Islam dan Akal


“Laqod kholaqna al-insana fi ahsani taqwim”

Manusia adalah mahluk Tuhan yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk, seluruh anggota tubuhnya sebagai satu kesatuan jasad dari kepala hingga ujung kaki, dengan fungsi-fungsinya yang saling bersinergi. Tapi, satu-satunya alasan terpenting dari kesempurnaan diciptakannya manusia adalah, karena manusia memiliki akal.

Fungsi akal manusia adalah berfikir, untuk menimbang menilai serta menganalisa. Dan yang sesuai dengan pertimbangan akal atau yang dipahami dengan akal bisa disebut rasional, sebaliknya yang tidak masuk akal disebut irasional.[1]

Dalam ajaran Islam, akal memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Eratnya hubungan agama dengan akal, bagaikan dua belah mata uang yang tak bisa dipisahkan, sebab ajaran Islam tidak akan diterima dan dipercaya kecuali sesuai nalar akal.[2] Sebagaimana  petuah Imam al-Ghazali dalam kitab Ma’arij al-Qudsi-nya yang menyatakan; akal tidaklah tercerahkan kecuali dengan syariat, serta syariat tidak akan terjelaskan tanpa peran akal. Jadi akal bagaikan pondasi dan syariat bagaikan bangunan. Pondasi tidak akan sempurna jika tidak ada bangunannya, dan bangunan tidaklah mungkin dibangun tanpa pondasi. Keduanya bukanlah hal yang berlawanan, melainkan keduanya menyatu sebagaiana firman Allah; nur ala nur, cahaya akal dan cahaya syariat.

Al-Qur’an dalam sejarah turunnya, ayat pertama yang diturunkan dalam surat al-Alaq, sebuah perintah untuk membaca Iqra’. Bahkan banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan betapa pentingnya akal, seperti pada surat al-Baqarah ayat 164[3] dan 242[4] dan lain sebagainya.

Perintah untuk berfikir selalu belajar mengambil hikmah yang pada prosesnya membutuhkan analisa melalui nalar akal dan pada akhirnya menambah keyakinan. Maka tak salah bila Muhammad ‘Imaroh ketika menjelaskan maqom akal dalam pemikiran Abduh, menjadikan akal sebagai asas utama dalam Islam, sebab akal merupakan perantara untuk meyakini Islam secara benar.[5]

Bahkan Muhammad Abduh tokoh reformis Islam abad 19 dalam buku Risalah Tauhidnya, benar-benar ingin menjadikan akal motor penggerak tindakan manusia untuk memajukan kehidupannya. Beliau berpendapat untuk menyempurnakan dan memajukan agama ada dua perkara yang harus penuhi, yakni; kemerdekaan berkehendak (istiqlalu al-Irodatu) dan kemerdekaan akal dalam berpendapat dan berfikir (istiqlalu ar-ra’yu wa al-fikru)[6].

Dua syarat pokok yang Abduh canangkan diatas merupakan upaya agar umat Islam bisa berubah untuk menentukan yang terbaik bagi mereka, sebab tidak akan berubah suatau kaum jika bukan karena kaum itu sendiri yang hendak berubah, disinilah bentuk dari istilalu al-irodatu. Serta agar umat muslim tidak terjerumus kedalam taqlid yang membuat umat Islam tidak berkembang dan stagnan dalam kejumudannya, disinilah diperlukannya istiqlalu ar-ra’yu walfikr (al-aqlu).

Setiap muslim dituntut benar-benar yakin bahwa dirinyalah yang menentukan nasib baik dan buruknya masa sekarang dan yang akan datang, memahami ajaran agama secara mendalam serta berfikir secara progresif  untuk menjawab tantangan zaman dan perkara-perkara baru, agar ajaran agama selaras dengan kondisi kemanusiaan dan bersanding dengan kemajuan zaman. Sehingga islam benar-benar terasa “soleh likulli zamanin wamakanin”.

Lebih dari itu, Abduh yakin betul kemajuan yang telah dicapai oleh Eropa pada abad ke-16 Masehi, karena dua perkara diatas sudah dipenuhi, beliau menjelaskan “Inna nasy’ata al-madinah fi uruba innama qomat ‘ala hadain ushulain” (sesungguhnya berkembangya kota di Eropa ketika menegakkan dua perkara pokok ini).[7]

Disinilah bentuk kepedulian Abduh untuk menyandingkan kehidupan masyarakat Islam dengan masyarakat Eropa yang sudah melangkah jauh melampaui umat Islam.

Pentingnya kebebasan akal atau kemerdekaan dalam berfikir juga diperjuangkan oleh tokoh feminis Mesir Qasim Amin, dalam bukunya “Tahrir al-Mar’ah”, setelah menjelaskan keadaan perempuan (Mesir) yang sangat memprihatinkan dalam keterpurukanya yang selalu mendapatkan prilaku diskriminasi yang beliau tulis dalam bab introduksi-nya, dengan bijak Qasim langsung menyodorkan pembahasan tentang modal utama melakukan pencerahan nasib perempuan, yaitu bab Pendidikan Perempuan.

Qasim yakin betul pendidikan dan pembelajaran yang merupakan proses untuk membuka akal nalar rasional bagi perempuan adalah solusi utama bagi kemerosotan yang terjadi pada umat. Karena dengan terbukanya akal perempuan, peran ilmu akan terasa satu-satunya yang dapat mengangkat keadaan manusia dari kerendahan diri dan keterpurukan menuju kemajuan, kehormatan dan kemulyaan.[8]

Satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan akal sebagaimana dikatakan “Aafatul aqli al-hawa”. Perusak akal sehat itu adalah hawa nafsu, kata filosof muslim Abu Bakar ar-Razi. Seharusnya akal bisa mengendalikan hawa nafsu bukan sebaliknya, hawa nafsu yang mengendalikan dan mempermainkan akal, dalam kitab at-Thibbu ar-Ruhani-nya.

 


[1] KBBI, Jakarta : Pusat Bahasa, 2008. Hal. 1268

[2] Muhammad ‘Imaroh, al-Manhaju al-Islahiyu lil imam Muhammad Abduh, 2009. Hal. 69

[3] .إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنْ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ

 وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

[4] كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ   

[5] Muhammad ‘Imaroh, al-Manhaju al-Islahiyu lil imam Muhammad Abduh, 2009. Hal. 69

[6] Muhammad Abduh, Risalatu at-Tauhid. 2005. Hal. 113

[7]Muhammad Abduh, Risalatu at-Tauhid,  2005. Hal. 113

[8] Qasim Amin, Tahriru al-Mar’ah, hal. 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s