Agama dan Filsafat dalam Makna


Dalam tinjauan semantik (lughowi) agama berarti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya[1]. Jika John M. Echols dan Hassan Shadily menyebut agama sebagai religion dalam bukunya Kamus Inggris Indonesia[2], sedangkan dalam bahasa Arab berasal dari mashdar kata dâna-yadînu yakni ad-dîn. Dalam kamus Al-Munawwir kata ad-dîn memiliki beberapa makna; kepercayaan (al-mu’taqad), tauhid (at-tauhîd), ibadah (al-ibâdah), kesalehan dan ketaqwaan (al-wara’ wa at-taqwâ), ketaatan dan kemaksiatan (at-thâ’ah wa al-ma’shiyah)[3].

Jika diresapi dari pemaknaan kata agama diatas, ada sebuah hubungan yang bisa ditarik sebagai benang merah, antara dua posisi yang bersinggungan. Dimana ada posisi yang mengungguli dan posisi tunduk dan patuh terhadap yang posisi dijunjung keunggulannya. Tentunya Tuhan, adalah dzat yang diposisikan mengungguli, sedangkan hamba/manusia berada pada posisi tunduk dan patuh terhadap segala peraturan dan ajaran yang diyakini dari Tuhan.

Banyak ilmuan yang meyakini agama memiliki dua kategori, sepertihalnya Dosen Akidah Filsafat Doktor Ali Mu’bad Furgholi yang menyebutkan dua jenis agama, antara Samawi dan Wadh’î. Agama Samawi; yang diyakini datang melalui jalan wahyu dari Tuhan kepada para nabi, serperti Nashrani, Islam dan Yahudi. Agama Wadh’î; keyakinan yang telah diletakkan melalui capaian akal manusia dan sebaliknya tidak datang melalui wahyu dari Tuhan, seperti Hindu, Budha dsb[4].

Dari hasil benang merah diatas menganalogikan bahwa seorang hamba sebagai manusia yang meyakini eksistensi keberadaan Tuhan entah itu dalam keyakinan agama Samawi dan Wadh’î, serta melaksanakan ibadah sesuai dengan kaidah perintah Tuhan yang diyakininya. Sehingga dengan itu manusia bisa disebut sebagai orang yang soleh, bertaqwa dan taat serta tidak bermaksiat dengan tidak melakukan larangan Tuhan. Tentunya dengan meyakini adanya balasasan antara pahala untuk orang yang tunduk dan patuh, dan azab bagi hamba yang tidak patuh entah didunia dan akhirat.

Sedangkan filsafat dikenal dengan sebutan philosophy (Inggris) philosophie (Perncis dan Belanda), filosofie, wijsbeegerte (Belanda), philosophia (Latin) dan falsafah dalam bahasa Arab. secara etimologis berasal dari kata Yunani, yaitu philos atau filo yang artinya cinta (dalam artian seluas-luasnya), dan shofia atau sofi yang artinya kebijaksanaan. Jadi dari dua kata tersebut filsafat bisa diartikan cinta terhadap kebijaksanaan.[5]

Dalam khazanah klasik Arab Islam, istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak pemaknaan termasuk hikmah, kâlam, ma’rifah, dan juga awâ’il, yang kemudian dikembangkan sesuai dengan diskursus cabang-cabang filsafat tertentu, seperti tata bahasa (nahwu) dan sejarah (tarikh)[6].

Falsafah dan hikmah selalu memiliki ruang perbincangan para teolog, filosof serta para sufi dalam Islam. Sebab pembahasan mereka sebenarnya satu interpretasi, yakni permasalahan pengetahuan, dan semua itu tentunya melalui proses pemikiran dan nalar akal untuk mendapatkan kebaikan. Maka tak salah bila Doktor Ahmad Fuâd al-Ahwânî  memberikan dua pandangan kriteria falsafah, dipandang secara makna luas/umum (ma’na wâsi’) dan dipandang secara sempit/khusus (ma’na dhoyyiq). Semua manusia bisa dikategorikan filosof jika melalui pemaknaan falsafah secara luas, sebab semua manusia sejak dari awalnya memang selalu berfikir untuk mengetahui sesuatu, sedangkan falsafah dalam pandangan khusus maka sedikit manusia yang masuk dalam kateria filosof[7].

Ada beberapa pemaknaan filsafat menurut Sayyed Hussein Nasr selaku editor sekaligus kontributor buku History of Islamic Philosophy yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi buku Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, filsafat yang lazim digunakan oleh kalangan umat Islam menurutnya adalah[8]; Filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang ada, sebagai pengetahuan tentang ilahiyah dan insaniah, seabagai mencari perlindungan dalam kematian dalam artian cinta pada kematian (sufi), sebagai upaya menjadi seperti Tuhan dalam kadar manusia (sufi), sebagai seni tentang seni-seni dan ilmu tentang ilmu-ilmu, dan pra-syarat bagi hikmah.

Dari penjelasan dua kata diatas antara agama dan filsafat, dapat disimpulkan dengan sedikit penjelasan bahwa agama merupakan sebuah ajaran suci manusia yang dengannya manusia menghambakan diri kepada Tuhan yang diyakininya. Sedangkan filsafat, merupakan jalan mencari pengetahuan dengan kinerja penalaran akal, untuk mencapai kebaikan dan kebijaksanaan. Jika kebenaran filsafat bernilai ilmiah, kebenaran agama bernilai dogmatic/pengkultusan/suci.


[1] Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008. Hal: 8.

[2] Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, terj. An-Englis-Indinesian Dictonary. Jakata : Gramedia Pustaka Utama. Hal. 476

[3] Munawwir. AW, Kamus al-Munawwir; Arab dan Indonesia Terlengkap. Surabaya; Pustaka Progressif, 1997. Hal: 437

[4] Ali Mu’bad Furgholi, Dirâsât fi al-Milal wa an-Nihal, diktat kuliah Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo 2009. Hal: 11.

[5] Darji Darmodiharjo, Pokok-pokok Filsafat Hukum. Cet.VI, Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 1995. Hal. 5-6.

[6] Sayyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan Media Utama, 2003. Hal: 29

[7] Ahmad Fuad al-Ahwani, Fi Âlimi al-Falsafah. Kairo : al-Hai’ah al-Mishriyah al-Âmah, 2009. Hal: 45.

[8] Sayyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam; Makna dan Konsep Filsafat dalam Islam. Bandung: Mizan Media Utama, 2003. Hal: 30.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s