Imam Abu Hanifah dan Ahlu Ra’yi


Perbedaan pandangan dalam permasalahan hukum syari’ah, terutama masalah furu’iyah (cabang) dalam ajaran Islam tak kalah semaraknya dengan pergumulan aliran kalam. Bahkan sejarah juga menjadi bukti perbedaan pandangan dalam memutuskan sesuatu hukum yang terjadi pada masa kholifah ar-rasyidin. Tepatnya antara Umar bin Khathab dan Abu Bakar, dalam masalah pembunuhan umat muslim yang tidak membayar zakat.

Dari benih perbedaan pendapat masalah furu’iyah diatas, semakin semarak dengan bersamaan semakin meluasnya Islam tersebar. Ahmad amin mencatat pada masa kekuasaan Abbasiyah, perkembangan fiqih mengalami pembengkakan dan tumbuh dengan pesatnya. Memang pada masa daulah Abbasiyah kebebasan dalam berijtihad sangat terbuka luas , sehingga pergolakan intelektualitas dan gerakan ilmiah sangat ramai dari berbagai kalangan muslim. Bahkan gerakan-gerakan untuk mengkodifikasi ajaran fiqih-pun terjadi pada masa ini, dimana ketika itu umat muslim dalam mengambil hukum merngacu kepada dua aliran, antara ahlu ra’yi dan ahlu hadits.

Ahlu hadits berkembang di pusat daerah Islam yakni Hijaz. Sedangkan Ahlu ra’yi berkembang di luar daerah pusat munculnya masyarakat Islam perdana, yakni di Iraq. Para sahabat ahlu ra’yi dalam menetapkan keputusan hukum merujuk kepada abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (80-150 H), boleh dikatan sebagai ‘founding father’ kelompok ini. Bahkan beliau merupakan orang yang digadang-gadang sebagai orang pertama yang meremuskan hukum fiqih dalam Islam.

Imam abu Hanifah memang bukan seorang perawi (orang yang meriwatkan) hadits, walaupun beliau semasa hidupnya bertemu dengan Anas bin Malik, pembantu pribadi nabi Muhammad SAW, yang meninggal pada 93 H, begitu juga Abul Tufail Amir bin Wathilah, yang meninggal pada 100 H ketika Abu Hanifah berusia 20 tahun. Tapi beliau merupakan seorang kolektor hadits, beliau memiliki beberapa lemari yang di dalamnya mencapai hingga 4000 hadits, setengah dari hadits itu beliau dapatkan dari gurunya Hammad bin Abi Syaibah, dan setengahnya lagi dari selain gurunya.

Beliau merupakan seorangan yang memiliki otoritas untuk menetapkan keputusan suatu hukum. Anas bin malik mengakui kefaqihan imam Abu Hanifah, beliau berkata : saya sudah berkumpul bersama abu Hanifah, kita duduk bersama dalam waktu yang lama, dan saya berbincang-bincang dengannya membahas permasalahan yang banyak, dan saya tidak pernah bertemu seseorang yang lebih faqih darinya.

Pernah suatu ketika imam abu Hanifah bertemu dengan imam Auza’ie di Mekkah, kemudian imam Auza’ie berkata kepada imam abu Hanifah : kenapa kalian tidak mengangkat tangan ketika hendak ruku’ (dalam sholat) dan ketika bangun dari ruku’? abu Hanifah menjawab : karena sesungguhnya itu sama sekali tidak dibenarkan oleh Rosulullah. Lalu imam Auza’ie berkata : terus bagaimana, Zuhri meriwatkan kepada saya dari Salim dari Ayahnya dari Rosulullah, sesungguhnya beliau mengangkat tangan dalam pembukaan sholat dan ketika ruku’ serta ketika bangun dari ruku’? kemudian abu Hanifah menjawab : kami telah diriwayatkan dari Hammad dari Ibrohim, dari Alaqomah, dari Aswad, dari ibn Mas’ud, sesungguhnya Rosulullah tidak mengangkat tangannya kecuali pada pembukaan sholat, dan tidak mengulangi kecuali hanya itu.

Imam Auza’ie berkata : saya meriwayatkan kepadamu dari Zuhri, dari salim dari ayahnya. Kemudian imam Auza’ie manambahkan : kamu meriwayatkanku Hammad dari Ibrohim? Imam Hanifah-pun berkata kepadanya : sesungguhnya Hammad lebih faqih daripada Zuhri, dan Ibrohim lebih faqih daripada Salim hingga imam Auza’ie-pun diam.

Dari dua kisah diatas sesungguhnya kapabelitas imam abu Hanifah dalam menentukan keputusan hukum tentulah tidak diragukan. Imam Hanifah yang berguru kepada Hammad ahli fiqih Ibrohim serta dalam periwayatannya, pantas bila pemikiran abu Hanifah banyak terpengaruh dari pandangan imam Ibrohim an-Nukho’ie, dalam mengambil istimbad (kesimpulan) yang kemudian dikiaskan kepada permasalahan yang akan diambil hukumnya dalam fiqih . Nah, dari sinilah ahlu ra’yi yang terkenal dengan penggunaan kiasnya dalam mengambil keputusan hukum berkembang di Iraq.

Rumusan penentuan hukum imam Abu Hanifah memang sangat berbeda dengan cara pandang ahlu hadits yang mengambil hukum-hukum sesuai dengan teks hadits, memang Hijaz sangat mempresentasikan untuk itu karena pusat tumbuhnya hadits disana. Lain halnya di dengan cara imam Abu Hanifah yang mengambil istimbad hadits yang kemudian dikiaskan kepada permasalahan yang akan ditentukan hukumnya, Ahmad Amin beranggapan bahwa rumusan ahlu ra’yi sebagai ‘taqrib al-fiqh ila al-adhan’ (mendekatkan hukum fiqh kepada akal).

Ada beberapa hal yang menjadikan ahlu ra’yi berbeda dengan ahlu hadits dalam menetapkan hukum, diantaranya;

1. Minimnya hadits di daerah Iraq, maka tak salah bila Mushthafa Abdurraziq beranggapan di Iraq umat muslim banyak yang menggunakan kias dan mempelajarinya secara mendalam. Bagaimana mereka menentukan halal dan haram, dengan mengambil intisari dari makna sebuah nash untuk menentukan hukum dan kedalamannya dalam memandang suatu permasalahan serta bagaimana mencabang-cabangkannya, dan itulah yang dikuasai oleh mereka.

2. Masyarakat muslim di Iraq disibukkan dengan pembangunan memajukan kepemerintahan daulah. Disini Mushthafa Abdurraziq melihat ahlu Iraq bermaksud mejadikan fiqih sebagai pelengkap kebutuhan hukum dalam kepemerintahan . Sehingga fiqih ketika itu di Iraq memiliki peran penting dalam mengatur undang-undang kepemerintahan.

Dari kedua point diatas bisa ditarik benang merah, jika fiqih di Iraq pada ahlu ra’yi dipelajari secara mendalam dan prosesnyapun sangat hati-hati terutama ketika menganalisa dalam mengambil istimbad yang kemudian diqiaskan untuk mengambil sebuah hukum. Sehingga kebijakan ahli fiqih memiliki pengaruh bagi stabilitas kepemerintahan untuk memajukan masyarakat yang madani, berpikir progresif dinamis dan rasional.

Abu Hanifah sangat marah bila ada yang menganggapnya mendahulukan qias daripada nash, beliau meyakinkan sesungguhnya tidak mengkiaskan nash kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak, apalagi sebelum melihat dalil permasalahan di dalam kitab, sunnah dan ketetapan para sahabat rosul. Nah, jika tidak ada dalil maka diambillah kias yang seseuai dengan nash permasalahan itu .

Abu Hanifah dalam hidupnya tidak meninggalkan sebuah karyapun, mamun para sahabat dan murid-muridnya telah banyak mencatat dan menjaga metode dalam pengambilan sebuah hukum yang telah dicanangkan oleh abu Hanifah, seperti sahabat dua terdekatnya, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrohim (112-183 H) yang menjadi hakim di Baghdad pada masa Harun ar-Rasyid dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (wafat 189 H) . hingga akhirnya semua ajaran abu hanifah berkembang menjadi madhab fiqih pertama dalam keyakinan umat muslim sunni, yang biasa disebut madhab imam Hanafi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s