Al-Azhar dan Keilmuan Islam


Oleh; Rifai

Al-Azhar sebagai institusi keilmuan tertua Islam Sunni, mengajarkan para sarjananya untuk menggunakan metodologi ilmiah dalam menjaga dan memperkuat kazanah keilmuan Islam, sehingga bisa disebut sebagai alim/ulama. Tapi tidak hanya di situ, al-Azhar mengajarkan untuk menjadikan ilmu agama sebagai sebuah kesadaran yg ditransformasikan menjadi laku. Menjadikan ilmu agama tidak hanya sebagai obyek tapi juga subyek. Di sini akan menuntut sarjana Islam selain menjadi ulama juga sebagai amil.

Oleh karenanya, para masayikh tak bosan menganjurkan para muridnya untuk menggunakan mazhab  akidah Asy’ari dan Maturidi, fikih 4 mazhab, serta mazhab tasawuf moderat yg mengintegrasikan ilmu dan amal, syariat dan hakikat sebagaimana tasawwuf Imam Ghazali. Dengan mazhab itu seorang sarjana Islam dituntut bisa membuktikan secara ilmiah epistemologi keilmuan Islam yg tekonstruk secara kokoh. Selain menjadikan sebagai kesadaran laku keislaman pada dirinya.

Hal ini yg menjadikan al-Azhar bisa mempertahankan jati dirinya sebagai menara ilmu dan institusi keilmuan tertua Islam Sunni. Di tengah pengaruh keilmuan Barat yg hanya memuaskan diri dengan metodologi. Dan sebagian kelompok Islam yg berusaha meruntuhkan bangunan budaya keilmuan Islam, dengan semangat pembaharuan liberalis dan ada juga semangat mengembalikan kejayaan Islam awal para fundamentalis.

Kairo, Rabu 24 Juli 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s