. kontekstual tak lagi menjadi pegangan umat, sebab hanya terpaku pada ulama’ yang mereka dewakan. padahal kontekstual ulama’ yang mereka dewakan itu tidaksemuanya bersinergi dengan kontekstual pada masa kekinian. wallahu a’lam.

NB : Tulisan ini diposting di catatan FB saya pada 05 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s