Membincang Madinah Fadhilah ala Plato dan Aristoteles


Oleh; Rifai

Sir Ernest Barker mengungkapkan bahwa pemikiran politik yang ramai diperbincangkan di Yunani (klasik) berlandasan kinerja khusus dalam perhatiannya. Sebab kota (madinah), merupakan kumpulan masyarakat beretika/bermoral, oleh karenanya ketika Yunani mengaffirmasi ilmu politik terkait dengan masyarakat sosial, maka muncullah ilmu ini dengan corak khusus yaitu ilmu akhlak.[1]

Dari ungkapan Ernest diatas nampak benang merah, bahwa kajian politik ke-Negara-an dalam pandangan filosof Yunani tidaklah menggunakan analisa pandangan politiknya terhadap undang-undang dan peraturan, melainkan lebih mendalam lagi analisa falsafah etika/akhlak. Jadi ilmu politik lebih kepada pembahasan dasar etika sosial daripada undang-undang. Sebab dengan akhlak/etika akan menimbulkan konstruk, nilai dan acuan untuk memberikan konstribusi terbaik bagi kemaslahatan bersama dalam lingkup negara. Baik dan buruk akan menjadi titik tolak dalam membincangkan  etika kenegaraan.

Pada hakekatnya Plato sudah memberikan gambaran mengenai politik dan akhlak, sebagaimana Dr. Fuad Ahwani saat mengkaji kitab Republik Plato yang mengemukakan bahwa, pembahasan akhlak merupakan asas terbentuknya “Madinah Fadhilah” atau “Kota Utama” sebab akhlak dan politik menurut Plato tidaklah terpisahkan keduanya.[2]

Maka politik dalam membangun sebuah Negara harus memiliki nilai dasar yang mulya, untuk menciptakan kesejahteraan bersama dalam masyarakat yang utama. Dan inilah yang melandasi penulis untuk memberikan judul “Madinah Fadhilah” dalam kajian ini.

Dalam Republik-nya Plato membuat pertanyaan: siapa itu orang shalih/baik? Dan bagaimana caranya untuk mencapainya (menjadi orang baik)?[3] Dari ungkapan ini tercermin sebuah interpretasi yang mendalam mengenai nilai etika/akhlak. Tentunya orang yang baik bukanlah orang yang menjadi musuh Negara, sebab orang yang memusuhi negara tentunya bukannlah orang yang baik, dan ingin merusak dan menghancurkan negara.

Imam `Abdul Fatah dalam bukunya al-Ahlaq wa as-siyasah, menerangkan lebih mendalam konotasi dari terma politik dan akhlak. Beliau menjelaskan makna akhlak lebih condong kepada perilaku pribadi, sedangkan politik lebih luas lagi mengenai perilaku orang banyak/masyarakat sosial. Maka jika orang berperilaku baik (shalih) disebut berakhlak sedangkan masyarakat yang baik disebut, negara utama (daulah fadhilah).[4]

Karena memang untuk membentuk masyarakat yang utama haruslah berdasarkan pribadi-pribadi yang baik. Sebagaimana yang diungkapkan Plato ketika menjelaskan keadilan, “keadilan yang menjadi tema dalam pembahasan kita, jika terdapat dalam pribadi dengan sifat mulya yang dimilikinya, maka hal itulah yang terdapat di dalam Negara…disinilah gambaran yang lebih besar dari keadilan lebih mudah bagi kita untuk mengetahuinya”.[5] 

Imam Abdul Fatahpun mengungkapkan empat pilar yang menjadi landasan terbentuknya Madinah Al-Fadhilah menurut Plato[6] yaitu; kebijaksanaan (al-hikmah), keberanian (asy-syaja`ah),  luhur (al-`iffah), dan keadilah (al-`adalah).

Kinerja keempat pilar ini memiliki peran penting antara satu dan lainnya dalam membentuk Negara yang ideal. Asas pertama, kebijaksanaan (al-hikmah), melambangkan pemimpin yang ahli dan bijaksana. Negara akan bijaksana bila hukum penguasa menggunakan hukum filosof/cendekiawan dan para ahli, karena mereka yang biasa menjadi orang bijaksana dan pakar. Dalam hal ini menandakan bahwa Plato menyerahkan kepemimpinan Negara kepada seorang yang ahli dan bijaksana.

Landasan yang kedua, yaitu asy-syaja`ah (keberanian).  Hal ini melambangkan kekuatan Negara, menjelaskan betapa pentingnya peran tentara atau militer untuk menjaga[7]  keamanan dan stabilitas sosial, tentunya dari faktor internal yang merusak terutama penyakit sosial, serta faktor eksternal dari pihak asing yang ingin menjajah, memecah belah dan menghancurkan kesatuan negara. Tentunya suatu keniscayaan memiliki prajurit yang kuat dan handal untuk mempertahankan harkat martabat negara.

Asas ketiga, luhur/kesucian (al-`iffah). Lambang memiliki warga memegang teguh nilai luhur dan kesucian jiwa dan raga. Hal ini tentunya tercipta ketika meratanya[8] pemerintah dalam memberikan kesejahteraan rakyatnya, sehingga terjaga dari terciptanya penyakit sosial dan sampah masyarakat. Untuk itu hubungan timbal balik dan pembagian kerja adalah niscaya, sebagaimana petani membutuhkan nelayan, pedagang membutuhkan pelayan, begitu juga pejabat dan rakyat. Plato mengungkapkan munculnya negara karena adanya hubungan timbal balik dan rasa saling membutuhkan antara sesama manusia. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan orang lain. Ini memungkinkan terjadinya hubungan tukar-menukar dalam kehidupan sosial manusia.[9] Negara dalam hal ini berkewajiban memperhatikan penukaran timbal balik dan harus berusaha agar semua kebutuhan masyarakat terpenuhi sebaik-baiknya.

Dan asas terakhir adalah keadilan (al-`adalah), dalam pembahasan ini bukanlah adil dalam kacamata hukum, keadilan disini bermakna lebih esensial mengenai perilaku seorang untuk adil terhadap dirinya sendiri kemudian meluas kepada masyarakat secara umum. Keadilan disini lebih mencermin ketika setiap warga memiliki keahlian secara khusus dan mempekerjakannya sesuai dengan bidangnya, yakni menempatkan orang sesuai dengan tempatnya.[10] Dan untuk mencunculkan keterampilan setiap warga, Plato merancang khusus bentuk pembinaan tiap warga dalam jenjang pendidikan sejak kecil hingga besar, bahkan filosof modern Rosseu menganggap kitab Republik bukanlah kitab politik melainkan lebih cenderung kepada metode pendidikan dan pembelajaran.[11]

Dalam pandangan Plato sistem Negara terbagi menjadi menjadi empat, sebagai berikut[12]: (1) Aristokrasi; pemerintahan yang dipimpin oleh ilmuwan yang bijaksana, tapi akan merusak bila pemimpinnya terlalu bernafsu untuk berperang. (2) Oligarki; pemerintahan yang dijalankan oleh golongan elit, pemerintahan ini akan rusak bila dipegang oleh kaum borjuis yang menciptakan kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin. (3) Demokrasi; pemerintah yang dipilih secara bebas oleh masyarakat, akan rusak apabila nafsu kebebasannya terlalu tinggi sehingga keluar dari norma dan tak terkontrol. (4) Tirani; pemerintahan terburuk yang dipimpin oleh pemimpin yang sewenang-wenang dan otoriter.

Setelah sedikit menelisik pembahasan terbentuknya “Madinah Fadhilah” ala Plato, untuk melengkapi pembahasan perlu juga menganalisa politik etika Aristoteles yang merupakan murid dari Plato, terutama menelisik keterpengaruhan konsep politiknya. Sebagaimana Ernest Barker mengungkapkan posisi Aristoteles dalam konsep politik dan etika dengan dua predikat, hingga orang Yunanipun kala itu mendongengkan bahwa Aristoteles merupakan penafsir akhlak dan penjelas hukum dan undang-undang.[13]

Pembahasan politik dan akhlak dalam analisa Aristoteles tidaklah berbeda jauh, sama-sama memaknai akhlak perilaku seseorang sedangkan politik jangkauannya lebih luas mengenai kelompok orang atau masyarakat, dan nilai-nilai dasarnya sama tentang perilaku kebaikan dan kemulyaan. Ada tiga asas dalam analisa Aristoteles dalam membahas konsep akhlak yang kemudian berkembang kepada politik, yaitu; tujuan yang mulya (al-gha’iyah), kebaikan yang absolut (al-khoir al-aqsha), dan ilmu politik (`ilmu as-siyasah).[14]

Asas yang pertama, tujuan yang mulya (al-gha’iyah). Aristoteles menjelaskan bahwasanya setiap perbuatan seni dan penelitian bahkan semua kegiatan manusia akan terpancar dari tujuaannya,  atau kepada hasil kebaikan apa? dari sini akan terlihat kebaikan yang sebenarnya. Dalam artian sebuah keniscayaan manusia memiliki suatu tujuan yang baik dalam setiap bidang pekerjaannya. sepertihalnya kedokteran berperan penting dalam kesehatan, ilmu pelayaran berperan penting untuk transportasi laut dan menyediakan suplai makanan hasil laut dan lain sebagainya.

Asas yang kedua kebaikan yang absolut (al-khoir al-aqsha). Kebaikan ini merupakan kelanjutan dari kebaikan diasas pertama, kebaikan yang terpancar dari setiap bidang itu akan menuju kebaikan yang tiada tara ketika kebaikan-kebaikan itu menuju kepada satu tujuan universal dalam menciptakan negara yang sejahtera dan tentram. Maka tujuan politik dalam membentuk negara haruslah memiliki nilai yang memancarkan kebaikan dari tiap diri manusia. Sebagaimana ungkapan Aristotles, kebaikan yang ada di manusia itu merupakan kebaikan bangsa. Oleh karenanya kebaikan Negara adalah sesuatu yang paling sempurna. Dan inilah pembahasan dalam permasalahan politik kemasyarakatan.[15]

Asas yang ketiga, yaitu ilmu politik (`ilmu as-siyasah). Dari kedua pembahasan diatas sudah cukup menjelaskan kinerja politik sesungguhnya dalam sebuah negara. Tujuan ilmu politik adalah kebahagiaan, dan itu tercermin jika hidup dengan baik dan melakukan perbuatan yang baik. Inilah pandangan aristoteles mengenai ilmu politik yang mencerminkan kebaikan tiada tara untuk manusia, ilmu yang membentuk manusia berbudaya dan berperadaban yang terdapat di kota dan mereka merupakan manusia yang mencintai hidup mulya.[16]

 Aristoteles mengemukakan beberapa bentuk negara. Bentuk negara itu terkait erat dengan aspek moralitas. Itu terbukti dari klasifikasinya mengenai negara yang baik dan negara yang buruk. Negara yang baik adalah negara yang sanggup mencapai tujuan kebahagiaan yang bernilai eskatologis, sedangkan yang buruk kebalikannya.

Ada tiga Negara yang termasuk dalam kriteria baik, yaitu; Monarki, Aristokrasi dan Konstitusional/politea. Begitupun sebaliknya Negara yang buruk, yaitu; Tirani, Oligarki, dan Demokrasi. Sebenarnya korelasi hubungan antara bentuk negara yang berbeda itu pada dasarnya satu jenis dalam kepemerintahan, tapi kalau dilihat lebih mendalam yang menjadi penyebab pembeda adalah nilai etika/akhlak yang dilakukan para aparatur pemerintahnya.[17]

hal diatas sebuah titik tolak yang harus disadari, bahwa untuk membentengi politik keduniaan yang kotor maka perlu menumbuhkan kesadaran yang tinggi akan peran akhlak/etika –sebagaimana pemaparan panjang diatas– mempertegas kembali peran penting etika berpolitik agar memiliki nilai eskatologis mencerminkan hidup tidak hampa dalam budak materialisme, dengan tujuan dan perilaku yang terpuji, bukan terhina.

Dari sini, wacana Madinah Fadhilah adalah salah satu terma klasik yang pantas di kampanyekan dan dikaji lebih mendalam lagi agar bisa di kontekstualisasikan dimasa kekinian, terlebih upaya menciptakan situasi berpolitik yang membangun dan bukan yang merusak dan menghancurkan.[]


[1] Ernest barker, An-Nadhriyah As-Siyasah `inda Al-Yunan, Vol. I, Mu’assasah Sajala al-Arab, Kairo 1966, hal. 19.

[2] Dr. Ahmad Fuad Ahwani, Al-Aflathun, Dar Al-Ma`arif, Kairo, 1965, hal. 134.

[3] Plato, Al-Jumhuriyah, penerjemah Dr. Ahmad Fuad Ahwani, Al-Hai’ah Al-Mashriyah Al-`Amah lilkitab, Kairo, 1985, hal. 428.

[4] Imam `Abdul Fatah dalam, Al-Ahlaq wa As-Siyasah, Al-Hai’ah Al-Mashriyah Al-`Amah lilkitab, Kairo, 2010, hal. 161.

[5] Plato, op. cit., hal. 368.

[6] Imam `Abdul Fatah, op. cit., hal. 160

[7]Dr. Mushtafa Nasyar  menjelaskan peran penting tentara untuk menjaga stabilitas Negara. Lihat: Ara’a Al-Aflathun fi An-Nafsi wa Qadhaya al-insan dalam bukunya Madkhol li Qira’ati Al-Fikr Al-Falsafi`Inda Al-Yunan. Hal. 95.

[8] Imam `Abdul Fatah, op. cit., hal. 160

[9] George Sabine, Tathawwur Al-Fikr As-Siyasi, kairo: Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-`Amah, 2010, hal. 95.

[10] Dr. Mushtafa Nasyar, op. cit., hal. 94

[11] Dr. Mushtafa Nasyar, op. cit., hal. 98

[12] Sistem pemerintahan yang rusak ini dijelaskan secara terperinci oleh Dr. Mushtafa Nasyar, op. cit., hal. 101-102.

[13] Ernest barker, An-Nadhriyah As-Siyasah `inda Al-Yunan, Vol. I, Mu’assasah Sajala al-Arab, Kairo 1966, hal. 87.

[14] Imam `Abdul Fatah, op. cit., hal. 171.

[15] Ibid.

[16] Ibid. hal. 175-176

[17] Betrand Russel, Tarikh al-falsafah al-Gharbiyah, Vol. I, kairo: Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-`Amah, 2010, hal. 299.

3 thoughts on “Membincang Madinah Fadhilah ala Plato dan Aristoteles”

  1. sepakat dengan tulisan diatas, memberikan pemahaman yang aktual masa kini. kajian kenegaraan perlu dibahas dan dikaji terus oleh kaum muda yang nantinya menjadi generasi penerus. insyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s