The True, Peaceful Face Of Islam*


Oleh: Karen Armstrong

Ada 1,2 miliar umat Islam di dunia, dan Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di dunia. Jika kita membuktikan kejamnya pembantaian pada 11 September dari sebuah agama, dan Islam membenarkan inspirasi dan kekerasan seperti itu, maka pertumbuhan dan meningkatnya  kehadiran Muslim di Eropa dan Amerika Serikat akan menjadi prospek yang menakutkan. tetapi, hal ini tidak terjadi.

[Kesalahan ketika memproses perintah]

Sebenarnya kata Islam, yang mana artinya “pasrah,” adalah terhubung dari kata bahasa Arab salam, atau perdamaian. Ketika Nabi Muhammad membawa (ajaran) kitab inspirasi yang dikenal sebagai Al-Qur’an untuk orang-orang Arab pada awal abad ke-7, prioritas utama dari misinya justru ditujukan untuk membawa dan mengakhiri banyaknya aksi pembantaian seperti halnya yang kita saksikan di New York City dan Washington. Arab pra-Islam yang terjebak dalam lingkaran ganasnya peperangan, di mana pertarungan antar suku dalam pola dendam dan saling balas turun menurun. Muhammad sendiri bisa hidup selamat dari beberapa upaya pembunuhan, dan komunitas Muslim awalpun lolos dari pembasmian dengan kekuatan besar dari (penduduk) kota Mekkah. Nabi harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, tetapi setelah beliau merasa orang-orangnya aman, ia mencurahkan perhatiannya untuk membangun sebuah koalisi perdamaian dari suku-suku serta meraih kemenangan melalui kampanye cerdas dan inspiratif tanpa kekerasan. Ketika ia meninggal pada tahun 632, beliau seoranglah yang dapat mengatasi membawa perdamaian dalam peperangan yang dilanda Arab.

Karena Al-Quran diturunkan dalam konteks peperangan, beberapa ayatpun berhubungan dengan pelaksanaan perjuangan para tentara. Peperangan adalah bisnis (perbuatan) yang sangat menyedihkan di Semenanjung Arab. Seorang kepala suku tidak ada harapan lain kecuali selamat setelah pertempuran, dan beberapa perintah Qur’an tampaknya berbagi semangat ini. Muslim diperintahkan oleh Allah untuk “bunuh [musuh] di mana saja kamu jumpai mereka!” (4: 89). Ekstrimis seperti Osama bin Laden suka mengutip ayat-ayat seperti itu tetapi lakukanlah dengan sangat selektif. Mereka tidak melakukan peringatan untuk perdamaian (terlebih dahulu), yang hampir dalam setiap kasus mengikuti ayat yang sangat ganas itu: (padahal ada ayat) “jadi, jika mereka membiarkan Anda, dan tidak memerangi Anda, dan memberikan Anda ketenangan, Allah tidak memberi jalan Anda untuk menyakiti “(4: 90).

Dalam Al-Qur’an, oleh karena, dibolehkannya perang hanya satu (alasan) adalah pertahanan diri. Orang Islam tidak mungkin memulai permusuhan (2: 190). Peperangan itu kejahatan, tapi kadang-kadang Anda harus berjuang untuk menghindari jenis penganiayaan (penduduk) Mekkah itu diderita kaum Muslimin (2: 191, 2: 217) atau untuk melestarikan nilai-nilai luhur (4: 75; 22: 40). Al-Quran mengutip Taurat, kitab suci Yahudi, yang memungkinkan orang untuk membalas mata dengan mata, gigi dengan gigi, tapi seperti Injil, Al-Qur’an menunjukkan jasa untuk melupakan dendam dalam semangat amal (5: 45). Permusuhan harus diakhiri secepat mungkin dan harus berhenti di menit musuh menggugat untuk berdamai (2: 192-3).

Islam tidak kecanduan perang, dan jihad bukanlah salah satu “Rukun,” atau praktik penting(agama). Arti utama dari kata jihad bukan “perang suci”, tetapi “perjuangan.” Hal ini menunjukkan betapa sulitnya usaha yang diperlukan untuk menempatkan ridlo Allah dalam praktek (ibadah) pada setiap tingkatnya – personal dan sosial serta politik. Sebuah tradisi yang sangat penting dan perkataan banyak dikutip saat Muhammad mengatakan pada sahabatnya saat mereka pulang setelah pertempuran, “Kami kembali dari jihad kecil [pertempuran] menuju jihad yang lebih besar,” tugas yang jauh lebih mendesak dan penting dari membasmi dengan membabi buta prilaku yang salah dari seseorang masyarakat dan seseorang yang memiliki hati.

Islam tidak membebankan diri dengan pedang. Dalam sebuah pernyataan menggunakan bahasa Arab sangat tegas, Al-Quran menegaskan, “Jangan sampai ada paksaan dalam agama!” (2: 256). Dengan terus menerus Muslimin diperintahkan untuk menghormati orang-orang Yahudi dan Kristen, yang “Ahli Kitab,” yang menyembah Tuhan yang sama (29: 46). Di dalam kata yang dikutip dari nabi Muhammad dalam salah satu khutbah terakhirnya pada publik, Allah memberi tahu semua manusia, “Wahai manusia Kami telah menciptakan Anda menjadi bangsa dan suku, sehingga Anda bisa mengenal satu sama lain!” (49: 13) – tidak untuk menaklukkan, mengkonversi, menundukkan, mencaci atau membantai namun untuk menggapai tujuan masing-masing dengan kecerdasan dan pemahaman.

Jadi mengapa bom bunuh diri, pembajakan dan pembantaian warga sipil tak berdosa? Jauh dari yang disetujui oleh Al-Qur’an, pembunuhan ini sangat melanggar ajaran sacral (suci). Tetapi selama abad ke-20, bentuk kesalehan militan yang sering dikenal sebagai fundamentalisme meletus dalam setiap agama besar sebagai pemberontakan terhadap modernitas. Setiap gerakan fundamentalis Saya sudah pelajari bagaimana Yudaisme, Kristen dan Islam menginsyafkan ke-liberal-an, (sedangkan) masyarakat sekuler bertekad untuk menghapus agama. Pertempuran, itulah gambaran mereka, pertempuran untuk bertahan hidup, fundamentalis acapkali merasa dibenarkan dalam mengabaikan welas asih prinsip-prinsip agama mereka. Namun dalam memperkuat diri (mereka) melebihi ayat-ayat agresif yang ada di semua kitab suci kita, mereka merusak tradisi.

Ini akan menjadi seperti kuburan kesalahan seperti diperlihatkan Osama bin Laden sebagai representasi Islam yang asli sebagai pertimbangan James Kopp, pembunuh yang dituduh penyedia aborsi di Buffalo, NY, seorang Kristen yang taat atau Baruch Goldstein, yang menembak 29 jamaah di masjid Hebron pada tahun 1994 dan meninggal dalam serangannya, seorang syahid sejati Israel. Sebagian besar orang Islam, mereka terkejut dengan kekejaman 11 September, harus mengembalikan klaim agama mereka dari orang-orang yang telah dengan keras membajak itu.

Karen Armstrong telah menulis banyak buku tentang agama, termasuk Islam.

*diterjemah oleh Rifai, dari Majalah TIME :

http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,175987,00.html#ixzz26k4VBmkT

NB: Maaf bila terjadi kesalahan, penerjemah amatiran. mohon koreksinya🙂

One thought on “The True, Peaceful Face Of Islam*”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s