Agama dan Pencarian Tuhan


Tiada sikap yang lebih baik dan mulya, sebagai hamba Allah yang bertauhid, cepat atau lambat pasti berjumpa denganNya kecuali langkah takwa menyertai kita, dimanapun kapanpun dan insyaAllah dalam kondisi bagaimanapun.

Shalawat dan salam sejahtera senantiasa kita limpahkan bagi hamba pilihan Allah Rosulullah SAW, yang berhasil mendobrak dinding pemisah, antara bangsa barat dengan bangsa timur, bangsa arab dan bangsa azam, antara kulit hitam dan kulit putih.

 Islam adalah agama yang tidak terikat oleh teritorial geografis.  Islam adalah agama yang tidak terikat oleh suku, bangsa, etnis, rasis, nasionalisme. Islam adalah agama yang tidak terikat oleh ideologi apapun, apalagi ideologi materialistis, atau ideologi kepentingan. Bahkan Islam agama yang tidak terikat pada yang sekedar darah keturunan, yang mengikat Islam hanya Allah dan Rosul-Nya.

Maka yang paling mulya diantara hamba-hamba Allah bukan siapa yang bicara atau yang mendengar, bukan siapa yang tua atau yang muda. Tetapi siapa diantara kita yang paling pandai, paling pintar, paling tekun mendekatkan diri kepadaNya.

Inna Akramakum indallahi Atqakum.

Sesungguhnya yang paling mulya diantara hamba-hambaku adalah siapa diantara mereka yang paling bertaqwa. Taqwa adalah penilaian yang paling obyektif.

Rosulullah bersabda; Aqisu min ummati aksarhum zikral maut, wa asyaddu isti’dadan lahu.

Yang paling cerdas, yang paling pintar, yang paling mulya diantara umatku adalah siapa di antara mereka yang paling banyak ingat mati, dan mempersiapkan hidup setelah mati.

Para profesor berkata, semakin maju zaman, semakin tinggi tingkat peradaban dan kebudayaan umat manusia. Semakin luas otoritas intelektual manusia, lambat laun tapi pasti dengan pastipula manusia berlomba-lomba meninggalkan agamanya masing-masing.

Ada dua faktor yang melatarbelakangi  fenomena yang sangat agresif ini. Yang pertama, Mereka menganggap bahwa agama sudah tidak sanggup menjawab kebutuhan manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman. Akibatnya, mereka mencari solusi dan alternatif lain yang dapat menjawab problemanya, sehingga sengaja  tidak sengaja, sadar tidak sadar, lahirlah agama baru atau memang mereka melahirkan agama baru itu. Materialisme, sekularisme, hedonisme, dalam teks agama nabi; hubbu ad-dunya wa karahiatul maut. Cinta dunia yang serba serbi berlebihan akibatnya mereka takut mati.

Disisi lain mereka menjadikan agama hanyalah mitos-mitos lama, cerita-cerita sakral. Kalaupun yang dihidupkan dari agama, yang hidup adalah ritual rutinitas, bukan ritual yang berkualitas. Boleh jadi, Allahu Akbar diatas hamparan sajadah, Allahuakbar di Musholla, Allahuakbar di Masjid. Tetapi di kantor, di hotel, di lapangan nafsuakbar. Di mulutnya bertasbih, bertahmid, bertakbir, bersholawat. Tetapi dari mulutnya inilah ia berbohong, menipu, gibah, fitnah.  Lagi sholat ia tutup auratnya sopan rapi dan mulya, sehingga mudah dikenal oleh para penghuni langit dan bumi. dan Allah abadikan dalam surah al-Ahzab; Dzalika adna an yu’rofna fala yu’dzaina.

Mereka mudah dikenal sebagai wanita mukminat dan tidak mudah diganggu. Tapi seribu kali sayang, walaupun berikrar dalam sholatnya tunduk patuh pada perintah Allah, seusai sholat pakaian sopan santun mulya itu kembali ditanggalkan, digantikan pakaian serba-serbi transparan.

Kedua, Mereka menyatakan my braind is my God, otakku adalah Tuhanku. Dengan kemampuan otak, olah otak, melahirkan ilmu pengetahuan. Saince, dari saince melahirkan teknologi, dengan teknologi segala urusan manusia akan dapat dicapai dengan segala kemudahan.

Maka saat itu manusia tidak lagi membutuhkan agama, bahkan titik kulminasinya mereka menganggap; bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang mengada-adakan Tuhan alias manusia yang menciptakan Tuhan. Dengan alibi yang sangat nakal, ia bertanya; kalau memang Tuhan itu ada lalu dimana adanya? Kalau memang Tuhan itu ada kapan adanya? Telor ayamkah dulu atau ayam dulu? Kalau memang Tuhan itu ada bagaimana wujudnya?

Maka tidak mustahil ada agama yang mewujudkan Tuhan dalam bentuk benda-benda, hewan, manusia. Heh, sangat unikkan! Tuhan dipersonifikasikan dalam bentuk manusia. Baik! kalau memang alam raya ini ciptaan Tuhan, dan itu menjadi alasan semua agama, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan yang amat nakal ini kita akan jawab dalam mudzakarah kita ini.

Dari dua pernyataan ini melahirkan dua pertanyaan. Pertama, apakah semua agama tidak sanggup menyokong kebutuhan umat manusia dan tidak lagi sesuai dengan zaman? sebagaimana Karl Marx berkata, “semua agama adalah candu”.

Padahal tesis Karl Marx hanya kepada satu agama, dari kegagalan agama gerejani di kala itu. Masih ingat, tirani intelektual? Birjano Cover  Nicus, Galileo adalah tumbal dari tirani intelektual  itu. Kaum gerejani kala itu beranggapan bumi sentris, padahal hasil penelitian membuktikan matahari sentris.  Ambivalensi  antara paham gerejani dengan para ilmuan ini, tetapi karena gerejani kala itu berkuasa, mereka dihukum bahkan dieksekusi dengan dibakar secara hidup-hidup.

Kemudian tirani ekonomi, dimana jamaah diharuskan membayar sebagian hartanya untuk kepentingan Tuhan bapak diatas sana, tetapi malah digunakan untuk kepentingan pribadi kaum gerejani. Kemudian yang paling menyakitkan adalah tirani kepercayaan dengan dokma licensi pengampunan dosa oleh Paus. Seperti apapun dosa manusia, akan dapat diampuni, asal mampu membayar. Atas nama fulan bin fulan, bahwa dosa-dosanya diampuni, masa lalu, masa kini dan masa akan datang, dan akan duduk berdampingan dengan Tuhan bapak sana.

Justru doktrin yang terakhir ini, yang menjadi pangkal aroganisme kebrutalan, semakin berani orang melakukan pelanggaran-pelanggaran agama, toh nanti diampuni oleh Tuhan. Semakin berani orang merampok, toh tinggal dibayar. Semakin berani orang korupsi, toh akan beres dengan duit.  Yang baik menjadi jahat, yang jahat semakin menjadi-jadi jahatnya.

Karl Marx kecewa, lalu menarik kesimpulan dengan emosional, “agama tak ubahnya seperti tirani, penjara kehidupan”. Lalu dengan terpopoh-popoh menyatakan, “semua agama adalah candu”.

Baik! kalau Karl Marx menyatakan semua agama adalah candu, berarti Karl Marx berkata, “semua yang berkaki empat adalah kerbau”. Padahal, tidak hanya kerbau yang berkaki empat, anjing, kucingpun berkaki empat. Berarti pasti, ada satu kebenaran mutlak diantara kebenaran nisbi. Yang mana? Justru masalah ini yang kita bahas pada mudzkarah ini.

Pertanyaan yang kedua, manusia yang bagaimana yang pantas beragama? Apakah manusia kalau sudah cerdas, tidak lagi membutuhkan agama? Dalam artian lain, agama hanya milik orang-orang bodoh, orang-orang terbelakang. Lalu kesan agama adalah kesan keterbelakangan, kesan kampungan.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini diperlukan pengkajian secara obyektif, bukan subyektif. Rasional, bukan emosional. Bahasan otak, bukan hati. Mengapa? Jika pengkajiannya berdasarkan subyektif, emosional atau hati. Maka hasilnya adalah nisbi, rerlatif dan semu, alias kebenaran yang terbatas.

Semua agama benar, menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing adalah benar, tidak salah. Karena menurut kepercayaannya masing-masing, hasilnya relatif. Tetapi kalau dikaji secara rasional obyektif, tidak mungkin semua agama benar. Pasti ada kebenaran mutlak diantara kebenaran nisbi, pasti ada kebenaran obyektif, umum diantara kebenaran subyektif yang terbatas.

Baik, kita mulai pengkajian obyektifitas ini dengan mencari jawaban syarat-syarat Tuhan. Jika Tuhannya benar, agamanya benar.

Pertama, Teori Relatifitas Einsten yang terbatas pada empat dimensi; ruang, waktu, daya dan guna. Selama terbatas oleh empat dimensi ini, maka selama itu disebut alam raya. Berarti syarat Tuhan yang pertama, mutlak tidak terbatas. Dan relatifitas inilah menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal tadi; dimana, kapan, bagaimana, siapa yang menciptakan Tuhan?

Kalau ada yang bertanya dimana? Berarti terbatas oleh dimensi tempat, dan itu bagian dari alam, Tuhan tidak terbatas dimensi tempat. Kapan? Itu terbatas dimensi waktu. Bagaimana? Terbatas dimensi wujud dan guna. Lalu siapa yang menciptakan Tuhan? Teori ini mengajarkan jawabannya adalah Tuhan, yang menciptakan Tuhan adalah Tuhan, asal jawabannya Tuhan pasti berhenti pada kata Tuhan atau dihentikan oleh Tuhan.

Berarti teori relatifitas menyatakan, Tuhan mutlak tidak terbatas, hanya alamlah yang terbatas.

Kedua, Teori Non Otomatik. Bahwa di muka bumi ini tidak ada yang otomatis, atau terjadi dengan sendirinya, bim salabim abra kadabra like magic show. Dibalik wayang pasti ada dalang, dibalik film pasti ada sutradara, dibalik permainan pasti ada pemain.  Dibalik ciptaan pasti ada pencipta.  Maka mungkinkah rotasi, evolusi alam yang menakjubkan para kosmolog, sehingga melahirkan ilmu pasti ruang angkasa kosmologi, itu terjadi dengan sendirinya?

Maka teori non otomatik ini menjelaskan, bahwa adanya pencipta alam raya ini, berarti Tuhan sebagai pencipta. Maka dengan mudah teori non otomatik ini menjatuhkan teori atheis yang menyatakan Tuhan itu tidak ada. Sebenarnya ia sudah bertuhan, bertuhan akalnya ketika menyatakan Tuhan itu tidak ada, itulah yang menjadi Tuhannya.

Ketiga, Teori The Most atau paling, ter. Tinggi, Paling tinggi, tertinggi. Kuasa, paling kuasa, terkuasa. Mulya, paling mulya, termulya, hanya satu. Satu dalam artian Tuhan, Tuhan itu hanya satu, tidak dua, tidak tiga apalagi multi Tuhan. Kemudian satu dalam artian kebenaran,  yang benar itu hanya satu semuanya salah. Pasti ada satu kebenaran obyektif di antara kebenaran subyektif. Pasti ada emas diantara timah, tembaga dan besi. Pasti ada mutiara disela-sela lumpur. Pasti ada Tuhan diantara hantu-hantu. Pasti ada agama diantara gama-gama.

Kemudian yang keempat, Teori Super Nature Power. Adanya kekuatan dahsyat dibalik nature, kekuatan metafisik yang luar biasa. Contoh yang sederhana adalah ruh, yang ada pada tubuh kita. Dan ruh adalah bion yang hidup, justru jasad ini adalah bion yang mati. Mayat, bermata bertelinga berkaki tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Karena ruhnya sudah tidak ada. Berarti ruh adalah bion yang hidup, dan sampai detik ini tidak seorang profesorpun, apalagi yang awam berhasil mendeteksi daripada ruh.

Dari empat teori ini silahkan cari kitab yang dianggap suci oleh umatnya. Jika kitab itu mengandung empat teori ini, maka kitab suci itu benar-benar suci.

Baik! mungkin kita akan kehabisan waktu untuk mencari kitab-kitab suci. Jangankan kitab suci yang lain, kitab suci sendiri saja jarang kita sentuh. Kalau tidak percaya silahkan saja datang ke rumah setiap orang Islam. Ketok pintunya ucapkan salam, kemudian mintalah al-Qur’an yang ada di rumah orang Islam itu. Pegang, setelah diberikan, ucapkan terima kasih, angkat telunjuk tangan tuan-tuan. Hampir dapat dipastikan, telunjuk tangan tuan-tuan akan berdebu, why? Karena mereka jarang menyentuh al-Qur’an apalagi membacanya, wau wau wau, apalagi mengamalkannya. Bukankah amalan itu lahir dari paham, bukankah amalan itu lahir dari penghayatan, penghayatan itu lahir dari paham, paham itu lahir dari membaca dan membaca itu lahir dari menyentuhnya.

Profesor Lurth seorang ahli teokritis bangsa Rusia. Beliau mencari kebenaran melalui dua belas agama, beliau masuk agama satu, pindah ke agama yang lain, dan akhirnya beliau berhenti pada agama yang kedua belas.  Agama yang kedua belas adalah agama Islam. Mungkin tuan-tuan bertanya mengapa beliau memilih Islam sebagai agama yang kedua belas? Karena beliau paling benci dengan slam, justru karena kebencian yang luar biasa itu membuat beliau jatuh cinta dengan Islam. Karena itu ada adegium mengatakan janganlah kau benci sesuatu dengan amat sangat benci, suatu saat kau mencintainya. Atau sebaliknya, janganlah engkau mencintai sesuatu dengan amat cinta, suatu saat kau akan membencinya.

Baik! kita buktikan bahwa empat teori tadi terjawab dalam al-Qur’anul karim.

Yang pertama, Teori Relatifitas. Bahwa Tuhan itu mutlak, alam raya ini terbatas. Allah jawab dalam surah yang pendek, padat, tapi mengandung bobot tauhid yang luar biasa, surah al-Ikhlas (surah qul hu).  Mungkin diberi nama al-Ikhlas karena orang Islam paling ikhlas membacanya, bahkan kalau kita menjadi makmum, rela menjadi makmum kalau imamnya membaca surah al-ikhlas. Baik, bukan itu ternyata hikmah al-ikhlas. Al-ikhlas itu erat kaitannya dengan la ikraha fiddin, tidak dipaksa masuk agama Allah, agar seseorang ikhlas memeluk agama Allah. Sehingga dalam pelaksanaan-pelaksanaan agama Allah penuh dengan keikhlasan-keikhlasan.

Baik! Dibalik pendeknya surah al-Ikhlas ini ternyata mengandung bobot tauhid yang luar biasa. Kita buktikan teori relatifitas dijawab oleh Allah, lam yalid walam yulad, walam yakun lahu kufuan ahad.  Tidak beranak, dan tidak diperanakkan, dan tidak satu makhlukpun yang menyerupainya. Mukholafatu lilhawadits. Tidak ada satu makhlukpun yang menyerupainya.

Dan Allah juga jawab surah ar-Rahman ayat 25 dan 26, kullu man alaiha fan, wayabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikrom. Semuanya fana, kecuali Allah pengatur alam semesta ini yang baqa, kekal. Berarti manusia itu terbatas, alam itu terbatas, hanya Allah yang mutlak. Allah ada sebelum ada kata itu ada, dan Allah tetap ada sekalipun kata ada sudah tidak ada, adanya Allah karena ketiadaan makhluknya.

Kalau soal pertanyaan dimana, kapan, bagaimana, siapa yang menciptakan Tuhan? Fir’aun saja pernah naik keatas menara yang tinggi atas ide arsitek Bal’an. Diatas menara yang tinggi itu Fir’aun berteriak dengan lantang, dan ini Allah abadikan dalam surah al-bawarah ayat 55, Wa idqultum ya musa, lan nu’mina laka hatta narallah jahrah. Hai Musa aku tidak akan sekali-kali beriman kepadamu sampai aku sanggup melihat Tuhanmu dengan mata kepalaku. Mata adalah instrumen yang terbatas, sesuatu yang terbatas maka hasilnyapun terbatas. Tak usah sombong mata melihat apa yang dilihat, melihat mata itu sendiri mata tak pernah sanggup.

Berarti teori yang pertama sudah terjawab dalam surah al-Ikhlas.

Yang kedua, Teori Non Otomatik. Bahwa di muka bumi ini tidak ada yang otomatis. Masih ingat saudaraku? Cerita nabi Ibrahim AS ketika mencari Tuhan, sehingga beliau terkenal khalilullah atau kekasih Allah, karena tauhidnya yang amat luar biasa. Ini Allah abadikan dalam surah al-an’am ayat 75 sampai 79.

Ketika beliau melihat kawakib atau bintang-bintang, hadza rabbi, ini Tuhanku. Ternyata bintang-bintang itu menjelang subuh tenggelam, akhirnya nabi Ibrahim berkata, la uhibbu al-afilin, aku tidak suka dengan Tuhan yang terbatas ini. Kemudian melihat al qamar bulan, ternyata bulanpun menjelang subuh tenggelam, la uhibbu al-afilin, aku tidak suka dengan Tuhan yang terbatas ini. Kemudia melihat asy-syam matahari, hadza akbar, ini lebih besar, ternyata yang dianggap lebih besarpun menjelang Magrib tenggelam.

Akhirya  nabi Ibrahim berkata, la inlam yahdini rabbi, la akunanna min qaumi dlallin. Seandainya engkau tidak memberi petunjuk kami, niscaya kami menjadi kaum yang sesat. Dlallin bertuhan waktu, tempat, daya dan guna. Bertuhan Tuhan terbatas materialisme, sekulerisme, hedonisme. Beri petunjuk kami ya Rabb, Allah menjawab, inni wajjahtu wajjahiya lilladzi fatharas samawati wal ard. Nabiyallah Ibrahim wajahkan wajahmu kepada aku, akulah pencipta langit dan bumi.

Inni wajjahtu, tak kenal sebagai doa iftitah dalam sholat sebelum al-fatihah. Prolog sebelum berdialog, al-liqa’ qabla al-liqa’ (kata imam al-ghazali), berjumpa sebelum perjumpaan. Berjumpa Allah saat shalat, dan insyaAllah akan berjumpa setelah kita wafat. Al-khasi’ina alladzina yadzunnuna annahum mulaku rabbihim wa annahum ilaihi rajiun. Orang khusyu itu adalah dalam sholatnya seakan-akan ia berjumpa dengan Allah, sebagaimana ia akan wafat nanti berjumpa dengan Allah.

Yang ketiga, Teori The Most. Bahwa Tuhan itu hanya satu, ini Allah jawab lagi-lagi dalam surah al-Ikhlas, agar mengakui Tuhan yang satu itu benar-benar ikhlas. Qul huwallahu ahad, katakanlah Allah itu ahad. Dan tentu makna ahad berbeda dengan satu, sebab satu itu berbilang berjumlah berkali berbagi. Dua bagi dua satu; dua kurang satu, satu; satu kali satu, satu. Sementara Allah tidak berbilang tidak berjumlah dan tidak berkali, ahad. Ahad adalah esa, tunggal. Ahad, Allah ahad.

Kemudian satu dalam artian kebenaran, yang benar hanya satu, semuanya salah. Inipun Allah jawab dalam surah al-Fatah ayat 28, huwa alladzi rasulahu bilhuda wadinil haq liyudlhirahu aladdini kullih wa kafa billahi syahida. Dialah yang mengutus rasulullah SAW dengan hidayah dan agama yang benar, agar dimenangkannya, ditampakkannya kebenarannya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Inilah yang dikatakan profesor Lurth, bila engkau berfikir sungguh-sungguh, niscaya ilmumu kan memaksamu mencari Tuhan. Iqra’ baca, iqra’ teliti, iqra’ observasi, iqra’ amati bissmirabbikal ladzi kholak. Kau akan menemukan Rabb yang menciptakanmu. Man arafa nafsahu arafa rabbahu, barang siapa yang tahu dirinya maka ia akan tahu Tuhannya.

Teori yang terakhir Teori Super Nature Power yang berkaitan dengan Ruh. Allah menjawab dengan indah dalam Al-Quran Surah Al-Isra’ ayat 85. Yas aluunaka anirruh qulirruh min amri rabbi, wama utiitum illa qalila. Hai manusia Aku beri kamu ilmu qalila, sedikit, sangat amat sedikit.

Imam Ali ditanya apakah yang dimaksud dengan qalila? Imam Ali menjawab dengan analogi, telunjuk tanganmu celupkan ke lautan, angkat, setetes yang jatuh itulah ilmumu, lautan adalah ilmu al-Qur’anul karim. Lanafida albahru qabla antanfida kalimata rab walau ji’na bimislihi madada. Ditambah lagi lautan semisal berkali-kali lautanpun, kemudian pohon dijadikan pensil tidak akan bisa menulis, menjabarkan ilmu-ilmu Allah, lautan gambaran luas dan dalam.

Berarti secerdas cerdasnya manusia qalila ilmunya, amat sangat sedikit. Tentu tidak sebanding tetesan dengan air laut itu, yang sangat luas dan dalam. Kalaupun membandingkan hanya perbandingan yang bodoh dan naïf. Qalil, artinya litadh’if melemahkan. Betapa lemahnya ilmu manusia, betapa sedikitnya ilmu manusia. Karena itu Allah menyatakan; hai manusia kau bertanya soal ruh? ruh itu urusannku min amri rabbi. Kau tidak akan pernah tau bentuk daripada ruh, sebagaimana kau tidak tau kapan, dimana, bagaimana engkau mati, yang pasti engkau pasti mati.

Allahuakbar subhanallah, ternyata empat teori ini dijawab oleh al-Qur’an. Berarti ajaran al-Qur’an adalah ajaran keyakinan yang sangat obyektif dapat diterima oleh akal yang sehat. Karena terbukti melalui pengkajian-pengkajian teori obyektifitas.

Berarti mereka yang melaksanakan ajaran al-Qur’an adalah orang-orang yang cerdas dan pintar. Mereka yang bangun di tengah malam adalah orang yang cerdas, mereka yang berinfak karena mengamalkan al-Qur’an adalah orang yang cerdas, mereka yang melaksanakan ibadah haji saat ia mampu adalah orang yang cerdas. Berarti semakin maju zaman, semakin terjawab bukti-bukti kebenaran al-Qur’an. Al-Qur’an tidak pernah ketinggalan zaman, bahkan al-Qur’an menjaga zaman.  Maka jika kita meninggalkan al-Qur’an, kita akan menjadi manusia-manusia tertinggal alias manusia terbelakang.

Nah saudaraku pegang teguhlah al-Qur’an itu, sentuhlah, bacalah, pahami, hayati, amalkan. Belajar kemudian ajarkanlah al-Qur’an itu.

(Syarah Ustad Arifin Ilham; Logika Mencari Tuhan)

6 thoughts on “Agama dan Pencarian Tuhan”

  1. Saya hanya spintas aja baca tulisan mu, spintas awal dan akhir tulisan. Sy udah tau mksudnya. Coment sy, anda bukan mau mencari dan ingin mencintai Tuhan, krn anda sudah menemukannya di agamamu. Sdgkn saya tdk mau berhenti pd agama terutama samawi, bolehkan ? Apk anda ata nama Tuhanmu akan membunuh saya ? Oh… Betapa anda dan Tuhanmu sungguh kejam jika benar anda berpendpt begitu.

    1. Dalam Islam tidak ada paksaan untuk memeluk Islam atau tidak, untuk masuk Islampun butuh keyakinan yang utuh dan tidak setengah2. sebab dalam Islam penuh tanggung jawab atas yang diperbuat umatnya, entah itu yang sifatnya kepada sesama (ibadah sosial horizontal) atau kepada Tuhan (ibadah penghambaan vertical). itu semua demi kemaslahatan kehidupan manusia, bukan untuk membunuh manusia.

  2. Mengapa di negeri yg gaduh oleh spikers dari semua penjuru berasal dari mesjid, setiap minimal 5 kali sehari bersahut_sahut, ingin paling keras, sudah volume pol, vokal ngedan melengking lagi, ditambah nyanyian sblm dan sesudahnya. Tak adakah keinginan pemeluknya merevisi hal ini ? Menjadikan hidup warga disekitar mesjid terasa nyaman ? Tak adakah hak warga utk mndpkan kenyamanan terhindar dari kebisingan terus menerus seumur hidup ? Mengapa pemeluknya tidak peka, tak adakah hati nuraninya menyentuh hal itu sbg sebuah persoalan besar ?

    1. itu hanya pengingat waktu masuknya ibadah sholat, di agama lain juga banyak yang menggunakan bebunyian untuk mengingatkan waktu untuk ibadah, semacam lonceng dll, bahkan dengan nyanyian-nyanyian juga.

      jika anda tidak suka dengan hal itu, anggap saja pengingat waktu; 1) terbitnya fajar, 2) tegaknya matahari kala siang, 3) ketika bayangan matahari sejajar dengan benda, 4) ketika matahari terbenam. 5) ketika mulai waktu malam.

      jangan dijadikan beban, rubah suasana hati yang negatif menjadi positif. setidaknya kita menghormati dan menghargai keyakinan orang lain. kita hidup selalu berdampingan dengan orang lain, dan kita harus menjaga keharmonisan hubungan itu. terima kasih, jika jawaban ini kurang berkenan, hanya itu yang saya bisa curahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s