SANTRI DAN JIHAD


Oleh: Rifai

Santri-Untuk-NegeriHari Santri Nasional sudah diresmikan tanggal 22 Oktober, syukur dan alhamdulillah. Salah satu momen besar yang menjadikan hari santri patut diperingati adalah semangat nasionalisme yang ditanamkan pada kaum santri dalam melakukan perang terhadap simbol-simbol dan budaya penjajahan Belanda, hingga lahirnya resolusi jihad yang digaungkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari.

Penting dalam memperingati hari santri untuk menegaskan kembali jati diri seorang santri. Jika Nabi Muhammad ketika pulang dari perang mengatakan, kita telah pulang dari jihad kecil menuju kepada jihad yang besar yaitu melawan hawa nafsu. Maka sejarah perjuangan nasionalisme santri melawan penjajahan belanda dan resolusi Jihad, yang tergambarkan di atas merupakan sedikit cerminan identitas seorang santri.

Lebih dari itu, jati diri santri tercermin dengan dua elemen penting yang tanpanya tak akan sempurna kata santri diucapkan: pertama, seorang santri adalah penuntut ilmu (tholibul ilmi). Dimanapun letaknya seorang santri adalah sebutan bagi seorang yang belajar ilmu agama kepada kiai/ulama, dan tempatnyapun dinamakan pesantren. Dari hal ini, hakikat dari santri adalah seorang yang mencari ilmu dan membebaskan dirinya dari kebodohan. oleh karenanya jihad yang paling besar bagi seorang santri adalah melawan kebodohan dan penjajahan merupakan simbol dari kebodohan yang nyata.

Dari poin ini santri harus memiliki gairah mencari ilmu yang besar akademik maupun non akademik. Tergambar kaum santri saat ini sudah banyak yang memiliki gelar kesarjanaan, dari sekedar sarjana, master hingga yang berlabel doktoral. Hal ini membuktikan santri harus berpikir secara ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan. Sebab ulama-ulama terdahulupun, selalu mengajarkan untuk melakukan kajian dan analisa yang mendalam untuk membedah dan mendedah teks teks agama. Sehingga budaya keilmuan Islam berkembang dan terjaga. lebih dari itu poin utama dari seorang santri agar menjadi seorang yang berilmu, alim.

Kedua, seorang santri terkait erat dengan kata etika (akhlak). Kenapa santri terkait erat dengan etika? setiap orang tua yang menyerahkan anaknya kepada kiai untuk dididik, sudah menjadi rahasia umum tujuan utamanya agar memiliki akhlak yang mulya sesuai dengan ajaran Islam, ‘innama buitstu li utammima makarimal ahklak’. Jadi tugas kiai yang paling utama selain mengajari ilmu agama kepada santri, adalah mengajari akhlak. Dengan etika santri bisa mengatahui bagaimana berhubungan dengan Tuhannya dan dengan manusia sekitarnya, termasuk kepada para kiai dan guru, bahkan dengan hewan dan tumbuhan. Etika berhubungan dengan Tuhan, menjalankan perintah syariat dengan ketat tidak melalaikan. Etika menghormati guru dan orang yang lebih tua, serta mengasihi yang lebih muda. Dan menyayangi tumbuhan juga hewan.

Moral dasar yang ditanamkan kepada santri ini tentu untuk memanusiakan manusia dan menuhankan Tuhan dengan cara yang benar. Sehingga santri menjaga ketat etikanya ketika beribadah dan berprilaku yang baik, terhindar dari prilaku-prilaku amoral yang dapat menurunkan muruwah baik yang tertanam dalam jati diri. Sehingga santri bisa hidup dengan baik, karena Jihad yang paling utama adalah bagaimana hidup dengan baik di jalan Tuhan, dan itu lebih sulit daripada mati di jalan Tuhan.

Dua elemen ini, ilmu dan etika saling melengkapi antara satu dan lainnya. ilmu tanpa etika akan serampangan dalam implementasi dan sia sia, sedangkan etika tanpa ilmu akan buta. Oleh karenanya, santri dituntut menjadi seorang yang alim juga amil, memiliki ilmu dan mengimplementasikan dengan baik.

Selamat Hari Santri Nasional.
Kairo, 22 Oktober 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s