Genealogi Filsafat dalam Agama Islam


Datangnya Islam melalui Muhammad di bumi Mekkah pada awal abad ke-7 Masehi, memberikan dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan kemajuan masyarakat Arab Jahili. Husein Muruwwah mencatat dan mengemukakan bahwa adanya gerakan perkembangan masyarakat Arab Jahili dengan pesatnya terjadi dalam bidang perekonomian (al-iqtishâdiyah), keadaan sosial (al-ijtimâ’iyah) dan pola fikir (alfikriyah) adalah berkat kedatangan Islam, sebuah sistem baru dalam realita masyarakat kala itu[1].

Seraya mengamini pernyataan Husein Muruwah, Doktor Ahmad Fuâd al-Ahwânî menganggap Islam sangat berperan terhadap pembangunan peradaban kepada langkah baru dalam ranah politik (as-siyasiyah), perekonomian (al-iqtishâdiyah) dan keadaan sosial (al-ijtimâ’iyah) serta pola pandang (alaqliyah) dalam bangsa Arab[2].

Dengan kemapanan peradaban Arab Islam yang digambarkan dua tokoh diatas, sebuah gambaran jika bangsa Arab Islam memiliki kekuatan dan potensi tersendiri untuk mengembangkan diri serta melakukan persaingan kejayaan peradaban dan kebudayaan, tentunya dengan daerah-daerah yang kala itu sudah memiliki peradaban dan kebudayaan yang maju sebelum Islam datang memajukan peradaban bangsa Arab.

Imperium Romawi dan Persia adalah dua bangsa yang memiliki peradaban lebih mapan jauh sebelum peradaban Arab Islam. Abid Jabiri melihat Arab, Persia dan Romawi[3] merupakan tiga model bangsa yang memiliki metode pencapaian tersendiri dalam menciptakan pengetahuan[4] dalam membentuk peradaban dan kebudayaannya kala itu.

Bahkan ketiga peradaban itu saling bersentuhan dan berakulturasi serta saling mempengaruhi di berbagai bidang kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Arab Islampun mulai mengembangkan diri dan memperluas daerah kekuasaannya untuk mempengaruhi bangsa lain.

Doktor Ahmad Fuâd al-Ahwânî mengakui jika Islam Arab dapat meruntuhkan perdaban Persia dan Romawi, dan melenyapkan kepemerintahan Persia sehingga dikuasi Islam. Kemudian meluaslah kejayaan peradaban Islam hingga menguasai Palestina, Syam dan Mesir hingga Afrika Utara. Bahkan kekuasaan Islam mengembangkan hingga Andalusia sebelah Barat Daya daerah Eropa, dan peradaban Islam tumbuh pesat di Kordoba dan Granada serta daerah lainnya. Sedangkan persaingan kemajuan antara Damaskus Baghdad dan Kairo terjadi di daerah Islam bagian timur[5].

Bila diresapi akulturasi eratnya hubungan kebudayaan ketiga peradaban ini, dalam bidang pengetahuan dan keilmuan memiliki porsi tersendiri yang efeknya terasa hingga saat ini, disamping persaingan kekuasaan politik dan perekonomian.

Islam Selain penalaran intelektualitas dalam Islam sudah ditanamkan oleh nabi Muhammad dengan segala petunjuk wahyu yang memerintahkan manusia untuk selaku berfikir dan memanfaatkan nalar akalnya, semisal ayat surat an-Nahl :164, Âli ‘Imrân : 190 serta an-Nisâ’ : 53, tentunya banyak lagi ayat dan hadits yang sering digunakan umat muslim sebagai dalil normatif dalam berdakwah dan mengajak umat untuk berfikir.

Tapi dalam tubuh umat Islam sebenarnya pemikiran dan keilmuan didalamnya tumbuh berkembang sejak terjadinya percekcokan internal mengenai aqidah dalam menghukumi kekafiran, yang kemudian berkembang menjadi ilmu kalam dan menjadi madhab teologi sepertihalnya Khowarij, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Lebih dari itu Muhammad Ghilab dosen filsafat di Fakultas Ushuludin Universitas al-Azhar yakin, bila dalam sejarah Arab hadirnya ilmu kalam pada awal perkembangan Islam, yang mensinergikan kinerja akal dalam berlogika untuk mencari kebenaran, merupakan langkah awal lahirnya filsafat di Arab dengan adanya ilmu kalam ini[6].

Hingga akhirnya filsafat dalam Islam/filsafat Islam mulai terkonstruk setelah pemikir Islam bersentuhan dengan buah kebudayaan Yunani, yakni karya-karya agung filosof Yunani seperti Plato dan Aristoteles yang banyak diganderungi oleh filosof Islam.

Penerjemahan karya filosof Yunani terbilang marak pada masa kekhilafahan Abbâsiyah di Baghdad, terutama pada masa al-Ma’mun yang sangat suka kepada filsafat, kemudian diteruskan al-Mu’tasim Billah hingga anaknya Ahmad bin Mu’tashimpun diajari filsafat kepada al-Kindî. Al-Kindî adalah tokoh yang tercatat sebagai tokoh yang banyak memperkenalkan filsafat Yunani kedalam dunia Islam, bahkan mendedikasikan karyanya Falsafah alÛlâ serta risalah-risalahnya kepada Ahmad bin Mu’tashim[7].

Felix Klein-Franke dosen Universitas Hebrew di Yerusalem spesialis sejarah Islam dan filsafat menyatakan bahwa, jasa al-Kindîlah yang membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan yang telah membangun fondasi filsafat Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian diantaranya diteruskan oleh oleh al-Farâbi[8].

Benar pernyataan syeikg Ghilab diatas, bahwa filsafat di Arab awal kelahirannya dengan adanya ilmu kalam. Bahkan Mu’tazilah memang padamulanya sebagai madhab kalam yang cederung menggunakan penalaran akalnya tetapi itu hanya digunakan untuk berfikir masalah ketuhanan saja. Lain halnya dengan filsafat, yang memanfaatkan kinerja akal dan tidak terpaku kepada permasalahan ketuhanan/teologi yang banyak diperdebatkan oleh para mutakallimin, atau peramasalahan metafisika dalam istilah Filsafat.

Maka tak salah bila Husein Muruwah menyebut bahwa al-Kindi adalah pemikir Arab pertama yang meletakkan landasan pengetahuan kepada perkara yang lebih luas, dan membuka pemikiran umat Islam yang baru kepada wawasan pengetahuan filsafat sesuai maknanya yang luas dan tidak hanya yang berhubungan pembahasan Tuhan saja. Begitu juga dengan penasbihannya sebagai filosof Arab atau filosof Islam pertama. [9]

Perkembangan filsafat Islam memiliki ruang bagi keberlangsungan keilmuan Islam, bahkan tokoh-tokoh filusuf Islam memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Lain halnya dengan para ahli kalam (mutakallimin) serta fuqohâ’ yang berkecimpung hanya berkutat pada permasahan internal dan peribadatan serta ilmu kaidah-kaidah dalam permasalahan keagamaan/ketuhanan (metafisika), para filusuf Islam memperluas sepakterjangnya tidak hanya permasalahan metafisika melainkan ilmu-ilmu humaniora kemanusiaan serta ilmu alam (fisika) dsb.

al-Kindi sendiri sebagai tokoh filsafat Islam pertama merupakan seorang ahli astronomi, matematika selain ahli ilmu kedokteran. Bahkan rata-rata filosof Islam bisa menguasai ilmu kedokteran terutama ibn Sina yang sudah merampungkan buku Qanun fi Thib-nya dan menjadi rujukan ilmu kedokteran dan dikembangkan di dunia Barat/Eropa. al-Fârobi sang penerus khazanah filsafat Islam merupakan tokoh yang membumikan ajaran filsafat kedalam hubungan kemanusiaan dengan menggunakan pendekatan Aristotelean terhadap psikologi dan politik dalam karyanya Madinah Fâdilah dan Siyasah Madinah-nya.

Tokoh-tokoh diatas merupakan kekayaan yang dimiliki khazanah Islam dalam filsafat di Masyriq. Begitupula dengan sepakterjang filusuf Islam di Maghrib/Andalusia Ibn Bajah, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd yang merupakan sebuah mata rantai dari filosof Islam di Masryiq.

Bahkan Abid Jabiri berani menyatakan secara dhohir hubungan antara kedua aliran filsafat diatas, merupakan manifestasi atas terbentuknya khazanah yang dikenal dengan istilah “Filsafat Islam” atau “Filsafat dalam Islam”. Walaupun beliau juga mengakui bahwa pengejawantahan dua aliran filsafat ini, memiliki metode dan pemahaman dalam permasalahan epistemologi yang berbeda.[10] Sebab memang banyak teori-teori hasil pemahaman filosof Islam Masyriq banyak yang dikritisi dan dibenahi oleh filosof Islam Maghrib.

Pembenahan filsafat Islam Maghrib diawali oleh ibn Bajah yang memapankan peranan filsafat dalam aspek kemanusiaan, dalam artian membahas seluk beluk sistem tatanan manusia dalam sebuah kelompok yang menjadi kesatuan bermasyarakat. ini penyempurnaan dari Filsafat Masyriq al-Fârobi dalam Madinah alFâdilahnya, kepada Tadbir alMutawahidnya ibn Bâjah. Sebagaimana yang diungkapkan Atif Iroqi, sesungguhnya esensi kemanusiaan dalam in bajah menunnjukkan lebih jelas dari esesnsi kemanusiaannya al-Farobi dalam Madinah alFadilahnya.[11]

Sedangkan penyempurnaan pandangan filsafat kaitannya dengan pembahasan aspek ketuhanan, yang membahas masalah metafisika zat Tuhan dan kaitannya dengan syari’at/teologi. Kemapanan filsafat ini terdapat pada ibn Rusyd yang berhasil menyandingkan filsafat dengan syari’at di Fashl Maqol-nya, dan meluruskan tuduhan kekafiran para filosof yang dikafirkan oleh imam Ghozali dalam TahafutTahafut-Nya. Dan itu berkat petunjuk gurunya ibn Thufail yang belum berhasil melakukan hal itu, dengan menyuruh ibn Rusyd mendalami filsafat Aristoteles, hingga ibn Ruysd menjadi orang terkemuka dalam menjelaskan filsafat Aristotelean. Berikut nasehat ibn Thufail kepada muridnya ibn Rusyd :

Abu Bakar ibn Thufail, pada suatu hari, memanggilku dan bercerita kepadaku bahwa ia mendengar Amirul Mukminin mengeluh tentang keterpenggalan cara pengungkapan Aristoteles -atau penerjemahannya- dan, akibatnya, maksudnya kabur. Ia mengatakan bahwa jika ada seseorang yang membaca buku-buku ini kemudian dapat meringkasnya dan menjernihkan tujuan-tujuannya, setelah pertama-tama memahaminya sendiri secara seksama, orang lain akan mempunyai waktu yang longgar untuk memahaminya.

 “kalau kamu mempunyai kesempatan,” Ibn Thufail menasehatiku, “lakukanlah itu. Aku percaya kamu bisa, karena aku tahu engkau mempunyai otak yang cemerlang dan watak yang baik, dan betapa besar rasa pengabdianmu pada ilmu itu. Kamu tahu bahwa usia tuaku, jabatanku -dan komitmenku pada tugas lain yang aku kira jauh lebih vital- yang menyebabkan aku tidak dapat melakukan sendiri hal itu.[12]

Gambaran diatas merupakan sebuah tanda betapa besarnya khazanah filsafat dalam Islam, bahkan banyak ilmuwan barat belajar kepada kepada filosof muslim semacam ibn Bajah hingga dijuluki Avempace dan ibn Rusyd dengan sebutan Averrose-nya hingga Atif Iroqi berani menyebutnya sebagai filosof Arab dengab ruh Barat. Tapi sayangngya banyak ajaran filosof muslim jarang terdengar didalam dunia muslim sendiri.


 

[1] Husein Muruwah, an-Naj’ât al-Mâdiah fi al-Falsafah al-‘Arobiyah – al-Islâmiyah. JilidI. Lebanon: Dar al-Farabi, 2002. Hal: 374.

[2] Ahmad Fuad al-Ahwani, Fi Âlimi al-Falsafah. Kairo : al-Hai’ah al-Mishriyah al-Âmah, 2009. Hal: 53.

[3] Abid jabiri menyebut Yunani dan Rum (Romawi) sebagai al-‘Ajam. Lihat; Nahnu Wa at-Turâts; Qirâ’ât Mu’âshiroh fi Turâtsinâ al-Falsafî, Beirut: Markaz Dirâsât al-Wahdah al-‘Arobiyah, 2006. Hal: 67.

[4] Abid jabiri. Nahnu Wa at-Turâts; Qirâ’ât Mu’âshiroh fi Turâtsinâ al-Falsafî. Hal: 67.

[5] Ahmad Fuad al-Ahwani, Fi Âlimi al-Falsafah. Kairo : al-Hai’ah al-Mishriyah al-Âmah, 2009. Hal: 53.

[6] Muhammad Ghilab, al-Kalam wa al-Mutakallimun, Kairo: hadiah majalah al-Azhar, 2010. Hal. 3.

[7] Husein Muruwah, an-Naj’ât al-Mâdiah fi al-Falsafah al-‘Arobiyah – al-Islâmiyah. JilidIV. Lebanon: Dar al-Farabi, 2002. Hal: 16.

[8] Felix Klein-Franke. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam; Al-Kindî. Bandung: Mizan Media Utama, 2003. Hal: 209.

[9] Lihat : Tulisan Husein Muruwah pembahasan Filosof alArab dalam kitabnya, an-Naj’ât al-Mâdiah fi al-Falsafah al-‘Arobiyah – al-Islâmiyah. JilidIV. Hal: 17-18.

[10]  Abid jabiri. Nahnu Wa at-Turâts; Qirâ’ât Mu’âshiroh fi Turâtsinâ al-Falsafî. Hal: 270

[11] Atif Iroqi, Ibn Rusyd Fîlusûfân ‘Arobian Birûhi Ghorbiyah. Kairo : Dâru Mishr al-Masruhah, 2008. Hal : 121

[12]

 

One thought on “Genealogi Filsafat dalam Agama Islam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s