ISLAM INDONESIA


Catatan Polosku 14 Juni 2009.

Indonesia merupakan Negara relegius yang toleran. Memang di Negri ini tercatat ada beberapa macam agama, mulai dari; Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu.

Dalam perjalanannya, kehidupan antar umat beragama di Indonesia terbilang harmonis. Walaupun pernah terjadi konflik antara umat Kristen dan Islam di Maluku, tapi konflik itu masih dalam kategori konflik skala kecil dan tidak berpengaruh terhadap tatanan kehidupan antar umat di daerah-daerah lainnya.

Keharmonisan hidup antar umat diatas tak lain karena, Indonesia melestarikan pluralitas kemajemukan dalam budaya, agama, bahasa serta ras atau etnis. Apalagi didukung oleh luasnya bentangan alam negri yang berbentuk kepualauan ini, sehingga dalam bingkai Republik Indonesia kemajemukan tidak terelakan lagi, dan penduduknyapun termasuk kategori heterogen.

INDONESIA DAN ISLAM

Penduduk Indonesia mayoritas menganut agama Islam, bahkan dunia mengakui Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Walaupun letak geografisnya tidaklah dekat dengan daerah asal mula munculnya agama Islam itu sendiri, yang berada di kawasan timur tengah.

Tinjauan historis menyatakan ketika Islam masuk ke nusantara, menunjukan adanya perbedaan dengan daerah-daerah lain yang dimasuki Islam. Dimana Islam masuk ke nusantara secara damai dan tanpa menimbulkan benturan dengan penduduk pribumi, sedangkan daerah lain terkadang terjadi gesekan dan benturan dengan penduduk asli daerah itu.

Nancy K Florida, peneliti dari Universitas Michigan Amerika Serikat, meneliti naskah-naskah kuno Jawa. Beliau menyatakan, ulama’ (yang membawa Islam masuk ke Nusantara) lebih mendahulukan tasawwuf dalam mendekatkan diri kepada Sang Kholik dan ahlaq (amalus sholeh), sehingga bisa melebur dan menyatu dengan adat dan budaya negara Indonesia yang ketika itu dihuni oleh orang-orang yang menganut agama Hindu dan Budha.

Dan negri ini, walaupun umat Islam menjadi penduduk mayoritas, tidak lantas founding father negri ini menjadikan Indonesia bersistem Negara Islam. Akan tetapi mereka menjadikan Indonesia bersistem demokrasi yang diperkaya dengan nilai religius. Sebagaimana pengakuan Muhammad Hatta, salah satu founding father Indonesia. Beliau berkeyakinan pondasi demokrasi di Indonesia sudah cukup solid, karena didukung oleh kombinasi organik kekuatan sosial-relegius yang sudah mengakar di sebagian besar masyarakat kita.

Dan ternyata Islam itu sendiri tidaklah berseberangan dengan sistem demokrasi. Jika dikaji ulang pada masa Nabi Muhammad, kehidupan berdemokrasi dengan menjunjung asas musyawarah serta menjunjung persamaan antar pemeluk agama dan kepercayaan saat itu, membuktikan Islam sejalan dengan kehidupan yang demokratis. Apalagi Allah SWT juga sudah menggambarkan permasalahan ini dalam surat Ali Imron ayat 159(1.

Bahkan ketika Syekh Yusuf Qardhawi berkunjung ke Indonesia pada tahun 2007 lalu. Menurutnya, Islam selaras dengan nilai-nilai demokrasi, Beliau menunjuk bukti Indonesia yang mayoritas Muslim terbesar di dunia, mampu membumikan secara bersamaan nilai-nilai Islam dan demokrasi.

KARISMA ISLAM INDONESIA

Islam Indonesia sebenarnya memiliki karisma tersendiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun terkadang ada anggapan karena letak geografisnya jauh dari daerah asal Islam itu sendiri, keabsahan nilai-nilai ajaran Islam Indonesia dianggap meragukan sehingga bisa dipandang sebelah mata.

Dalam pidato Presiden Amerika Barrack Husein Obama, ketika melakukan kunjungan ke Kairo Mesir 4 juni lalu. Kurang lebih Obama menyebut tiga kali nama Indonesia, hal itu sebagai penguat latar belakangnya serta bukti pengalamannya bahwa ia mengetahui Islam. Disampin itu, Islam Indonesia menjadi rujukan Obama sebagai Islam yang menjamin kemerdekaan beragama dan persamaan hak perempuan.

Pemerintah Rusia memilih dan mempercayai Indonesia untuk berdialog antar agama (interfaith dialog) yang berlangsung di Moskwa Rusia, 1-2 Juni lalu. Hal itu karena Setelah empat dekade penindasan rezim komunis, kehidupan beragama di Rusia kembali mengalami perkembangan. Dan sisi kompleksitas persoalan, Rusia dan Indonesia dihadapkan pada tantangan serupa dalam mengelola pluralitas masyarakatnya. Sama-sama pluralis dari sisi etnis, bahasa, budaya, dan agama, Rusia juga dihadapkan pada persoalan besar terkait relasi antaragama dan kebebasan beragama.

Lebih dari itu semua, Jamal al-Banna adik kandung Hasan al-Banna, seorang pemikir Islam pada masa kini. Ketika diwawancarai oleh mahasiswa Indonesia di Mesir, yang merupakan redaktur Jurnal Averrose (salah satu Jurnal yang diterbitkan Mahasiswa Indonesia di Mesir). Di dalamnya terdapat pertanyaannya, Apa pendapat Anda tentang negara Saudi Arabia yang mengklaim dirinya sebagai negara Islam? Apakah negara-negara seperti Indonesia atau Malaysia bukan termasuk negara Islam?

Beliau menjawab : Saya mohon, tolong jauhkan, sekali lagi jauhkan kata “Islam” dari Saudi Arabia. Sudah saya katakan, Saudi Arabia bukan negara Islam. Buang jauh-jauh negara Saudi Arabia dari wilayah Islam, buang saja ke “tong sampah”. Saudi Arabia baru bisa cocok kalau disebut sebagai negara Wahabi. Lihat saja bagaimana fanatiknya mereka terhadap Muhammad bin Abdul Wahab, sama sekali tidak toleran terhadap perbedaan. Bahkan, hemat saya, Indonesia dan Malaysia malah justru jauh lebih Islam daripada Saudi Arabia. Sebab di sana perbedaan masih dihormati. Kita lihat dalam ajaran Islam mengatakan, “perbedaan adalah rahmat.” Di Saudi Arabia tidak seperti itu, kalau orang berfikir agak sedikit berbeda, langsung dituduh berbuat bid`ah.

Kalau dilihat dengan seksama tanpa kasat mata beberapa pargraf di atas, membuktikan Islam Indonesia memiliki pengaruh yang besar di mata dunia serta tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan inilah nilai lebih Islam Indonesia yang tidak dimiliki oleh Negara-negara Islam lainnya.

Islam Indonesia sering menjadi rujukan untuk mencerminkan bahwa Islam rahmatan lil’alamien, bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan umat antar agama lainnya. Itulah jati diri dan karisma yang dimiliki oleh Islam Indonesia, dan ini harus tetap dijaga hingga kapanpun oleh umat muslim Indonesia dari berbagai latar belakang instansi dan organisasi keislaman yang ada di nusantara.

EPILOG

Indonesia sebagai negara yang luas berbentuk kepulauan dan berpenduduk heterogen, Keharmonisan dalam bingkai kehidupan masyarakat religius, merupakan bukti Indonesia adalah Negara relegius yang penuh toleransi.

Dunia membuktikan, bahwa demokrasi Indonesia tidaklah berseberangan dengan ajaran Islam yang memiliki kesamaan tujuan memberikan kedamaian dan menciptakan kehidupan yang harmonis. Tak salah bila Islam Indonesia sering dijadikan rujukan oleh Negara lain, bahkan tokoh berpengaruh di dunia sekalipun, untuk menyampaikan pesan perdamaian dan menciptakan masyarakat yang bermartabat dan harmonis.

Ini kiranya yang harus oleh seluruh tetap dijaga kelestariannya lapisan umat muslim Indonesia, sebagai ciri khas tersendiri Islam Indonesia di mata dunia.

RIFAI, Kairo 14 Juni 2009.

1) Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

2 thoughts on “ISLAM INDONESIA”

  1. cukup beralasan untuk mengklem bahwa indonesia adalah negera islam. kita lihat dari segi perjuangan pahlawan pahlawan kita yang mengusung konsep jihad sebagai bentuk perjuangan mereka terhadap negaranya (indonesia). dan jihad sendiri hanya terdapat pada islam. it’s oke.

  2. Sepakat untuk pendapat diatas. masyarakat Indonesia juga sebenarnya adalah masyarakat yang ta’at dalam beragama, ambil contoh Aceh sangat kental nuansa ke-Islamannya, Bali kuat dengan Hindu, Sulawesi utara dengan agama kristen, Semarang kuat dengan Budha. Hanya ada satu hal yang membuat kita masih harus bermusuhan, yaitu kurangnya toleransi karena kurang pemahaman apa arti hidup bersama, keterbatasan tingkat pendidikan juga yang mudah mengombang-ambing mental masyarakat ‘mudah konflik dengan disentil sedikit’ meski sekedar banyolan atau pembicaraan ringan. begitu kira-kira boss… semangat terus postingnya ya hehehe. [ramdan_indonesia]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s